Selasa, 27 Agustus 2013

Profil

Harry Tanoe Mengaku Tak Punya Ijazah SMA Tapi Sukses Berbisnis

Harry Tanoe mengaku tak punya ijazah SMA tapi sukses berbisnis

Jakarta - Warta Nusantara : Pengusaha Harry Tanoesoedibjo menyatakan perubahan karakter merupakan salah satu unsur paling penting dalam menentukan kesuksesan seseorang. Sebab, musuh terbesar manusia adalah dirinya sendiri.

Dia mencontohkan ketika masih sekolah menengah atas, dirinya termasuk siswa yang gagal. Harry menyatakan, dulu perangainya buruk sekali. Tak cuma nakal, bos Grup MNC itu juga jarang belajar.

"Saya mau mengaku, saat SMA saya sampai dikeluarkan karena tidak disiplin. Baru setelah saya drop out, saya berpikir perilaku ini harus diubah," ujarnya ketika berbagi kisah suksesnya di Seminar "Peran Wirausaha Memperkuat Daya Saing Indonesia menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN" di Gedung Magister UGM, Jakarta, Sabtu (14/9).

Untungnya, pria 47 tahun kelahiran Surabaya ini masih dipercaya kedua orang tuanya. Mereka bersedia mengirimnya kuliah ke luar negeri asal HT, panggilan akrabnya kini, bersedia belajar serius.

Hary mati-matian mengejar ketertinggalan akibat tak belajar ketika SMA. Pada pertengahan 1980-an, dia akhirnya mengikuti ujian paket C.

"Jadi saya ikutnya ujian persamaan, ujian khusus buat drop out, tapi saya belajar terus dan berangkat ke Kanada setelah dapat ijazah persamaan," kata HT.

Di Kanada, HT belajar bisnis di Carleton University, dan dilanjutkan ke Ottawa University untuk gelar Master of Business. Pengusaha yang sekarang bergabung dengan Partai Hanura ini lulus S2 pada 1989, lalu kembali ke Indonesia.

Dari latar belakang pendidikan itu, Hary mengembangkan bisnis investasi, sampai akhirnya jadi jaringan media massa terbesar di Asia Tenggara.

"Di Kanada saya belajar keras, saya lulus dengan predikat cum laude, dan akhirnya dapat beasiswa. Intinya setelah lulus MBA, saya punya visi, harus menjadi pemain global," bebernya.

Itu sebabnya, perubahan pola pikir penting bagi setiap wirausahawan. HT mengatakan, tanpa menaklukkan aspek negatif dari diri sendiri, sulit bagi seseorang mengubah lingkungannya agar sesuai dengan yang dia mau.
"Jadi praktis musuh terbesar manusia adalah dirinya sendiri. Kita harus ubah sifat-sifat yang dirasa negatif," tandasnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar