Senin, 29 Desember 2014

ISIS Paling Besar, Kaya, dan Brutal dari Kelompok Teroris Manapun


Kelompok pejuang Muslim ISIS yang bertujuan mendirikan negara Islam di Suriah dan Irak. (sumber: The Telegraph)

Jakarta - WARA - Dalam persepsi Amerika Serikat (AS) seta sekutunya, ancaman kelompok teroris tak akan pernah berhenti bahkan meningkat dalam beberapa tahun terahkir. Sementara kelompok-kelompok "lama" seperti al-Qaeda, al-Shabab di Etiopia atau Boko Haram di Nigeria yang frontal menentang dan menyerang kepentingan dan kebijakan AS dan sekutunya tetap berlangsung, ancaman baru muncul akibat ketidakstabilan politik di wilayah Timur Tengah. Perebutan tampuk kekuasaan pemerintah dijadikan momen yang tepat bagi sempalan atau kelompok teroris baru menunjukan identitasnya.


Salah satunya adalah konflik horizontal di Suriah dan Irak yang menyebabkan kevakuman pemerintah. Kondisi ini dimanfaatkan betul bagi kelompok-kelompok militan untuk bangkit. Di antaranya yang paling mengguncang dunia adalah kelompok Islamic State in Iraq and al-Sham (ISIS) yang kemudian hari lebih populer dengan sebutan Islamic State (IS).

ISIS bukanlah "pemain" baru. Pelopornya adalah Ahmad Fadl al-Nazal al-Khalayleh alias Abu Musab al-Zarqawi yang mendirikan kelompok Jama‘at al-Tawhid wa al-Jihad (JTWJ) sekitar tahun 1992.

Zarqawi mendirikan kelompok baru ini setelah mendapat restu dari pemimpin al-Qaeda dan mendapat pinjaman dana sebesar US$200,000 (Rp 2.4 miliar) untuk mendirikan kamp latihan. Kelompok Zarqawi selanjutnya mengalami evolusi selama 15 tahun, yang dulu hanya sekelompok puluhan orang sekarang meluas hingga ribuan anggota dan kekuasannya melintas batas negara. Data terbaru menyebutkan kekuasaan IS membentang seluas 423 mil di Irak dan Suriah.

ISIS secara resmi dideklarasikan pada 29 Juni 2014 oleh Ibrahim Awwad Ali al-Badri al-Samarrai alias Abu Bakr al-Baghdadi. Sebagai penanda eksistensinya pada dunia internasional, ISIS melakukan serangan cepat ke Mosul pada Juli 2014 yang mengakibatkan ribuan suku Yazidi mengungsi.

Hal ini mengundang keprihatinan PBB dan sejumlah negara yang akhirnya memicu serangan dari udara dan laut yang dipelopori Amerika Serikat (AS). Intenvensi AS ini kemudian didukung sejumlah pihak yang melibatkan pasukan lokal seperti pasukan pemerintah Suriah dan Irak. Kelompok-kelompok atau suku di kawasan regional yang merasa terancam oleh ISIS seperti Suku Kurdi di Turki pun ikut bergabung melawan ISIS. Hingga sejumlah negara di Eropa dan Arab beramai-ramai bergabung dengan AS memborbadir ISIS.


Kekuatan ISIS diperkirakan berjumlah 31.000-an tentara dengan pasukan intinya mencapai 20.000-25.000-an. Disebut pasukan inti karena merekalah yang menjunjung tinggi dan melaksanakan ideologi ISIS secara konsisten. Dengan paham yang radikal, ISIS secara cepat mampu menguasai kehidupan sosial politik masyarakat yang wilayahnya dikuasai. Melalui intimidasi langsung dan tak langsung, serangan gerilya, eksekusi, penyusupan, dan teknik penyerangan yang ortodoks ISIS mampu mengalahkan pasukan pemerintah dan kelompok lainnya yang bersebarangan.

Menurut The Syrian Observatory for Human Rights, sejak Juni 2014, ISIS telah mengeksekusi hampir 2.000 orang. Setengahnya merupakan warga sipil Sunni.

Banyak pihak yang mengklaim kekuatan ISIS lebih besar dan profesional ketimbang al-Qaeda. Salah satunya dinilai dari struktur organisasi dan birokrasi yang tersusun lebih baik. Pemerintahan kecil tersebut bertugas memikirkan rencana jangka panjang ISIS, salah satunya memikirkan bagaimana mencari dana untuk biaya operasinya.

Dibandingkan al-Qaeda yang mengumpulkan dana melalui cara tradisional seperti donasi atau sumbangan anggota dan simpatisannya, ISIS lebih terbuka. Mereka terang-terangan menjual hasil sumber alam dan apapun yang bisa dijual yang berada dalam wilayah kekuasannya ke pasar gelap. Misalnya minyak mentah, gas, hasil pertanian, atau benda-benda antik dan bersejarah. ISIS juga menjual atau meminta tebusan terhadap tahanan yang mereka sekap. Bahkan tahanan yang sudah mati pun mereka jual.

Pendapatan lainya diperoleh melalui pajak, donasi, dan pencucian uang. Hingga September 2014, ISIS diperkirakan bisa meraup dana sebesar US$2 juta (Rp 24 miliar) per harinya. Pendapatan tersebut menjadikan ISIS sebagai kelompok teroris paling kaya sedunia.



Hal lainnya yang menunjukkan ISIS lebih besar dari al-Qaeda adalah proses rekrutmen anggotanya. ISIS dinilai lebih terbuka soal keanggotaan. Mereka tidak cuma merekrut orang-orang yang berada di wilayah konflik di Timur Tengah tapi juga orang-orang di dunia Barat, Asia, Eropa, Australia, hingga AS. Hal inilah yang membuat AS dan Inggris pernah menyatakan kesulitan untuk melacak anggota ISIS.

Kunci kesuksesan dari rekrutmen ini salah satunya melalui sosial media seperti Twitter. Dari sekian banyak akun Twitter simpatisan ISIS, yang paling berpengaruh adalah akun bernama Shami Witness. Adminnya yang dikenal dengan nama Mehdi Masroor Biswas awal bulan lalu ditangkap di India. Mehdi merupakan seorang pebisnis di level top manajemen sebuah perusahaan India.

Sebelum ditangkap, di sela-sela pekerjaannya, ia bertindak seperti desk information ISIS. Mehdi menjadi jembatan informasi bagi semua simpatisan dan orang-orang yang penasaran menjadi anggota IS. Ia mem-posting paham dan ratusan berita propaganda ISIS setiap harinya. Dengan follower yang mencapai 70.000-an, Mehdi menjadi aktor penting dalam rekrutmen anggota ISIS khususnya yang berasal dari luar wilayah Timur Tengah. Menurut CIA jumlah "bule" anggota IS sekitar 2.000-an.

Dari ribuan anggota ISIS dari seluruh dunia, puluhan di antaranya berasal dari Indonesia. Bahkan Indonesia dengan Malaysia punya satuan tempur tersendiri di ISIS dengan nama Katibah Nusantara Lid Daulah Islamiyyah. Unit ini terbentuk berdasarkan kesamaan bahasa yang digunakan dengan anggotanya diprediksi mencapai 22 orang.

Indonesia secara tegas menolak kehadiran ISIS dan pahamnya. Sebelum pergantian kabinet, mantan Menteri Politik, Hukum, dan HAM Djoko Suyanto menegaskan paham ISIS tidak sesuai dengan Pancasila dan Bhenika Tunggal Ika. Begitu juga ormas Islam seperti Dewan Masjid, GP Ansor, PBNU, Muhammadiyah, dan MUI menolak keras paham ISIS karena ideologinya bertentangan dengan ajaran Islam. (BeritaSatu)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar