Minggu, 25 Januari 2015

Kisah Menaker yang "Tertipu" Jersey MU



Menaker M Hanif Dhakiri memotong pita, tanda dibukanya NU Expo 2015 di Lingkungan Banjaran, Kelurahan Karangjati, Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang, Sabtu (24/1/2015).
Ungaran - WARA - Siapa pun bisa merasa tertipu, tak terkecuali seorang menteri. Namun rasa kena tipu ini sangat membuat M Hanif Dhakiri, Menteri Ketenagakerjaan geregetan.

Sebagai penggemar Manchester United (MU), dia sangat ingin mengoleksi merchandise yang original dari klub besar asal Inggris tersebut. Kesempatan itu pun tiba saat dia melakukan perjalanan ke Inggris untuk suatu urusan.

Di sana dia menyempatkan diri mengunjungi markas MU dan tentunya, memborong sejumlah merchandise untuk oleh-oleh. "Saya ini penggemar MU. Suatu saat ada acara di Inggris, saya mampir ke stadion MU. Mau ngasih oleh-oleh, terus borong barang asli MU, tidak saya periksa asal nomor (punggung) beda," kata Dhakiri, dalam sambutannya saat membuka NU Expo 2015 di Lingkungan Banjaran, Kelurahan Karangjati, Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang, Sabtu (24/1/2015) siang.

Saat itu, Hanif tidak sempat memeriksa barang-barang yang dibelinya satu persatu. Namun saat tiba di Tanah Air, kagetlah dia lantaran jersey yang dibelinya seharga Rp 700.000 per potong itu ternyata berlabel "made in Indonesia".

"Karena beli banyak, saya tidak sempat memeriksa, ambil semua. Tapi ketika dibuka di rumah, lihat capnya kok made in Indonesia. Di sana mungkin kalau di rupiahkan Rp 700.000 per potong, di sini paling Rp 50.000. Saya pikir-pikir, sing pinter sopo sing goblok yo sopo," ujar Dakhiri sambil geleng-geleng kepala.

Mendengar kisah sang Menteri, para tamu di acara itu pun tertawa. Termasuk Bupati Semarang, Mundjirin yang duduk tidak jauh dari Hanif berdiri.

Menaker menceritakan kisahnya itu untuk memberikan gambaran bahwa diperlukan adanya pengolahan produk industri asal Indonesia agar bisa menaikkan nilai ekonomisnya. "Brambang bawang kalau dijual begitu saja ya harganya murah. Tapi kalau dipak, dikemas yang baik bisa tahan lama dan harganya mahal," kata dia.

"Kita kadang kalah dengan negara lain karena kemasan. Lebih parahnya lagi, produk kita dikirim keluar negeri, di sana diolah, dikemas dan dihilangkan label Indonesianya. Lalu dijual lagi ke Indonesia, karena di sini pasarnya besar dan harganya tinggi," sambung dia.

Melihat kenyataan itu, menurut Hanif, perlu ada intervensi dari Pemerintah agar industri-industri kecil yang berkembang di masyarakat bisa memperoleh nilai ekonomis tinggi dengan pengolahan produk dan pengemasan yang memadai.

"Bupati harus memastikan industri kecil terfasilitasi dalam hal pengolahan produk, sehingga ada penambahan nilai. Ini penting karena industri menengah kita, terbukti menopang ekonomi nasional pada saat ekonomi nasional kita terpuruk," imbuhnya.

Usai memberi sambutan, Hanif kemudian melakukan pemotongan pita tanda dibukanya NU Expo 2015. Dia juga berkesempatan berkeliling melihat stand-stand hasil produksi warga NU. (KOMPAS.com)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar