Selasa, 23 Desember 2014

Sesaat Susi Pudjiastuti Kehilangan Kata-kata...


Susi Pudjiastuti saat menjadi pembicara kunci 
peringatan 10 tahun tsunami Aceh 
di Bentara Budaya Jakarta, Rabu (17/12/2014).

WARA - "Saya sangat marah! Saya bersumpah dengan segala sumpah yang ada, suatu hari kalau membuat kebijakan, bayangkan anak atau keluargamu yang sedang menderita! Saya tidak bisa menahan marah."
Siang itu, Rabu (17/12/2014), Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti bertutur dengan berapi-api soal laut dan tsunami. Susi saat itu menjadi pembicara kunci peringatan 10 tahun tsunami Aceh di Bentara Budaya Jakarta.

Dengan penuturan yang lebih banyak menggunakan bahasa Inggris, Susi sesaat kehilangan kata-kata dan suaranya terbata ketika tiba pada kutipan di atas. Sesaat ada jeda, meski tak lama. Matanya berkaca-kaca.

Petugas dari Bentara Budaya Jakarta sampai tergopoh-gopoh mengambilkan air minum dari luar ruangan tempat Susi berbicara. Susi sedang bercerita tentang tsunami di Pangandaran—"my village", sebut dia soal tempat itu—ketika sesi emosional dan berapi-api itu terjadi.

Pangandaran di tepi selatan Jawa Barat diterjang tsunami pada 17 Juli 2006, belum lewat dua tahun dari tsunami yang meluluhlantakkan Aceh pada 26 Desember 2004.

Hanya karena status
"Kalau tidak salah, hari ke-17 atau ke-20 dari tsunami, Rumah Sakit Banjar kelas C masih penuh orang antre dari Pangandaran untuk amputasi," tutur Susi.

"Pak Kuntoro (Kepala Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Aceh-Nias, Kuntoro Mangkusubroto) telepon saya, ada USS Hospital mendarat di Nias untuk pengobatan."

Susi pun sontak meminta Kuntoro mengirimkan kapal itu membantu para korban tsunami di Pangandaran. Namun, tunggu punya tunggu, dua hari berlalu, tak ada satu pun langkah dibuat untuk mengirimkan kapal rumah sakit itu ke Pangandaran.

Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti 
saat membuka Peringatan 10 Tahun Tsunami Aceh 
di Bentara Budaya Jakarta, Rabu (17/12/2014),
 "Why? Karena Jawa Barat declared bahwa tsunami Pangandaran bukan bencana nasional!" sergah Susi berapi-api. "Ini ada kapal gratis di luar sana, tetapi tidak bisa dikirim ke Pangandaran karena statusnya bukan bencana nasional."

Susi sampai melontarkan pertanyaan, "Apakah kalau orang Aceh kehilangan keluarganya, beda dengan yang dirasakan di Pangandaran?"

Susi mempertanyakan pula, "Kalau (musibah di) Aceh dan Yogyakarta bisa dapat perlakuan sebagai bencana nasional, tetapi tidak kalau itu Pangandaran?" Padahal, ujar dia, status itu memberikan perlakuan yang jauh berbeda kepada para korban, sejak dari penanganan musibah hingga pemulihan ekonomi setelah bencana.

"Ya, 1.600 (korban tewas tsunami Pangandaran) memang tak bisa dibandingkan dengan tsunami Aceh, tetapi Pangandaran itu kawasan kecil, semua perahu rusak," tutur Susi.

Menurut Susi, para nelayan di kawasan ini butuh dua tahun untuk bisa kembali punya perahu, satu tahun untuk punya jaring, dan aktivitas perikanan di sana praktis berhenti total. "Pabrik kami total shut-down, recovery hanya alami (tanpa intervensi pemerintah)."

Tak ada pula pemutihan utang para nelayan yang menjadi korban musibah itu, lagi-lagi karena statusnya bukan bencana nasional seperti halnya tsunami Aceh atau gempa di Yogyakarta.

Tsunami Pangandaran dalam kenangan Susi
Selama hampir 1,5 jam, Susi bertutur soal laut, bahari, dan tsunami, dari rencana semula Susi hanya akan berbicara selama setengah jam karena kepadatan agendanya.

Susi bertutur, kabar soal tsunami yang menghantam kampung halamannya itu dia terima selepas ashar. "Saya ditelepon nelayan, 'Ibu, saya dikejar air, air tinggi hitam'," kenang dia. "Ah kamu becanda, jawab saya. 'Iya, ini dikejar air, Bu.' Lalu blup, blup, telepon mati."

Tak berselang lama, lanjut Susi, Hatta Rajasa, yang waktu itu adalah Menteri Perhubungan, meneleponnya, bertanya dia ada di mana seraya mengabarkan ada tsunami di Pangandaran.

Saat itu juga, Susi meminta Hatta memberikan izin bagi pesawatnya untuk lepas landas dari Palembang atau Padang selepas pukul 20.00 WIB. "Karena bandara itu tutup pukul 19.00 WIB," kata dia.

Ada satu persoalan lagi, ujar Susi. Pesawatnya tak bisa mendarat di Pangandaran sebelum matahari terbit.

"Saya telepon KSAL, minta bantuan bagaimana caranya agar bisa ada cahaya di lokasi pendaratan di Pangandaran. Saya katakan, saya tidak bisa duduk-duduk (transit) di Jakarta hanya untuk menunggu matahari terbit di Pangandaran."

Dengan dua "telepon darurat" itu, Susi pun lepas landas dari Palembang selewat pukul 21.00 WIB, dan tiba di Pangandaran pada pukul 03.00 WIB, 12 jam dari tsunami Pangandaran.

Berbekal pengalamannya saat "tak sengaja" turun tangan membantu tsunami Aceh, dia siapkan makanan dan peralatan penanganan jenazah para korban tsunami. "Sampai sekarang saya tak ingat bagaimana saya lakukan semuanya. Refleks, dari pengalaman di Aceh."

Tempat penyimpanan ikan perusahaannya adalah salah satu peralatan yang "beralih fungsi" untuk menyimpan jenazah para korban. "Alhamdulillah, dari 1.600-an jenazah, hanya 125 yang tak bisa diidentifikasi karenanya."

Sebuah masjid yang baru rampung dibangun Susi, hanya sebulan sebelum tsunami, menjadi salah satu tempat pengungsian yang dituju warga Pangandaran.

Kebijakan harus punya keberpihakan
Sesudah bencana ini terjadi, Susi mengatakan, banyak warga Pangandaran yang datang kepadanya dan mengatakan, "Kalau saja saya dengar omongan ibu dua bulan lalu, saya tidak akan kehilangan anak (dan) warung."
Menurut Susi, sepulang dari aktivitasnya membantu penanganan tsunami Aceh, dia berulang kali meminta warga Pangandaran untuk memindahkan warung mereka yang berada tepat di bibir pantai.

"Saya ingatkan, jangan bangun di situ, agak jauh sedikit. (Di sini) bisa jadi kuburan massal kalau ombak datang, saya lihat itu di Aceh. Namun, bagaimana ya, masyarakat tidak bisa dilarang...."

Menurut Susi, tsunami sejatinya mengajarkan banyak hal bagi orang-orang yang mau mencermatinya, dari empati sampai dengan antisipasinya.

Susi bertutur banyak soal laut dan tsunami ini, sebelum menyuarakan visi dan misi kerjanya pada pemerintahan sekarang. Dari semua kisah yang dia alami sepanjang hidupnya, termasuk dua tsunami, Susi menyatakan bahwa kebijakan pemerintah harus memiliki keberpihakan yang jelas pada kepentingan bangsa dan negara.

"Policy harus ada keberpihakan. Yang komplain, silakan saja. Namun, policy memang tak akan bahagiakan 100 persen para stakeholder," ujar Susi tentang sederet kebijakan yang dia kebut dalam dua bulan masa jabatannya.

Ketika dipanggil untuk menjadi menteri, satu hal yang Susi sampaikan kepada Presiden Joko Widodo adalah, bila dia ditugaskan untuk membuat perubahan, maka tindakannya tak akan membuat semua orang senang.

"Ketika semua bilang oke, saya terima pekerjaan ini," ujar Susi lugas. "Sumpah" Susi saat meradang di tengah penanganan tsunami Pangandaran mendapat kesempatan untuk pembuktian.(
KOMPAS.com)

Pencitraan Gaya Baru Dengan Bagi-bagi Uang Ratusan Juta



WARA - Belakangan ini publik sedikit dikejutkan dengan aksi Jokowi bagi- bagi uang di sela-sela waktu blusukannya. Uang yang di bagikan bervariasi jumlahnya. Seperti di Banjarnegara Jokowi berikan bantuan 20 juta dan di Nusa Tenggata Timur (NTT) Jokowi di kabarkan bagi uang sampai ratusan juta. Terhitung sebanyak dua kali, Jokowi membagi uang tunai. Yang pertama sebesar 112 juta, yang kedua 148 juta. Wow!

Jokowi yang dulunya ngaku miskin sehingga publik simpatik, eh, ternyata orang kaya. Tapi kaya atau miskin Jokowi sepertinya isu yang sudah tidak penting lagi untuk di ulas. Yang penting diulas adalah tentang citra Jokowi yang sudah anjlok. Dan berikut ini beberapa bukti yang ada.

Mahasiswa Selalu Demo Untuk Sambut Kedatangan Jokowi
Pilar demokrasi yang bernama mahasiswa selalu melakukan demo ketika Jokowi datang. Di beberapa kota besar selalu terjadi hal tersebut. Bahkan sudah menelan korban karena tindakan represif aparat kepolisian, sampai nyawa melayang. Anehnya, Jokowi dengan mudah mengatakan: “Bukan Urusan Saya.”.

Jika mahasiswa sudah turun kejalan secara masif, maka ini pertanda bahwa ada yang salah dengan pemerintahan Jokowi. Ingat, 1998 mahasiswa-lah yang berperan lengserkan Soeharto.

Rupiah Anjlok
Ramalan pengamat masa pilpres 2014 dulu yang menyatakan bahwa dolar AS bisa menyentuh angka Rp.10.000 jika Jokowi Presiden adalah sebuah penyesatan kepada publik. Faktanya, rupiah semakin terpuruk menyentuh angka Rp. 13.000.

Hal ini menandakan bahwa Jokowi bukan pemimpin yang mempunyai pengaruh terhadap perbaikan ekonomi Indonesia. Malah sebaliknya, Jokowi adalah orang yang telah menghancurkan sendi-sendi perekonomian Indonesia melalui kebijakan – kebijakannya yang tidak pro rakyat salah satunya seperti mencabut subsidi BBM. Ketika harga BBM melambung, maka harga bahan pokok pun ikut melambung juga.

Rakyat Semakin Sengsara
Kado akhir tahun 2014 dan awal tahun 2015 dari Jokowi sangat memukul rakyat kecil. Bukan saja BBM yang naik, tarif dasar listrik (TDL) akan naik, ongkos transportasi kereta api, angkot, dan semua juga naik. Sementara pendapatan rakyat kecil segitu-gitu saja.

Belum 100 hari Jokowi jadi presiden, rakyat semakin sengsara. Inikah yang dinamakan harapan baru? Ternyata tidak. Jokowi lebih dikenal sebagai pendusta, penipu, pembohong, tukang kibul, pengkhiat rakyat. Janji yang di janjikan Jokowi hanyalah tong kosong. Anehnya lagi, sudah ketahuan menipu, Jokowi masih juga ‘ngeles’. Presiden yang aneh!

Sebenarnya ada banyak lagi tentang faktor yang menjadi penentu anjloknya citra Jokowi. Dan mungkin rakyat sudah pada tahu akan hal itu, kecuali rakyat yang di butakan matanya, di tulikan telinganya dan di kunci mati hati nuraninya.

Nah, korelasi anjloknya citra Jokowi dengan aksi Jokowi bagi – bagi uang sepertinya sangat terhubung. Dan ini adalah sinyal bahwa Jokowi buat gaya baru untuk menaikkan citra kembali. Tidak tahu uang apa yang di bagikan Jokowi, halal atau haram sepertinya rakyat tidak mau tahu akan hal itu. Yang ada, Jokowi bagi – bagi uang di saat rakyat sedang kesusahan dan membutuhkan uang bisa di katakan ‘ide brilian’ atau juga ‘licik’ untuk sebuah pencitraan. Pasalnya, dengan Jokowi jadi presiden mana mungkin akan blusukan masuk ‘got’ seperti waktu Gubernur dulu. Turun dari mobil, langsung bagikan uang sepertinya gaya baru pencitraan Jokowi.

Lalu, apakah gaya baru pencitraan Jokowi ini bisa berhasil memulihkan citranya kembali? Biarlah waktu yang menjawabnya. Mungkin dengan uang ratusan juta yang di bagi-bagikan dalam amplop warna coklat itu, bisa merubah Jokowi yang sudah di cap penipu oleh rakyat berubah menjadi jadi manusia yang jujur. Kita tunggu saja. [Syafrida]

Kapolri : Polisi Saat Ini Lebih Hebat Tangani Teroris



Jakarta - WARA - Kapolri Jenderal Sutarman, mengklaim institusi di bawah komandonya saat ini lebih hebat mengatasi permasalahan terorisme. Kendati demikian, tetap ada yang menilai kurang.

"Kalau dulu teroris nyerang dulu, kemudian meledakkan di target-target, baru diungkap. Itu seksi, polisi kelihatan hebat. Namun, polisi saat ini sesungguhnya lebih hebat dari polisi dulu, karena kita menangkap sebelum mereka menyerang target. Tapi tak ada apresiasi, justru (raport) merah," ujar Sutarman usai memimpin Apel Gelar Pasukan Operasi Kepolisian Terpusat Lilin 2014, di Lapangan Ditlantas Polda Metro Jaya, Selasa (23/12).

Dikatakan Sutarman, upaya polisi menangkap pelaku teroris sebelum melakukan aksi itu luar biasa.
"Itu tidak ternilai kami bisa menangkap pelaku teroris sebelum mereka menyerang target, itu luar biasa," ungkapnya.

Menurutnya, jika pelaku teroris telah melakukan aksi dampaknya sangat luar biasa dari sisi ekonomi dan sosial.

"Recovery-nya juga memerlukan waktu bertahun-tahun. Tetapi, ini kalau tidak menangkap teroris itu dinilai tidak seksi. Padahal polisi saat ini lebih hebat karena bisa menangkap sebelum teroris menyerang target," tandasnya.

Diketahui, Densus 88/Antiteror kembali menangkap tersangka teroris jelang perayaan Natal dan Tahun Baru. Setelah sebelumnya membekuk Tony Sangaralo alias Toni alias Amir alias Fadhil alias Abu Sauqi di Lamongan, Minggu (21/12), kini giliran Adi Margono (45) yang dibekuk, di Perumahan Brawijaya Permai, Banyuwangi, Jawa Timur, sekitar pukul 19.30 WIB, Senin (22/12).

Pelaku diduga terlibat mengantarkan Syaiful Sayyaf alias Gaplek dari Solo ke Jakarta untuk ikut pelatihan para militer di Jantho, Aceh. Ia juga mengantar atau mengirim Guntur Amuntai untuk bergabung melakukan perampokan dengan kelompok Sabar di Medan, Sumatera Utara.

Selain itu, Adi juga menyediakan senjata dan amunisi untuk dikirimkan Arif Tuban ke Riau dan juga mengirim Zuher dan Kuncoro untuk ikut pelatihan di Aceh. (BeritaSatu)

Ditanya Soal Anti Orang Miskin, Kami Justru Bela Orang Miskin



Jakarta - WARA - Pagi-pagi, Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama sudah mengeluarkan nada tinggi terhadap 14 warga Kali Apuran Kapuk, Jakarta Barat, yang mengadu karena tidak mendapat rusun. Padahal, rumah liar mereka yang berada di bantaran kali bakal digusur pada hari ini, Selasa (23/12/2014).

"Anda mau bebasin Jakarta dari banjir enggak? Masalahnya semua sungai di Jakarta itu sudah didudukin warga. Sudah ada sheet pile (dinding turap dibangun), dibayar (kerahiman) eh, pada balik lagi (ke pinggir sungai)," kata Basuki di Balai Kota.

Tidak ada perlawanan dari belasan warga itu. Mereka hanya mengangguk mendengarkan berbagai pernyataan Basuki.

Basuki menceritakan, berdasarkan pengalamannya memimpin Ibu Kota, apabila ada 500 rumah yang digusur, Pemprov DKI akan menyediakan 500 unit rusun. Ternyata, lebih dari setengah warga itu adalah penyewa. Jadi, jika mendapat unit rusun, mereka justru menjual lagi rusun tersebut kepada pihak lain.

"Supaya apa? Supaya waktu penyewa keluar, dia masukin saudaranya, temennya yang punya KTP DKI supaya mereka dapat jatah. Nah, begitu dapat 10 unit rusun, kamu mau enggak tinggal di rusun? Enggak mau juga. Karena kamu memang punya rumah kan dan tujuannya rusun buat disewain," kata Basuki lagi.

Pria yang akrab disapa Ahok itu menyebut warga korban penggusuran masih memiliki mental kuat untuk mengungsi di tempat pengungsian sementara selama 1-3 hari. Terlebih lagi, jika warga memiliki rumah sendiri, mereka memilih tidak akan mengungsi ke rusun.

Nada suaranya langsung meninggi dan raut mukanya memerah ketika ada yang bertanya apakah Pemprov DKI anti-orang miskin.

"Kami justru bela orang miskin. Selama ini, kalau kamu punya 10 rumah dan kamu sewain itu kamu miskin atau kaya? Ya kayalah, yang teriak-teriak itu biasanya orang kaya yang rezekinya diambil. Orang miskin sekarang enggak pernah dapat rusun karena rusunnya beli sama oknum pakai harga tinggi, ditipu melulu," kata Basuki dengan nada suaranya yang meninggi.

Warga yang melihat dan mendengar pernyataan Basuki saat diwawancara wartawan pun hanya mengangguk-angguk saja. (KOMPAS.com)

Kapolda Jatim : Adi Margono Sudah Lama Masuk DPO Densus 88


Surabaya - WARAA - Adi Margono, terduga teroris, yang ditangkap Densus 88 Mabes Polri, Senin (22/12/2014) malam di Banyuwangi ternyata sudah lama diincar, dan masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO).

"Yang di Banyuwangi sudah lama DPO, sebelumnya juga ditangkap satu orang di Lamongan," kata Kepala Polda Jatim, Irjen Pol Anas Yusuf, usai memimpin apel pasukan Operasi Lilin Semeru 2014 di Mapolda Jatim, Selasa (23/12/2014).

Jawa Timur, kata Anas Yusuf, termasuk daerah dengan tingkat kerawanan tinggi untuk kasus teroris dari 11 daerah lainnya di Indonesia. "Makanya kami terus tingkatkan keamanan, apalagi menjelang momentum Natal seperti ini," kata Anas Yusuf.

Adi Margono di tangkap di rumahnya di Kelurahan Kebalenan, Kecamatan Banyuwangi, Kabupaten Banyuwangi kemarin malam sekitar pukul 19.15 WIB. Sehari-harinya, dia dikenal sebagai pedagang kerupuk ikan.

Sebelumnya, pada Minggu (21/12/2014) pukul 20.15 WIB, Densus 88 juga menangkap pedagang ayam, Tony Sangaralo alias Toni alias Amir alias Fadhil alias Abu Sauqi (36), terduga teroris di Desa Kentong, Kecamatan Glagah, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Tony diduga terlibat dengan kelompok teroris pimpinan Dulmatin.  (KOMPAS.com)