Rabu, 24 Desember 2014

Majene, Menuju Pusat Pelayanan Pendidikan




Tampak Siswa-Siswi SD Dari Pelosok Majene Menyanyikan Lagu Dalam Semarak Malam Ramah Tamah & Pisah Sanbut Pengajar Muda IM

Majene –WARA - Majene adalah salah satu dari enam kabupaten di Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar) yang sejak awal telah diproyeksi menjadi pusat pelayanan pendidikan di provinsi ke-33 Indonesia ini. Sebagai konsekuensinya, berbagai upaya harus dilakukan pemerintah Kabupaten Majene guna mewujudkan itu. Dan tentu sudah sejak lama pemerintah mencoba mendesain kebijakan serta senantiasa tampil di barisan terdepan guna merespon isu Majene sebagai icon pendidikan di Tanah Mandar ini dengan berbagai inovasi pendidikan.

Akan tetapi, menjadikan Majene sebagai pusat pendidikan di wilayah Sulbar adalah bukan hal yang mudah. Tak semudah membalikkan telapak tangan. Tentunya banyak rintangan yang menyebabkan para pemangku kebijakan pendidikan di daerah ini harus bekerja keras dan secara perlahan menjadikan wacana dalam wujud realita. Dan "Kota Tua", julukan Majene tidak mustahil benar-benar bisa menjadi pusat pendidikan Sulbar seperti halnya Jogjakarta di Tanah Jawa.

Gerakan Indonesia Mengajar di Majene.
Kehadiran Gerakan Indonesia Mengajar (IM) di Majene nampaknya punya sisi positif yang cukup menggembirakan. Diakui atau tidak, gerakan pengeriman sejumlah Guru Muda di pelosok-pelosok Majene yang sudah berlangsung kurang lebih lima tahun, telah cukup membuahkan hasil serta memberi kontribusi yang besar akan kemajuan prndidikan dalam skala lokalitas Majene dan tentu pendidikan nasional.

Salah satu indikatornya adalah lahirnya animo dan semangat pendidikan di daerah-daerah terpencil berkat semangat dan inspirasi dari para relawan Pengajar Muda dari Gerakan Indonesia Mengajar (IM). Ada banyak guru yang dulunya setengah sadar dan yakin, kini telah termotivasi dengan baik berkat setrum inspirasi para Guru Muda. Begitu pula siswa-siswi, mereka menjadi aktif dan senang belajar dengan metode kreatif dari program IM. Karena memang tidak bisa dipungkiri bahwa bagaimanapun hebatnya kurikulum, seberapapun lengkap sarana pendidikan, kalau guru tidak baik maka tujuan pendidikan tidak mungkin bisa dicapai.

Itulah sebabnya, Gerakan IM di Majene sangat diapresiasi oleh bukan hanya insan pendidikan, tetapi masyarakat luas termasuk pemerintah di daerah ini. Bahkan begitu pentingnya semangat yang telah dibangun oleh mereka para Pengajar Muda, menyebakan Pemkab. Majene berencana melanjutkan program mereka di daerah-daerah pelosok dengan membentuk Gerakan Majene Mengajar.

Pernyataan ini disampaikan oleh Kepala Dinas Pendidikan Nasional Kabupaten Majene pada Malam Ramah Tamah & Pisah Sambut Pengajar Muda Gerakan IM tadi malam (23/12) di Aula Masjid Raya Majene. 

Dihadapan para insan dan pemerhati pendidikan serta undangan yang turut hadir, kepala dinas pendidikan Majene H. Anwar Lazim mengatakan pihak pemkab Majene akan megukuhkan Gerakan Majene Mengajar sebagai upaya dan langkah kesinambungan dari program Indonesia Mengajar yang akan berakhir bulan desember 2015 mendatang.

Sementara itu, guru muda Gerakan Indonesia Mengajar Arliska Fatma Rosi kepada media ini mengatakan menyambut baik rencana pemerintah Kabupaten Majene mencetuskan Gerakan Majene Mengajar yang akan mengadopsi program IM.

"Hal ini karena Indonesia Mengajar yakin bahwa Majene pada dasarnya bisa dan mampu menggerakkan diri dengan potensi yang ada" ungkap Fatma. 

Kehadiran tahun terakhir PM di Majene (angkatan terakhir ini, red) diharapkan bisa menjembatani persiapan Majene Mengajar.

Lebih lanjut Fatma, alumnus Universitas Paramadhina yang genap satu tahun mengajar di SD No. 22 Rura Kecamtan Ulumanda ini mengatakan bahwa potensi sumber daya manusia di Majene cukup memadai untuk memajukan pendidikan di daerah ini, bahkan dirinya yakin Majene mampu menjadi pusat pendidikan di Sulbar.

"Tinggal bagaimana memupuk dan mengelolah SDMnya serta sarana yang ada di daerah ini", tutup Fatma, yakin. (hm3)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar