Selasa, 13 Januari 2015

Pemimpin Dunia Hadiri Aksi Jutaan Orang Mengutuk Terorisme di Paris


Sejumlah pemimpin dunia ikut aksi menolak terorisme di Paris, Minggu (11/1/2015). Adapun pemimpin yang terlihat dalam foto ini di antaranya adalah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, Presiden Perancis Francois Hollande, Kanselir Jerman Angela Merkel, Presiden Palestina Mahmud Abbas, dan Raja Jordania Abdullah II.

Paris - WARA - Lebih dari satu juta orang 'membanjiri' kota Paris, Minggu (11/1/2015) untuk mengutuk aksi terorisme. Isu terorisme kembali muncul di Perancis, setelah penembakan di kantor majalah satir Charlie Hebdo yang menewaskan 12 orang, termasuk pemimpin redaksi, Stephane Charbonnier (47).
 
Tidak hanya jutaan rakyat Perancis, aksi solidaritas ini juga diikuti sejumlah pemimpin dunia. Adapun pemimpin dunia yang hadir dalam aksi ini di antaranya adalah Presiden Perancis Francois Hollande, Perdana Menteri Inggris David Cameron, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat John Kerry, Kanselir Jerman Angela Merkel, Presiden Dewan Eropa Donald Tusk, Ratu Rania Abdullah dari Jordania, Perdana Menteri Turki Ahmet Davutoglu, hingga Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden Palestina Mahmoud Abbas.

Aksi dimulai dengan mengheningkan cipta selama satu menit. Setelah itu, massa bergerak dari Place de la Republique menuju Place de la Nation sambil meneriakkan kata "liberte" (kebebasan) dan "Charlie" yang merujuk pada Charlie Hebdo. Kerabat dari korban penembakan di Charlie Hebdo terlihat memimpin aksi ini.

Sejumlah spanduk yang dibentangkan pun memperlihatkan tujuan aksi untuk menolak takut terhadap segala macam bentuk teror. Misalnya saja spanduk bertuliskan "Saya orang Perancis dan saya tidak takut". Ada juga spanduk bertuliskan, "Tinta yang harusnya mengalir, bukan darah".

Presiden Perancis Francois Hollande mengatakan, aksi jutaan orang hari ini menjadi bukti kalau Paris menjadi ibu kota dunia. "Seluruh negara akan ikut bangkit," ucapnya.

Selain menewaskan kartunis yang bekerja untuk Charlie Hebdo, penembakan itu juga menewaskan polisi muslim bernama Ahmed Merabet. Karena itu aksi di Paris ini juga diikuti warga muslim Perancis, yang juga menjadi korban akibat aksi terorisme.

Salah satunya adalah Mohamed bersama istrinya yang beragama Kristen, Isabelle Dahmani dan ketiga anaknya. Menurut Isabelle, anaknya yang berumur 9 tahun bahkan pernah bertanya "apakah akan ada orang jahat yang masuk ke rumah?".

Tidak hanya menewaskan 12 orang dalam penyerangan terhadap Charlie Hebdo, serangan teroris yang dilakukan oleh kakak beradik Cherif Kouachi dan Said Kouachi, serta Amedy Coulibaly juga menewaskan setidaknya 5 orang lain. 

Satu polwan tewas ditembak oleh Coulibaly sebelah selatan kota Paris. Tidak hanya itu, Coulibaly juga menewaskan 4 orang sandera dalam penyanderaan di kosher atau supermarket khusus masyarakat Yahudi.

Sedangkan Kouachi bersaudara tewas saat berupaya sembunyi di sebuah gudang percetakan, yang kemudian diketahui dan dikepung polisi. Keduanya sembunyi dalam gudang di Dammartin-en-Goele, yang berjarak sekitar 12 kilometer dari Bandara Internasional Charles de Gaulle dan diduga melakukan perlawanan serta menyandera warga saat akan ditangkap. (KOMPAS.com)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar