Selasa, 13 Januari 2015

Pasca Tragedi Charlie Hebdo, Gerakan Anti-Islam di Belanda Semakin Menguat



Amsterdam – WARA - Dukungan terhadap gerakan anti-Islam yang dipelopori oleh politisi Belanda pembuat film kontroversial “Fitna”, Geert Wilders dari Partai Kebebasan (Freedom Party), melonjak ke level tertinggi dalam setahun belakangan pasca serangan militan di Paris.

Menurut jajak pendapat pada Minggu (11/1), jika pemilu diadakan sekarang, partai Wilders akan menjadi pemenang tunggal terbesar di Belanda, dengan 31 kursi di parlemen (150 kursi keseluruhan), dua kali lebih banyak dari kemenangan mereka di pemilu terakhir.

Jajak pendapat yang memenangi partai Wilders terjadi, imbas dari serangan (terorisme) di Paris. Merespon pertumpahan darah di Perancis, Wilders mengatakan, Barat berada dalam “perang” dengan Islam dan ia menyerukan tindakan keras terhadap hal itu.

“Jika kita tidak melakukan apa-apa, itu akan terjadi di sini,” ujarnya dikutip oleh surat kabar Het Parool.
Lebih dari 80 persen responden jajak pendapat yang diadakan De Hond menyebutkan, orang-orang yang meninggalkan Belanda untuk berjihad di Suriah harus kehilangan kewarganegaraan Belandanya dan orang-orang yang kembali dari pertempuran di Suriah atau Irak harus menghadapi hukuman penjara yang panjang.

Serangan terhadap koran satire Perancis Charlie Hebdo memiliki resonansi tertentu di Belanda. (bijaks)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar