Selasa, 16 Desember 2014

Cukang Teneuh "Green Canyon"-nya Indonesia Ada di Pangandaran



WARA - Anda tentu kenal dengan Grand Canyon atau bisa disebut Ngarai Besar adalah sebuah ngarai tebing-terjal, yang terbentuk oleh Sungai Colorado, di utara Arizona. Ngarai ini merupakan satu dari Tujuh Keajaiban Dunia dan sebagian besar berada di Taman Nasional Grand Canyon. Menjelang libur akhir tahun dan tahun baru 2015, wisata ini sangat saya rekomendasikan untuk anda kunjungi.

Jika anda merasa terlalu jauh berkunjung ke Grand Canyon yang ada di Amerika sana, sekarang Anda tidak perlu terlalu kecewa lagi. Indonesia ternyata juga memiliki Green Canyon sendiri yang tak kalah cantiknya. Sebenarnya tempat ini punya nama asli yaitu Cukang Taneuh. Nama Green Canyon sendiri dipopulerkan oleh seorang warga Perancis pada tahun 1993. Sedangkan Cukang Taneuh punya arti yaitu jembatan tanah. Hal itu dikarenakan di atas lembah dan jurang Green Canyon terdapat jembatan dari tanah yang digunakan oleh para petani di sekitar sana untuk menuju kebun mereka.
Green Canyon Indonesia ini terletak di Desa Kertayasa, Kecamatan Cijulang, Pangandaran, Ciamis Jawa Barat. Dari Kota Ciamis sendiri berjarak sekitar 130 km atau jika dari Pangandaran berjarak sekitar 31 km. Di dekat objek wisata ini terdapat objek wisata Batukaras serta Lapangan Terbang Nusawiru.

Photo By Green Canyon Group Facebook Pada Sabtu, 22 Mei 2010 08:47 WIB
Objek wisata mengagumkan ini sebenarnya merupakan aliran dari sungai Cijulang yang melintas menembus gua yang penuh dengan keindahan pesona stalaktif dan stalakmitnya. Selain itu daerah ini juga diapit oleh dua bukit, juga dengan banyaknya bebatuan dan rerimbunan pepohonan. Semuanya itu membentuk seperti suatu lukisan alam yang begitu unik dan begitu menantang untuk dijelajahi.
 
Untuk mencapai lokasi ini wisatawan harus berangkat dari dermaga Ciseureuh. Kemudian melanjutkan perjalanan dengan menggunakan perahu tempel atau kayuh yang banyak tersedia di sana. Jarak antara dermaga dengan lokasi Green Canyon sekitar 3km, yang bisa ditempuh dalam waktu 30-45 menit. Sepanjang perjalanan kita akan melewati sungai dengan air berwarna hijau tosca. Mungkin dari sinilah nama Green Canyon berasal.

Begitu terlihat jeram dengan alur yang sempit yang sulit dilewati oleh perahu berarti sudah sampai di mulut Green Canyon, di mana airnya sangat jernih berwarna kebiru-biruan. Di sinilah awal petualangan menjelajah keindahan objek wisata ini dimulai. Dari sini wisatawan dapat melanjutkan perjalanan ke atas dengan berenang atau merayap di tepi batu. Disediakan ban dan pelampung bagi yang memilih untuk berenang. Meski harus menempuh cara seperti ini, perjalanan dijamin sepenuhnya aman. Bahkan untuk anak-anak 6 tahun ke atas cukup aman untuk menyusuri aliran sungai dengan menggunakan ban dan dipandu oleh pemilik perahu yang disewa.
Perjalanan akan terus berada dalam cekungan dinding terjal di kanan kiri aliran sungai. Dinding-dinding untuk menyajikan keindahan tersendiri, yang paling unik berbentuk menyerupai sebuah gua yang atapnya sudah runtuh. Selain itu di bagian atas beberapa kali pengunjung akan melewati stalaktit-stalaktit yang masih dialiri tetesan air tanah. Setelah beberapa ratus meter berenang, akan terlihat beberapa air terjun kecil di bagian kiri kanan yang begitu menawan. Jika diteruskan berenang maka pengunjung akan sampai pada ujung jalan, di mana terdapat gua yang dihuni oleh banyak kelelawar.
 
Alur aliran sungai ini cukup panjang, sehingga pengunjung dapat berenang sepuas-puasnya sambil mengikuti arus dari air terjun. Selain pemandangan indah di atas permukaan air, Green Canyon akan menjadi surga tersendiri bagi yang suka menyelam. Tinggal membawa beberapa alat selam, pemandangan menakjubkan cekungan-cekungan di dalam air siap untuk ditelusuri dan dinikmati, lengkap dengan beragamnya ikan-ikan yang berenang ke sana kemari di dasar lubuk. Bagi yang suka menantang adrenalin, dapat meloncat dari sebuah batu besar dengan ketinggian 5m ke dasar lubuk yang dalam.

Bagi Anda yang benar-benar ingin menikmati keindahan objek wisata Green Canyon harus paham dengan musim-musimnya. Karena saat terbaik untuk bisa menikmati keindahaan objek wisata ini adalah beberapa saat setelah masuk musim kemarau. Karena jika pada musim hujan, dikhawatirkan deras sungai dan warna airnya pun akan menjadi coklat.
 
Sebelum Anda memutuskan untuk ke Green Canyon, sebaiknya terlebih dahulu menyiapkan uang tunai yang cukup. Pasalnya, disana tidakada bank atau ATM. Untuk ATM, tempat penginapan dan fasilitas akomodasi yang lengkap bisa Anda dapatkan di Pangandaran.

Untuk akses berperahu, disana tersedia armada perahu yang cukup banyak. Ada sekitar 100 unit perahu yang dapat mengantarkan Anda untuk menelusuri objek wisata ini. Pada setiap perahu akan dilengkapi seorang juru dan tugas batu untuk memandu Anda dalam perjalanan.

Rute perjalanan yang harus ditempuh untuk menuju Green Canyon yaitu :

Dari JAKARTA dan BANDUNG,

Anda bisa mengikuti Rute Arah ke Jawa Tengah dengan melalui Kota Tasik-Ciamis Kota-Kota Banjar- Pangandaran.
Dari JAWA TIMUR dan JAWA TENGAH,
Untuk JAWA TIMUR anda dapat menuju Arah JAWA TENGAH terlebih dahulu, lalu dilanjutkan untuk mengambil jalur ke Jawa Barat dengan mengikuti jalur Arah (Purworejo-Kebumen-Wangon-Banjar- Pangandaran-Ciamis).

Bagi Anda yang menggunakan kendaraan umum, tentunya tidak usah repot memikirkan rute. Karena sopir akan membawa Anda Langsung ke Pangandaran(Green Canyon). Tapi yang perlu diperhatikan yaitu tempat Anda Menginap disana, anda bisa memilih penginapan yang terdapat di hotel-hotel yang tersedia banyak di Pangandaran atau bisa juga menginap di objek wisata Batukaras yang sangat berdekatan dengan Green Canyon.

Selamat Menikmati Liburan Panjang dengan Keluarga Anda, Kunjungi dan Nikmati Potensi Objek Wisata Kabupaten Ciamis yang lain, yang tidak kalah menariknya dengan Green Canyon.

Dua Narapidana Kasus Narkoba Dieksekusi Mati Lebih Dulu


Nusakambangan

Jakarta - WARA - Kejaksaan Agung memastikan ada dua terpidana kasus narkoba yang akan dieksekusi mati terlebih dahulu. Pelaksanaan eksekusi mati ini kemungkinan akan dilakukan di Nusakambangan.

Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejaksaan Agung Tony Tribagus Spontana mengatakan, teknis eksekusi berdasarkan undang-undang akan dilakukan, yakni tembak mati.

”Yang bisa dipastikan tahap pertama akan dilakukan (eksekusi) pada kasus narkoba,” kata Tony, Selasa 16 Desember 2014.

Ditambahkan Tony, terpidana mati yang berada di luar Nusakambangan kemungkinan tidak akan dieksekusi secara bersamaan. Hingga saat ini, Kejaksaan Agung masih mempertimbangkan waktu dan keamanan proses eksekusi.
Karena itu, waktu dan kepastian tempat belum bisa ditentukan karena masih menunggu kelengkapan persiapan. Koordinasi dengan Polri untuk pelaksanaan eksekusi mati sudah dilakukan. (VIVAnews)

Februari 2014: Heboh Foto Asmirandah Ibadah di Gereja dan Bubarnya Coboy Junior



Asmirandah dan Jonas Rivanno
Jakarta - WARA - Sama seperti di bulan pertama tahun 2014, pada medio Februari berita selebritas masih berkutat dan menyoroti soal artis cantik Asmirandah yang berpindah keyakinan. Bahkan foto-fotonya saat beribadah di Manado, Sulawesi Utara beredar.
Pasangan selebriti Asmirandah dan Jonas Rivanno mengikuti ibadah Kebaktian Kebangkitan Rohani (KKR) di Kelurahan Paal IV, Kota Manado, Sulawesi Utara (Sulut), Kamis (6/2/2014) sore. Ibadah yang berlokasi di sebuah daerah yang parah akibat banjir bandang ini dipimpin Gilbert Lumoindong.
Michele, warga Manado yang ikut ibadah menuturkan sejak awal ibadah pasangan artis ini sudah ambil tempat duduk di bagian depan. Mereka mengenakan kaos putih bertuliskan 'I Love Manado.'
Sementara itu, foto-foto mereka sedang menyanyi penyembahan pun beredar. Asmirandah dan Jonas yang masih berdarah Manado ini, dalam beberapa foto yang beredar tersebut sedang menutup mata sambil menyanyi dengan raut muka yang sangat serius.
Dalam ibadah ini Pdt Gilbert Lumoendong bernubuat untuk Kota Manado dan Indonesia dari pembacaan Alkitab yaitu 2 Timotius 2: 1. Asmirandah dijadwalkan mengikuti ibadah di empat lokasi di Manado, saat berita diturunkan pada pukul 15.38 Wita pasangan selebriti ini menuju Gereja Kolam Bethesda Tikala Kumaraka.
Selain heboh soal Asmirandah di bulan kasih sayang 2014 juga dikejutkan dengan bubarnya Coboy Junior. Boyband Coboy Junior (CJR), yang terdiri dari Alvaro Maldini Siregar (Aldi), Bastian Bintang Simbolon (Bastian), Iqbaal Dhiafakhri Ramadhan (Iqbaal), dan Teuku Rizky Muhammad (Rizky), bubar sudah.
Mereka berpelukan di panggung sebagai pelukan terakhir sebagai grup pada konser perpisahan, semalam.

Untuk menandai bubarnya grup vokal empat cowok ini, mereka menggelar Farewell Coboy Junior di Tennis Indoor Senayan, Jakarta, Minggu (23/2/2014) malam, mulai dari kira-kira pukul 19.20 WIB. 

Setelah CJR membawakan 21 lagu, suasana konser mereka yang meriah itu mendadak hening. Keempat remaja berkostum hitam itu menyampaikan pembubaran boyband yang telah dibentuk sejak tiga tahun lalu.

"Kita (kami) berempat malam ini, saat ini, mau menjelaskan yang terjadi. Banyak berita beredar beberapa minggu terakhir ini dan itu memang bener adanya," ujar Kiki di panggung.
"Terima kasih, luar biasa banget. Saat ini juga mesti bilang satu dari kita harus mengundurkan diri. Apa pun yang terjadi, harus tetap support, karena kita satu keluarga," tutur Iqbal.
"Mau kasih tahu bahwa gue sebenernya yang mengundurkan diri dari Coboy Junior. Gue makasih banget, spektakuler dengan kalian bertiga," kata Bastian, yang berambut keriting.

