Kamis, 18 Desember 2014

Issei Sagawa, Manusia Kanibal dari Keluarga Kaya yang Bebas Hukum



Tokyo - WARA - Rupanya memang benar, berbekal pendidikan memadai dengan kemampuan intelektual yang sangat baik serta lahir dari keluarga kaya raya ternyata tak menjamin seseorang untuk selalu berbuat baik. Tengok saja, Issei Sagawa, pria cerdas keturunan keluarga kaya di Jepang dengan keji membunuh temannya sendiri.

Lebih kejam dari itu, Sagawa ternyata memakan wanita cantik yang telah dibunuhnya tersebut. Renee Hartevelt, sang korban, merupakan teman kelas Sagawa sendiri.

Setelah terbukti bersalah melakukan pembunuhan tersebut di Paris pada 1981, Sagawa tak segang-segan mengakui perbuatannya. Dia mengaku telah menembak kepalanya dan memakan sebagian anggota tubuh Hartevelt.

Yang menjadi kontroversi dari kasus tersebut, adalah keluarga Sagawa berhasil membebaskan dia dari segala hukuman. Mengapa Sagawa bisa dinyatakan bebas?

Berikut ulasan singkat kasus pembunuhan dan kanibalisme yang dilakukan Sagawa seperti dikutip dari The Richest, Japan For The Uninvited, dan The Crime Library serta sejumlah sumber lain, Rabu (17/12/2014):

Pendidikan tinggi Issei Sagawa
Issei Sagawa lahir prematur di Tokyo pada 1949. Sagawa merupakan anak dari keluarga super kaya yang mendapat perhatian penuh dari ayah dan ibunya.

Sagawa merupakan pria pendek dengan tangan dan kaki yang terbilang kecil untuk pria berusia 20 tahunan. Bahkan suaranya terdengar seperti wanita .

Dengan kemampuan intelektual yang sangat tinggi, Sagawa dengan mulus merampungkan gelar sarjana di jurusan Sastra Inggris, Wako University di Tokyo. Pada 1997, di usia ke-28, Sagawa melanjutkan studinya ke luar negeri.

Dia memilih Paris untuk mendapatkan gelar PhD. Di sanalah dia bertemu dengan Hartevelt yang kemudian menjadi korban dari segala kekejian dan obsesi kanibalismenya sejak masih remaja.
Membunuh dan Memakan Wanita Cantik
Dengan tubuh yang kurang menarik bagi para wanita, Sagawa terobsesi dengan wanita cantik. Gejala dari obsesi tersebut ditunjukkan sejak dia masih berusia remaja.

Sagawa mengaku selalu ingin memakan wanita cantik yang ditemuinya di mana saja. Sagawa pernah mencoba merealisasikan fantasinya dengan masuk secara diam-diam ke apartemen dosennya di Tokyo.
Dosen asal Jerman tersebut memang telah membuat Sagawa tergila-gila. Namun aksi tersebut gagal saat dosen tersebut terbangun dan berteriak membuat Sagawa ketakutan.

Kejadian tersebut justru semakin menambah hasratnya pada wanita cantik. Obsesi tersebut dibawanya ke Paris dan membuatnya jatuh cinta pada teman sekelasnya.

Di Paris, dia bertemu dengan gadis asal Belanda, Renee Hartevelt. Kulitnya yang putih dengan lekuk tubuhnya yang sempurna membuat Sagawa tergila-gila.

Setelah berhasil membujuk Hartevelt datang ke apartemennya untuk belajar bersama, Sagawa langsung melancarkan aksinya. Dia lantas menembak Sagawa dan memakan anggota tubuhnya selama dua hari.
Sisa tubuhnya lantas hendak dibuang ke danau saat polisi berhasil membekuk Sagawa.
Akui kesalahan, Sagawa Dibebaskan
Setelah dibekuk polisi, Sagawa mengaku telah membunuh dan memakan bagian tubuh Hartevelt. Mengetahui anaknya tersangkut kasus pembunuhan, ayah Sagawa yang kaya raya lantas membayar pengacara handal di Paris.

Dengan alasan gangguan jiwa, Sagawa lantas dibebaskan dari segala tuduhan dan hukuman. Itu setelah Sagawa menjalani sejumlah tes mental dan psikologis.

Setelah dibebaskan dari hukumannya, dia menjadi selebriti di Jepang setelah mempublikasikan buku mengenai pembunuhan yang dilakukannya. Sagawa kini tinggal di Tokyo dan kebebasannya masih sangat kontroversial hingga saat ini. (Liputan6.com)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar