Rabu, 14 Januari 2015

DPRD Nunukan Soroti Hemodialisis RSU Nunukan yang Mangkrak




Nunukan – WARA - Anggota DPRD Nunukan menyoroti pengadaan peralatan rumah sakit yang belum maksimal difungsikan dikarenakan terbatasanya Sumber Daya Manusia (SDM). Salah satu peralatan tersebut adalah pengadaan hemodialisis, alat untuk melakukan pencucian darah bagi penderita gagal ginjal.

Wakil Ketua Komis III DPRD Nunukan Niko Hartono mengatakan, pengadaan Hemodialisa dilakukan sejak tahun 2013, namun hingga kini keberadaannya mangkrak.

“Alatnya sudah ada sejak awal tahun 2013. Alasannya tenaga tehnis untuk mengoperasikan itu perlu disekolahkan. Kami tidak tahu sudah disekolahkan apa belum. Tentunya ini jadi permasalahan tersendiri bagi pasien pasien di Kabupaten Nunukan bagi pasien yang harus cuci darah. Seperti pasien yang gagal ginjal yang harus cuci darah. Kalau harus ke Tarakan kan mesti keluar ongkos lagi. Sementara kita punya alatnya dan siap pakai tapi tidak bisa dioperasikan,” ujar Niko Hartono kepada beritakaltara.com.

Niko Hartono menambahkan, untuk pengadaan peralatan hemodialisis yang pengadaannya bersamaan dengan ct Scan dan laparaskopi pemerintah daerah menganggarkan 15 milyar rupiah. “Pengadaannya bersamaan dengan ct scan dan laparaskopi, satu paket tapi kontraknya sendiri-sendiri. Iu pengadaannya kurang lebih 15 milyar rupiah. Pengadaannya tahun 2013 kemarin,” imbuh Niko Hartono.

Mangkraknya peralatan medis hemodialisis menurut Niko Hartono harus segera dicarikan penyelesaian secepatnya. Mengingat kebutuhan peralatan pencuci darah tersebut sangat dibutuhkan warga disaat makin besarnya jumlah penderita gagal ginjal.

”Kalau pengadaan ct scan kemarin memang sama tenaga ahlinya disekolahkan. Kalau hemodialisis saya tidak melihat betul kontraknya kemarin apakah diikutkan masalah tenaga tekhnisnya.Yang jelas alatnya belum bisa digunakan padahal alatnya siap pakai. Kami menyarankan kepada RSUD paling tidak berupaya mencari solusi paling tidak bisa menjalankan alat tersebut. Apakah nanti membuat surat untuk meminjam atau mengontrak tenaga ahli yang bisa menjalankan alat tersebut,” ujar Niko Hartono.

Namun sayang upaya konfirmasi beritakaltara.com melalui no hp Kasie Palayanan RSUD Nunukan Mariana tidak membuahkan hasil. Lima kali ditelepon, Mariana terkesan menghindar upaya konfirmasi beritakaltara.com terkait mangkraknya peralatan hemodialisa. Bahkan, satu kali yang mengangkat telepon mengaku staff Mariana. Saat mencoba menelepon Mariana ke 6 kali, hp sudah tidak diaktifkan. (Beritakaltara)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar