Jumat, 21 November 2014

Surat Cinta Termahal di Dunia Seharga Rp 360 Juta


Surat cinta termahal di dunia dari Nelson untuk Hamilton

WARA – Mungkin ini adalah surat cinta paling mahal di dunia. Harganya dibanderol mencapai Rp 360 juta. Surat ini merupakan ungkapan kegembiraan pria karena anaknya sudah lahir. Namun yang menjadi masalah adalah anak itu adalah buah dari cinta terlarang mereka. Terungkap juga ketakutan mereka dalam surat tersebut. Takut kalau hubungan ini akhirnya terbongkar.

Surat itu dikirimkan Lord Nelson kepada selingkuhannya Emma Hamilton. Nelson sebelumnya sudah menikah dengan wanita asal Perancis Fanny Nisbet di tahun 1787.

Perselingkuhannya dengan Emma Hamilton terjadi di tahun 1793 setelah mereka berdua bertemu di Napoli, Italia. Dua tahun kemudian, Nelson lalu pindah ke London dengan Emma and suaminya. Dan anak yang diberi nama Horatia pun lahir pada tahun 1801.

Dalam catatan itu, 12 Februari 1801, Nelson berpura-pura mengatakan bahwa anak itu adalah kepunyaan orang fiktif yang diberi nama Admiral Thomson. Sementara Nelson dan Emma hanyalah orangtua baptis saja. Ia benar-benar takut hubungan ini terbongkar. Dan khawatir juga kalau surat ini nantinya ditemukan.

Dan benar saja. Hubungan ini akhirnya tercium istri Nelson. Ia lalu meminta Nelson memilih antara dia atau Emma. Mereka pun akhirnya resmi bercerai. Empat tahun sebelum Nelson ditemukan terbunuh di tahun 1805. (tribun-medan.com)

Anjing Ini Bisa Deteksi Kanker dan Sudah Selamatkan 551 Orang Pasien



Daisy, anjing pendeteksi kanker (kiri), ketika bertemu Pangeran Charles dari Inggris (kanan)

WARA – Anjing betina ini dianugerahi medali karena berhasil menyelamatkan nyawa banyak orang di daerahnya. Ia bahkan menyelamatkan pemiliknya sendiri dari bahaya penyakit tumor ganas yang sebelumnya bahkan tidak terdeteksi.

 
Perkenalkan, Daisy, seekor anjing Labrador berumur 10 tahun, yang diakui kemampuannya karena telah mendeteksi penyakit kanker di 551 orang pasien. Ia memang bukan anjing biasa yang tiba-tiba mendapat talenta. Sejak masih kecil, Daisy sudah dilatih untuk mencium dan mendeteksi penyakit dari air seni yang diciumnya. Pemiliknya adalah seorang dokter yang bernama Claire. Ia lah yang selalu melatih Daisy mencium penyakit berbahaya melalui bau urinnya.

Claire percaya seekor anjing memang memiliki penciuman yang sangat tajam. Anjing memiliki 300 juta receptors di hidungnya, setara bila dibandingkan dengan 5 juta hidung manusia.

“Cara melatihnya adalah dengan memberikan sampel urin orang-orang yang sudah menderita penyakit berbahaya, termasuk kanker. Makanya ia kemudian terlatih,” terang Claire.

Buktinya, Daisy menemukan kanker di 551 orang pasien dan keakuratannya saat ini mencapai 93 persen. Pasien pertama yang berhasil dideteksinya adalah orang yang mengidap kanker payudara. Dr Guest, Chief Executive di Medical Detection Dogs mengaku Daisy lah yang mendiagnosa penyakitnya itu.

“Ia melompat ke dadaku. Terus berulang-ulang. Padahal sudah kuusir, tapi dia terus melakukannya. Ia bahkan melompat dan mendorongku lebih keras. Padahal biasanya ia tidak sekasar itu. Aku lalu curiga dan mengecek bagian yang didorongnya. Dan beberapa hari kemudian aku sadar ada benjolan kecil. Ini gejala kanker payudara,” kenang dokter ini.

Dan sebelum penyakitnya menyebar, benjolan itu langsung diangkat untuk mencegah penyebaran kanker.
“Kalau bukan karena Daisy, aku mungkin tak mendeteksi ada penyakit itu di tubuhku. Dan mungkin akibatnya akan bertambah parah,” kata Guest.

Daisy kini juga aktif melatih 12 anjing lainnya di Medical Detection Dogs. Ia akan mengajari “juniornya” itu untuk mengetes dan mendeteksi penyakit. Persis seperti yang ia lakukan selama ini. (TRIBUN-MEDAN.com)

Kapuspen TNI: Pembunuh Brigadir Beni Anggota Brigif 7 Rimba Raya


Kepala Pusat Penerangan TNI Mayjen Fuad Basya
Jakarta - WARA,
Kepala Pusat Penerangan TNI Mayor Jenderal Fuad Basya membenarkan bahwa pelaku pembunuhan anggota Brimob Brigadir Beni Sihombing di Binjai, Sumatera Utara, adalah anggota TNI.

“Pelaku berinisial A, pangkat Sersan Dua. Dia anggota Brigif 7 Rimba Raya,” ujar Fuad saat dikonfirmasi Kompas.com, Jumat (21/11/2014) siang.

Usai membunuh Beni, kata Fuad, A langsung menyerahkan diri ke POM TNI Angkatan Darat yang berada tak jauh dari lokasi pembunuhan. Hingga kini, personel POM tengah mengorek kronologis hingga motif tindakan tersebut.

“Pasti yang bersangkutan kena sanksi hukum. Namanya juga membunuh. Kita ikuti saja prosesnya, biar persidangan yang memberikan sanksi,” ujar dia.

Brigadir Beni Sihombing, anggota Kompi A Brimob Polda Medan, Sumatera Utara tewas, Kamis (20/11/2014) malam. Dia ditusuk dengan senjata tajam di sebuah warung tuak, Jalan Juandi, Mencirim, Binjai Timur.

Menurut keterangan warga setempat, pelaku memang sempat cekcok dengan korban sebulan silam. Keduanya baru bertemu lagi pada Kamis malam hingga pembunuhan tersebut terjadi.
Sebelumnya, Kepala Penerangan Komando Daerah Militer I Bukit Barisan Kolonel Samuel Petrus mengatakan, pelaku belum tentu anggota TNI.

“Saat ini kasus itu tengah dalam penyelidikan kami. Nanti kalau sudah dapat informasi, baru bisa saya beri keterangan. Dilihat situasinya dulu,” ucap dia ketika dihubungi. (TRIBUNNEWS.COM)

Wanita di Perancis Dilarang Pakai Hijab dan Kerudung



Perancis - WARA,
Rabu (19/11/2014) lalu, berlokasi di Kompas TV, lima jurnalis wanita di Perancis mengunjungi Kompas Gramedia Group guna berdiskusi mengetahui gerakan para wanita dalam pembangunan di Indonesia.

Salah satu pembahasan menarik dan terbilang mengejutkan adalah mengenai gaya berbusana wanita muslim di Perancis. Ternyata, menurut para jurnalis yang berasal dari kapital mode tersebut, ada larangan mengenakan atribut keagamaan, tak terkecuali hijab dan kerudung.

Kondisi tersebut tentu sangat jauh berbeda dengan kondisi Indonesia. Sebab, tren hijab di Tanah Air terus berkembang dan kaya dengan inovasi busana yang penuh daya pikat. Hal ini tak hanya diakui oleh para hijabers dalam negeri, tetapi juga dari para hijabers mancanegara.

Karima Peyronie, seorang jurnalis yang bekerja di sebuah majalah muslimah Perancis, Magazine Gazelle, mengisahkan bahwa menjadi seorang wanita Islam di Perancis bukan hal yang mudah.

Sebab, tentu saja karena aturan yang melarang mengenakan hijab di tempat-tempat umum.
Namun, kenyataan aturan tersebut tak hanya berlaku di ranah publik, tetapi juga dibatasi di lingkungan rumah sendiri.

Karima menceritakan, ibu rumah tangga muslim di Perancis tak diperbolehkan menjemput anaknya di sekolah atau ikut dalam pertemuan orangtua anak di sekolah jika mengenakan hijab.
Lebih parah, Karima mengatakan bahwa perawat bayi atau anak di rumahnya sendiri akan melepas hijab apabila orangtua anak asuhnya memintanya untuk tak memakai hijab.

Julie Dungelhoff, jurnalis wanita dari stasiun televisi France 24, menambahkan, aturan yang menurutnya paling tak masuk akal adalah saat Pemerintah Perancis melarang hijab bagi para turis. Pernah ada suatu kejadian ketika seorang turis asal Dubai mengenakan hijab dan memasuki suatu obyek wisata. Tiba-tiba, petugas keamanan di obyek wisata tersebut memintanya untuk keluar apabila masih menggenakan hijab.

Karima mengatakan bahwa dalam pelaksanaan peraturan tersebut, banyak wanita di Perancis yang merasakan penolakan.

“Ada sisi wanita muslim di Perancis dapat menerima hal tersebut. Sebab, sedari awal Perancis memang bukan negara agama. Namun, ada saat mereka (wanita muslim) tak dapat menerima hal tersebut,” ujar Karima.

Akhirnya, Karima menjelaskan, rasa penolakan yang dirasakan oleh wanita muslim ini membuat sebagian wanita muslim mengisolasikan diri dan pindah ke pinggir daerah suburban, atau pinggiran kota. Wanita-wanita ini memberontak tak mau bersekolah dan berkumpul dalam satu komunitas.

“Gawatnya dengan berkumpul dalam satu lingkungan dan mengisolasi diri dari lingkungan luar, akhirnya wanita-wanita ini mencuci otak sendiri. Mereka akhirnya pergi ke Suriah bergabung bersama ISIS,” jelas Karima.

Meskipun kasus tersebut terbilang sedikit, tetapi tentunya sangat mengkhawatirkan. Julie menambahkan, sebenarnya bukan hanya kaum muslim yang menjadi minoritas di Perancis, beberapa etnis dari Afrika yang datang pada abad pertengahan sampai sekarang pun masih kesulitan berbaur untuk diterima dengan baik di negara yang populer dengan sebutan kiblat mode dunia tersebut. (TRIBUNNEWS.COM)