Rabu, 26 November 2014

Sejak Jadi Model, Banyak Yang Mendekati



Bandung - WARA,
Ela Nurlaela Adalina Sya’adah, sosok gadis model penggemar warna pink dan warna cerah, sehingga warna pink ini telah berhasil melambungkan namanya dengan julukan “Ela Pinky”.

Dalam dunia model di tataran Priangan hingga ke Kota Bandung, Ela merupakan salah satu sosok yang mudah dikenal. Karena sebagai model yang dirintis sejak tahun 2011, hingga kini telah sarat dengan berbagai prestasi. Baik dalam dunia model, peran dalam video clip, juga beracting di layar kaca membintangi beberapa film.

Tidak heran jika Ela sering tampil sebagai model di berbagai acara televisi swasta nasional, diantaranya ANTV, Indosiar dan Trans TV. Selain itu sejumlah FTV religi dan lainnya pernah dibintangi dalam sejumlah tayangan televisi lokal.

Gadis Gemini pemiliki tinggi 165 cm dan berat 50 kg, kini semakin percaya atas kepiawaiannya di depan kamera. Dalam berpose sebagai foto model, Ela sangat menykai mengenakan gaun warna cerah, sehingga menambah kecantikannya tubuhny yang terbungkus kulit kuning langsat.

Dalam meniti karir, Ela berharap dapat eksis di dunia perfilman dan berprofesi sebagai diplomat. “Aku menginginkan hidup yang matang secara emosional, intelektual dan financial sebelum menikah,” ungkapnya saat dimintai tanggapan mengenai rencana hidupnya ke depan.

Hal yang sangat didambakan adalah dapat memberikan kebahagiaan kepada keluarga, yakni ibu dan adik satu-satunya. Karena hanya mereka berdualah tumpuan harapannya, selain dalam berumah tangga kelak.

“Semenjak ditinggal almarhum papah pada tahun 2007 lalu, aku terus berusaha dapat hidup mandiri dengan berbekal kemapuan seperti saat ini, baik di dunia model ataupun lainnya yang dapat membantu memenuhi kebutuhan kuliah dan lainnya,” ujarnya.

Seiring dengan perjalanan karirnya yang terus melambung, dan seringnya Ela tampil menghiasi halaman berbagai media massa, maka tak heran, jika banyak cowo yang berusaha mendekatinya. Sebagai seorang gadis, hal itu tentu saja memiliki kegembiraan tersendiri, dan juga sebagai tantangan baginya untuk lebih bijak dalam menghadapinya.

“Semenjak jadi model dan sering dimuat di media massa, Ela merasa makin banyak cowo-cowo yang mau deketin, ya..bangga sih,” ujarnya dengan senyum. (Red)

Mereka Barter Tangkapan Ikan Dengan Tepung


Warga asing di Tanjung Batu, Kecamatan Derawan, Kabupaten Berau.
Berau – WARA,
Di tenda posko kesehatan, dr Okto yang bertugas di Puskemas Tanjung Batu mengungkapkan,  kondisi 11 orang ibu hamil tersebut dalam kondisi sehat meski ada yang mengalami tekanan darah tinggi.

“Tekanan darah tinggi ini biasa terjadi pada ibu hamil, apalagi sebagian besar makanan mereka berupa ikan asin,” jelasnya.

Okto berjanji siap membantu proses persalinan bersama bidan yang ada di Tanjung Batu  “Kemarin ada yang melahirkan satu orang, kondisinya sampai sekarang sehat-sehat saja,” ujarnya.

Dari 544 orang yang di tampung di Lapangan Bulalung, ada 98 orang yang saat ini sedang penyakit. “Ada 98 orang yang mengeluh mengalami gangguan kesehatan, tapi bukan penyakit berat, sebagian besar hanya Ispa, grastisis (maag) dan gatal-gatal pada kulit,” ujarnya.

Dari ratusan manusia perahu, beberapa di antaranya memiliki kerabat dekat di Berau. “Saya punya keluarga di Batu Putih, ada saudara saya yang menikah dengan orang sana,” kata Aida, satu- satunya yang fasih berbahasa Indonesia.
Aida bercerita, ia dan keluarganya sudah cukup lama tinggal di perairan Balikukup yang dekat dengan Kecamatan Batu Putih. Selain dirinya, ada juga rekan-rekannya yang menikah dengan penduduk setempat. Bahkan ada yang sudah bersekolah tingkat SMP.

Wakil Ketua DPRD Berau, Saga, menuturkan sebagian orang asing tersebut ada yang memiliki keluarga di Tanjung Batu, Maratua, hingga Batu Putih.

“Mereka ini dalam perjalanannya, ada juga yang menikah dengan warga setempat, karena sering berinteraksi dengan mereka,” jelas politisi warga asli Derawan ini.

Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, orang asing yang tidak punya identitas itu sering melakun barter dengan warga di pulau terdekat. Mereka menukar hasil tangkapan ikan dengan singkong atau beras untuk memenuhi kebutuhan karbohidratnya.

Mappasikra Maddaseleng,  Staf Ahli Bidang Kemasyarakatan dan SDM Pemkab Berau yang juga ditunjuk sebagai Ketua Koordinator penanganan orang asing,  menyimpulkan adanya warga asing yang menikah dengan warga  Berau menunjukan keberadaan orang asing di Berau sudah cukup lama.

“Karena sudah tinggal lama di wilayah perairan dan sering berinteraksi dengan warga lokal, akhirnya ada yang menikah,” jelasnya. (TRIBUNKALTIM.CO)

Kenaikan BBM Munculkan Enam Juta Kemiskinan Baru



Jakarta - WARA,
Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa mengatakan, kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) sebesar Rp 2.000 memunculkan enam juta angka kemiskinan baru jika tanpa intervensi pemerintah.

“Intervensi pemerintah berupa kompensasi sebesar Rp200 ribu sebenarnya itu sudah lebih dari cukup,” kata Khofifah di Jakarta, Rabu.

Dia menjelaskan, hitungannya jika BBM naik Rp500 akan ada tambahan kemiskinan baru 1,5 juta jika tidak ada intervensi. Agar tidak terjadi penurunan daya beli maka intervensi pemerintah untuk satu keluarga dengan hitungan 4,5 jiwa maka membutuhkan intervensi sebesar Rp 155 ribu per bulan.

Presiden Joko Widodo mengumumkan kenaikan harga BBM pada Senin (17/11) malam yang mulai berlaku pada pukul 00.00 WIB. Harga premium naik Rp 2.000 menjadi Rp 8.500 per liter sedangkan solar menjadi Rp 7.500 per liter dari sebelumnya Rp 5.500 per liter.

Untuk mendukung daya beli masyarakat, pemerintah mengeluarkan bantuan yaitu Kartu Keluarga Sejahtera (KKS) dengan nominal Rp200 ribu per bulan yang dapat diambil sejak 18 November hingga 2 Desember 2014.

Bagi pemegang Kartu Perlindungan Sosial (KPS) yang belum memiliki KKS dapat juga langsung mencairkan uang tersebut ke Kantor Pos sesuai dengan undangan dari RT/RW setempat. “Jangan khawatir uang akan hangus karena berbentuk simpanan giro pos, jadi tidak akan hangus jika tidak diambil. Jadi tidak perlu berdesak-desakan antri di Kantor Pos,” kata Khofifah. (REPUBLIKA.CO.ID)

Jokowi Loloskan Impor Sapi Karena Kuatnya Lobi Australia



Jakarta – WARA,
Pemerintahan Jokowi-JK baru berjalan hampir dua bulan namun pemerintah sudah membuat kebijakan untuk impor sapi asal Australia hingga 264 ribu ekor pada kuartal empat tahun ini. Jumlah ini meningkat tajma dari perkiraan awal sekitar 136 ribu ekor.  Sapi tersebut akan diimpor dari negara bagian Queensland, yang juga menjadi tuan rumah G20.

Jadi jangan heran jika dalam waktu dekat, daging sapi impor dari Queensland akan merambah banyak pusat perbelanjaan dan pasar tradisional selama beberapa bulan mendatang.

Jika dicermati kebijakan pemerintah  Joko Widodo ini sangat bertolak belakang dengan apa yang diucapkannya sewaktu masih menjadi calon presiden pada bulan Maret 2014. Saat itu, di sela-sela blusukan di Pasar Cipanas, Cianjur Jawa Barat. Jokowi mengatakan bahwa Indonesia harus punya keberanian untuk menghentikan impor daging sapi. Indonesia memiliki kemampuan untuk menciptakan swasembada daging yang sepenuhnya bergantung pada produksi dalam negeri.

“Kita harus punya keberanian untuk beralih dari konsumsi ke produksi. Selama ini kita tidak berani berproduksi karena tidak ada kemauan,” kata Jokowi saat itu.

Jokowi juga mengatakan Indonesia tidak usah takut kekurangan pasokan karena ada peternakan dengan produksi sapi yang cukup di Nusa Tenggara. Karena itu, kata Jokowi, swasembada daging sapi bisa terwujud jika program ini dikerjakan secara serius. “Bukan sesuatu yang sulit,” ujar Jokowi.
Pengamat ekonomi Fuad Bawazier menilai kebijakan Presiden Joko Widodo yang tidak sesuai ucapannya saat masih jadi capres menunjukkan tidak konsisten. Menurut Fuad Bawazier, izin impor sapi dari Australia itu sangat mungkin terkait dengan lobi yang dilakukan Australia pada waktu Presiden Jokowi bertandang ke Australia untuk menghadiri KTT G20 November lalu. 

“Kalau kemungkinan karena lobi itu sudah biasa, dulu juga saat mobil murah akhirnya tidak setuju karena lobi dari Jepang. Lalu bagaimana peternakan sapi kita akan bisa mandiri,” terang Fuad.

Abdulrachim, pengamat ekonomi dari Rumah Perubahan menambahkan, yang harus dicermati adalah apakah ini karena memang ada permintaan yang mendadak meningkat atau mengada-ada. Selain itu masalah yang perlu diperhatikan adalah mafia pangan.

“Beberapa bulan lalu masuk sapi impor 40 ribu ekor tapi harga di pasaran tetap, ini artinya pasar daging dikuasai mafia yang memainkan harga daging sapi sehingga harga tidak turun,” jelasnya.
Indonesia memang merupakan pasar yang penting bagi Australia. Sebagian besar komoditas ekspor pertanian Australia senilai lebih dari AUD 1 miliar per tahun masuk ke Indonesia, terutama ekspor hewan hidup (tidak termasuk seafood) dari Australia dengan total AUD 308 juta pada tahun 2013. Daging sapi dan sapi ekspor dari Australia ke Indonesia pada tahun 2014 diperkirakan akan meningkat 27 persen dari tahun ke tahun hingga mencapai 50.000 ton shipped weight. (FASTNEWS)