Minggu, 25 Januari 2015

Dulu Nge-fans, Kini Media Asing Soroti Negatif Jokowi



Jakarta - WARA - Sorotan negatif pada krisis politik pertama di era Presiden Joko Widodo tak hanya muncul dari dalam negeri. Media-media asing yang sempat euforia selepas mantan gubernur DKI ini terpilih, sekarang mulai menyoroti aspek kepemimpinannya.

Khususnya ketika masalah pemilihan calon Kapolri berlarut-larut, sehingga memicu konflik terbuka antara Korps Bhayangkara dengan Komisi Pemberantasan Korupsi. Penangkapan Wakil Ketua KPK, Bambang Widjojanto oleh Bareskrim (23/1), dilansir oleh banyak media internasional.

Contoh yang kini secara kritis menyoroti kepemimpinan Jokowi adalah majalah bergengsi the Economist. Pada laporan terbaru hari ini, Sabtu (24/1), bacaan para pemimpin dunia ini melansir laporan bertajuk "Jokowi Jinks" (Manuver Elakan Jokowi).

Kolom ini menyoroti ribuan relawan Jokowi selama masa kampanye, yang kini beralih mengkritiknya karena berkukuh mengangkat Komjen Budi Gunawan sebagai Kapolri.

"Penunjukan Budi menjadi noda pertama terkait kepemimpinan Jokowi di tahun pertama menjabat," seperti tertulis dalam laporan tersebut.

Economist pun menyoroti politik luar negeri Jokowi yang serampangan, karena meremehkan kemarahan Belanda, Brasil, maupun Australia, sesudah warganya dieksekusi mati lantaran menjadi kurir narkoba.

Majalah yang dulu memuji Jokowi sebagai pemimpin potensial bukan dari elit politik lama Indonesia ini, mengingatkan bahayanya serampangan tampil garang di panggung internasional. Di tengah potensi gangguan bilateral muncul, masalah Polri vs KPK dapat semakin menggerus popularitasnya.

"Jokowi ingin dilihat sebagai pemimpin yang tegas. Tapi membuktikan diri bisa mengendalikan manuver para elit akan lebih meyakinkan dibanding mengeksekusi mati kurir narkoba rendahan," kritik Economist.

Posisi kaku Indonesia dalam menghukum mati warga asing, turut dikritik Deutsch-Welle. Media terkemuka Jerman ini dua hari lalu menurunkan laporan khusus mengulas alas an Jokowi tidak bersedia memberi grasi pada para terpidana mati narkoba. Disimpulkan, RI-1 ingin tampil garang di panggung politik luar negeri, demi menyenangkan konstituen dalam negerinya.

Koran the New York Times yang cukup mengelu-elukan Jokowi sebelum pemilu, ikut menyoroti anjloknya popularitas presiden sokongan PDIP ini. Terutama karena para relawan merasa dikhianati terkait pemilihan Budi Gunawan sebagai calon tunggal Kapolri.

Artikel dari Joe Cochrane yang muncul kemarin menyatakan komitmen pemberantasan korupsi RI-1 mulai diragukan. Bila isu Polri vs KPK berlarut-larut, koresponden New York Times untuk Asia Tenggara ini yakin oposisi makin mudah menggoyangnya.

"Para pendukung Jokowi mengharapkan ada keajaiban. Sedangkan kelompok oposisi yakin dia akan dihancurkan dari sisi politik dalam waktu kurang dari setahun," tulis Cochrane.

Situs berita Filipina, Rappler, termasuk simpatik pada Jokowi, tak lupa menyoroti masalah penegakan hukum yang kini mulai membelit sang presiden. Editorial Rapple memasang tajuk yang tajam "Krisis politik Jokowi semakin dalam setelah pemimpin KPK ditangkap polisi." Laporan mengenai tagar #ShameOnYou Jokowi turut diurai oleh situs ini.

Dengan sudut pandang pemberitaan kini tak kalah kritis dari pers dalam negeri, bulan madu Jokowi dengan media massa asing resmi berakhir. (Merdeka.com)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar