Selasa, 23 Desember 2014

Pencitraan Gaya Baru Dengan Bagi-bagi Uang Ratusan Juta



WARA - Belakangan ini publik sedikit dikejutkan dengan aksi Jokowi bagi- bagi uang di sela-sela waktu blusukannya. Uang yang di bagikan bervariasi jumlahnya. Seperti di Banjarnegara Jokowi berikan bantuan 20 juta dan di Nusa Tenggata Timur (NTT) Jokowi di kabarkan bagi uang sampai ratusan juta. Terhitung sebanyak dua kali, Jokowi membagi uang tunai. Yang pertama sebesar 112 juta, yang kedua 148 juta. Wow!

Jokowi yang dulunya ngaku miskin sehingga publik simpatik, eh, ternyata orang kaya. Tapi kaya atau miskin Jokowi sepertinya isu yang sudah tidak penting lagi untuk di ulas. Yang penting diulas adalah tentang citra Jokowi yang sudah anjlok. Dan berikut ini beberapa bukti yang ada.

Mahasiswa Selalu Demo Untuk Sambut Kedatangan Jokowi
Pilar demokrasi yang bernama mahasiswa selalu melakukan demo ketika Jokowi datang. Di beberapa kota besar selalu terjadi hal tersebut. Bahkan sudah menelan korban karena tindakan represif aparat kepolisian, sampai nyawa melayang. Anehnya, Jokowi dengan mudah mengatakan: “Bukan Urusan Saya.”.

Jika mahasiswa sudah turun kejalan secara masif, maka ini pertanda bahwa ada yang salah dengan pemerintahan Jokowi. Ingat, 1998 mahasiswa-lah yang berperan lengserkan Soeharto.

Rupiah Anjlok
Ramalan pengamat masa pilpres 2014 dulu yang menyatakan bahwa dolar AS bisa menyentuh angka Rp.10.000 jika Jokowi Presiden adalah sebuah penyesatan kepada publik. Faktanya, rupiah semakin terpuruk menyentuh angka Rp. 13.000.

Hal ini menandakan bahwa Jokowi bukan pemimpin yang mempunyai pengaruh terhadap perbaikan ekonomi Indonesia. Malah sebaliknya, Jokowi adalah orang yang telah menghancurkan sendi-sendi perekonomian Indonesia melalui kebijakan – kebijakannya yang tidak pro rakyat salah satunya seperti mencabut subsidi BBM. Ketika harga BBM melambung, maka harga bahan pokok pun ikut melambung juga.

Rakyat Semakin Sengsara
Kado akhir tahun 2014 dan awal tahun 2015 dari Jokowi sangat memukul rakyat kecil. Bukan saja BBM yang naik, tarif dasar listrik (TDL) akan naik, ongkos transportasi kereta api, angkot, dan semua juga naik. Sementara pendapatan rakyat kecil segitu-gitu saja.

Belum 100 hari Jokowi jadi presiden, rakyat semakin sengsara. Inikah yang dinamakan harapan baru? Ternyata tidak. Jokowi lebih dikenal sebagai pendusta, penipu, pembohong, tukang kibul, pengkhiat rakyat. Janji yang di janjikan Jokowi hanyalah tong kosong. Anehnya lagi, sudah ketahuan menipu, Jokowi masih juga ‘ngeles’. Presiden yang aneh!

Sebenarnya ada banyak lagi tentang faktor yang menjadi penentu anjloknya citra Jokowi. Dan mungkin rakyat sudah pada tahu akan hal itu, kecuali rakyat yang di butakan matanya, di tulikan telinganya dan di kunci mati hati nuraninya.

Nah, korelasi anjloknya citra Jokowi dengan aksi Jokowi bagi – bagi uang sepertinya sangat terhubung. Dan ini adalah sinyal bahwa Jokowi buat gaya baru untuk menaikkan citra kembali. Tidak tahu uang apa yang di bagikan Jokowi, halal atau haram sepertinya rakyat tidak mau tahu akan hal itu. Yang ada, Jokowi bagi – bagi uang di saat rakyat sedang kesusahan dan membutuhkan uang bisa di katakan ‘ide brilian’ atau juga ‘licik’ untuk sebuah pencitraan. Pasalnya, dengan Jokowi jadi presiden mana mungkin akan blusukan masuk ‘got’ seperti waktu Gubernur dulu. Turun dari mobil, langsung bagikan uang sepertinya gaya baru pencitraan Jokowi.

Lalu, apakah gaya baru pencitraan Jokowi ini bisa berhasil memulihkan citranya kembali? Biarlah waktu yang menjawabnya. Mungkin dengan uang ratusan juta yang di bagi-bagikan dalam amplop warna coklat itu, bisa merubah Jokowi yang sudah di cap penipu oleh rakyat berubah menjadi jadi manusia yang jujur. Kita tunggu saja. [Syafrida]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar