Sabtu, 03 Januari 2015

Anak AM Hendropriyono Jabat Komisaris di Telkomsel


Diaz Hendropriyono bersama Joko Widodo (www.kawanjokowi.org)

WARA - Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB), PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) dan Singapore Telecommunications Ltd (SingTel) selaku pemegang saham mayoritas telah menentukan jajaran direksi dan komisaris PT Telekomunikasi Seluler (Telkomsel).

Dalam tapuk kepemimpinan Telkomsel baru itu kini diisi oleh Rariek Adriansaya sebagai Direktur Utama Telkomsel yang menggantikan Alex J Sinaga. Alex kini beralih menjadi Dirut Telkom.

"Penunjukan Ririek Adriansyah serta penetapan direksi Telkomsel yang baru, sejalan dengan strategi perusahaan dalam memperkuat bisnis, organisasi dan sumber daya manusia secara berkelanjutan yang dibutuhkan untuk menjadikan Telkomsel tetap tumbuh," kata VP Public Relation Telkom, Arif Prabowo, dikutip dalam keterangannya beberapa waktu lalu.

Namun, tak hanya soal Dirut Telkomsel yang menjadi perhatian publik, melainkan terselip di jajaran komisaris terdapat nama Diaz Hendropriyono.
Ia menjabat sebagai komisari Telkomsel bersama dengan Heri Sunaryadi, Mukhlis Moechtar, Paul Dominic O'Sullivan, Yuen Kuan Moon, dan Alex J. Sinaga sebagai Komisaris Utama.

Diaz merupakan anak Abdullah Makhmud Hendropriyono atau yang sering dikenal AM Hendropriyono. Ia merupakan mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) pertama di era Presiden Megawati Soekarnoputri.

Saat Pilpres kemarin, Hendropriyono mempunyai andil untuk kemenangan Jokowi-JK dengan menjadi anggota tim pemenangan. Sementara, Diaz anak bungsu dari Hendropriyono, turut andil dalam membantu kemenangan mantan Wali Kota Solo tersebut dalam pilpres kemarin dengan menjadi pendiri organisasi Kawan Jokowi.

Berdasarkan informasi dari laman kawanjokowi.org, Jumat, 2 Januari 2015, Diaz merupakan pengusaha muda yang berbasis di Jakarta. Usahanya itu meliputi Arena MMA Indonesia, Best Western Bali, Amaris Hotel Pancoran, Andalusia Antar Benua (Western Union), Gold's Gym at Kuningan.

Lulusan Lemhannas PPRA 49 tahun 2013 tersebut pemegang Master of Arts (Hawaii Pacific University), Master of Public Administration (Virginia Tech), dan saat ini ia terdaftar sebagai kandidat Doktor (PhD) bidang Administrasi Negara di Center of Public Administration and Policy (Virginia Tech, USA). (VIVAnews)

Warga Lenteng Agung: Semoga Lurah Susan Dapat Jabatan yang Lebih Baik


Lurah Lenteng Agung, Susan Jasmine Zulkifli saat blusukan di bantaran Kali Ciliwung, di RT 012 RW 02 Kelurahan Lenteng Agung Jakarta Selatan. 

Jakarta - WARA - Warga di Kelurahan Lenteng Agung, Jakarta Selatan berharap Lurah Susan Jasmine Zulkifli dapat bekerja lebih baik setelah dimutasi. Warga mendoakan Susan mendapat kenaikan jabatan atau pangkat.


"Harapan kita, Bu Susan bisa naik pangkat dan jabatan jadi lebih baik. Misalnya jadi wakil camat. Karena perjuangan dia cukup berat. Senang kita kalau dia naik pangkat, tetapi ya agar juga jangan di sini. Pindah ke tempat lain yang lebih cocok," kata Naseri Nasrulloh (54), Ketua RW 03 Kelurahan Lenteng Agung, kepada Kompas.com, di kediamannya, Jumat (2/1/2015).

Naseri secara terbuka mengaku bahwa dia adalah warga yang menolak penempatan Susan di Kelurahan Lenteng Agung.

Sebelum menjabat sebagai ketua RW di sana, ia menjadi ketua dalam penolakan terhadap penempatan Susan.

Dia dan kelompoknya mengkritisi kebijakan Pemprov DKI yang menempatkan Susan sebagai lurah di sana. "Yang pasti kalau di Lenteng Agung ini sejak dari zaman Belanda, masih zamannya kepala desa, itu enggak pernah yang namanya non muslim seperti itu. Sehingga enggak pas juga. Kan juga berimbas kepada kinerja lurah itu sendiri," ujar Naseri.

Ari (30) warga RT 11 RW 03 di Kelurahan Lenteng Agung lainnya, berharap Susan dapat menjalani tugas di tempat barunya dengan lebih baik. "Jalani tugas dengan baik, mudah-mudahan sabar ngadepinnya," ujar Ari. Ia menganggap Susan sudah memimpin Lenteng Agung dengan baik.

"Kalau menurut saya sebenarnya selama dia menjabat bagus-bagus saja. Lancar-lancar saja, malah lebih cepat. Mungkin Bu Lurah Susan karena statusnya, warga enggak suka," ujar Ari.

Susan dimutasi oleh Gubernur DKI Jakarta Basuki "Ahok" Tjahaja Purnama menjadi Lurah Gondangdia, Jakarta Pusat per Jumat (2/1/2015). Ia pun akan mulai bekerja di kelurahan yang ada di Kecamatan Menteng itu mulai Sabtu (3/1/2015) besok.

Susan mengaku tidak keberatan menjabat menjadi lurah di kawasan lain. Menurut dia, tugas yang diberikan kepadanya adalah amanah yang harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. (Tribun)

Stop Dana Bansos, MUI Tuduh Jokowi Sengaja Hancurkan Islam



Jakarta - WARA - Kebijakan Presiden Joko Widodo menghentikan dana bantuan sosial (bansos) rupanya membuat Majelis Ulama Indonesia (MUI) kebakaran jenggot. Wasekjen Majelis Ulama Indonesia (MUI), Tengku Zulkarnain menilai, rezim Jokowi sengaja ingin menghancurkan Islam dari peran politik, ekonomi dan budaya.

“Islam sengaja dihancurkan dan dihilangkan. Dengan tidak mencairkan bansos jelas-jelas membunuh ormas-ormas terutama ormas Islam,” kata Tengku, di Jakarta, belum lama ini.

Upaya penghancuran Islam  oleh rezim Jokowi juga terlihat dari penghancuran masjid untuk pembangunan gedung perkotaan yang jelas dimonopoli oleh budaya asing dan kapitalis.

Tengku menilai, pemerintah tidak adil terhadap umat Islam Indonesia yang notabene merupakan penduduk mayoritas. Timbulnya banyak konflik selama ini juga dianggap karena umat Muslim sebagai kaum mayoritas justru dipinggirkan.

Tengku mengingatkan, jika pemerintah tidak sungguh-sungguh memperhatikan umat Muslim sebagai mayoritas, maka konflik akan terus tersulut di 2015.

Tengku menyoroti kepedulian Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang dianggap kurang berpihak kepada Islam.

“Setiap ada perayaan umat Islam tidak pernah datang. Tapi kemudian rela jauh-jauh pergi ke Papua. Ini kan secara transparan rakyat melihat pemerintah berpihak ke minoritas,” Papar Tengku. (bijaks)

Ini Komentar Jokowi soal Penghapusan Subsidi Untuk Premium



Jakarta - WARA  - Pemerintah mencabut subsidi untuk bahan bakar (BBM) RON 88 atau premium. Presiden Joko Widodo menyatakan, dengan pencabutan subsidi itu, pemerintah akan makin mudah dalam menyusun Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

"Kemarin juga sudah kita turun lagi BBM, karena harga minyak dunia turun, sehingga harga premium kita akan mengikuti harga pasar. Ini lebih menggampangkan kita dalam menghitung APBN kita," ujar Presiden yang akrab dipanggil Jokowi ini di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (2/12/2014).

Dengan situasi fiskal yang lebih baik di tahun 2015, Presiden pun mengatakan optimistis ekonomi Indonesia akan jauh lebih baik. "Ini menambah optimisme kita ekonomi kita lebih baik. Jangan ada satu orang pun yang pesimis karena ke depan saya optimis," ucap dia.

Pada kesempatan itu dia pun menjelaskan kembali mengenai alasan pemerintah sempat menaikan harga BBM pertengahan November lalu. Menurut Jokowi, hal itu terpaksa dilakukan karena situasi fiskal yang sangat menekan APBN.

"Tetapi memang secara kalkulasi harus dinaikan tidak ada alternatif dan itu melonggarkan ruang fiskal kita, ada sekitar Rp 240 trliun yang bisa digunakan untuk membangun infrtastuktur. Semuanya kita bangun," kata dia.

Seperti diberitakan, mulai 1 Januari 2015, premium tidak masuk lagi ke dalam BBM tertentu bersubsidi alias tidak akan mendapatkan subsidi lagi. Premium RON 88 masuk dalam jenis BBM khusus penugasan dan BBM umum nonsubsidi. Sedangkan BBM tertentu bersubsidi tinggal  minyak tanah dan solar masuk dalam BBM tertentu bersubsidi.

Meski tidak disubsidi, harga premium turun menjadi Rp 7.600 per liter, seiring dengan anjloknya harga minyak dunia yang mendekati level 50 dollar AS per barel. (KOMPAS.com)

Masyarakat Kecewa Pertamina Naikkan Harga Elpiji 12 Kg



Jakarta - WARA - Kemarin, PT Pertamina (Persero) resmi menaikkan harga gas elpiji nonsubsidi 12 kilogram (kg) sebesar Rp 1.500 per kg. Alasannya untuk menekan kerugian Pertamina dalam penjualan gas elpiji 12 kg yang mencapai Rp 5 triliun.
 
Dengan begitu, harga gas elpiji nonsubsidi 12 kg menjadi Rp 134.700 per tabung. Kenaikan harga gas elpiji 12 kg disesalkan masyarakat. Apalagi, tidak ada pemberitahuan terlebih dulu.

Salah satu pengguna elpiji nonsubsidi, Dessy (23) mengaku kecewa dengan keputusan Pertamina. "Kecewa sih, enggak ada pemberitahuan dulu," ujar Dessy kepada merdeka.com di Jakarta, Sabtu (3/1).

Karena harga gas elpiji 12 kg semakin mahal, Dessy menegaskan bakal beralih menggunakan gas elpiji subsidi atas gas 3 kg. Dia bisa memberi beberapa tabung gas 3 kg untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.
Wajar Desy memilih membeli gas 3 kg yang jauh lebih murah. Dia hanya mengeluarkan uang sebesar Rp 72.000 untuk mendapatkan gas setara 12 kg yang kini harganya mencapai Rp 134.700.

"Harga gas elpiji 3 kg kan harganya Rp 18.000 per tabung. Jadi saya keluarin Rp 72.000 untuk 4 tabung (3 kg) dan itu setara gas elpiji 12 kg," kata dia.

Sebelumnya, Tanpa pemberitahuan ke publik, PT Pertamina (Persero) memutuskan untuk menaikkan harga elpiji nonsubsidi kemasan 12 Kg sebesar Rp 1.500 per Kg. Harga baru ini berlaku mulai tanggal 2 Januari pukul 00.00 waktu setempat atau hari ini.

Vice Presiden Corporate Communication Pertamina Ali Mundakir mengatakan kebijakan korporasi ini merupakan pelaksanaan Roadmap Penyesuaian Harga Elpiji 12 kg secara berkala untuk menuju harga keekonomian sesuai dengan kaidah bisnis korporasi.

Dengan penyesuaian ini, harga jual rata-rata elpiji 12 Kg nett dari Pertamina menjadi Rp 9.069 per Kg dari sebelumnya Rp 7.569 per Kg.

"Apabila ditambahkan dengan komponen biaya lain untuk transport, pengisian di SPPBE, margin Agen dan PPN, maka harga jual di agen menjadi Rp 11.225 per Kg atau Rp 134.700 per tabung dari sebelumnya Rp 9.575 per Kg atau Rp 114.900 per tabung," ucap Ali ketika dihubungi merdeka.com di Jakarta, Jumat (2/1).

Dengan harga baru ini maka harga elpiji 12 Kg telah mencapai harga keekonomian. Penurunan harga minyak dunia yang berpengaruh pada penurunan harga CP Aramco telah membantu mempercepat pelaksanaan Roadmap penyesuaian harga elpiji 12 Kg lebih awal dari yang seharusnya dijadwalkan pada pertengahan Juli 2016.