Tangis dan teriak histeris para penonton pecah, yang kebanyakan perempuan, pun pecah. Begitu pula dengan para personel CJR. Mereka menangis dan berpelukan.

"Pertama kali bikin Coboy Junior, kami bertekad buat berempat. Ada yang kurang dan keluar, bukan Coboy Junior lagi. Kalau Bastian keluar, Coboy Junior enggak ada lagi," tekan Kiki.

Mereka saling bermaafan di panggung. Iqbaal, Aldi, dan Kiki juga mendoakan Bastian. Bastian berpamitan dan membawakan lagu populer dari band KotaK, "Pelan-pelan Saja". (Tribun)

Komisioner KPI Sebut Masyarakat Seperti Dipaksa Menonton Tayangan Persalinan Ashanty



Jakarta - WARA - Program reality show 'Anakku: Buah Hati Anang Ashanty’ yang ditayangkan di RCTI, Minggu (14/12) malam, membuat Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) angkat bicara.

KPI menilai program yang menayangkan proses persalinan Ashanty  secara live tersebut seperti memaksa masyarakat untuk ikut menyaksikan tayangan tersebut.

"Masyarakat seperti dipaksa menonton itu. Itu enggak baik," ujar Agatha Lilly, Komisioner KPI, saat dihubungi, Selasa (16/12/2014).

KPI menilai ruang publik harus dijaga semua pihak. Oleh karena itu sudah sepantasnya agar menggunakan frekuensi publik dengan bijaksana.

Jika pun ada tayangan semacam itu, Agatha mengatakan seharusnya dilakukan dalam durasi yang tidak terlalu panjang. Apabila dilakukan hingga berjam-jam, itu berarti mengambil hak masyarakat untuk mendapatkan informasi.

"Acara seperti kelahiran buah hati Anang dan Ashanty menurut KPI boleh saja disiarkan tapi ada azas kepantasan dan kewajarannya. Durasi jangan lebih dari 1 jam. Kalau lebih dari 1 jam, apalagi sampai 3,5 jam, ada hak masyarakat yang terlanggar," ungkapnya. (Tribun)

ICW : Dana kampanye pilpres, Prabowo Rp 166 M dan Jokowi Rp 312 M


Rilis ICW soal dana kampanye pilpres.

Jakarta - WARA - Indonesia Corruption Watch (ICW) merilis hasil kegiatan monitoring dan pemantauan Pilpres 2014. Fokus utama ICW adalah menyoroti masalah pengelolaan dana kampanye pilpres bagi masing-masing pasangan capres dan cawapres.

Koordinator monitoring anggaran ICW Firdaus Ilyas mengatakan, sehatnya proses demokrasi bisa dimulai dari penyelenggaraan pemilu yang transparan dalam aspek pendanaannya.

Namun Firdaus menyayangkan kenyataan yang ada, di mana sejak masa kampanye, banyak pengelolaan dana kampanye peserta pilpres yang tidak transparan dan akuntabel.

"Total dana kampanye pasangan Prabowo-Hatta mencapai Rp 166,6 miliar, sementara pasangan Jokowi-JK sekitar Rp 312 miliar. Yang menjadi permasalahan adalah, apakah sumber dana ini wajar?" kata Firdaus di diskusi publik bertema 'Mendorong Transparansi dan Akuntabilitas dalam Pemilu Presiden', di sebuah hotel, Jalan MH. Thamrin, Jakarta Pusat, Senin (15/12).

Dalam temuan ICW, Firdaus mendapati sejumlah kenyataan mengenai ketidakterbukaan sumber dana kampanye dari masing-masing capres. Dirinya bahkan menjabarkan sejumlah data hasil temuan kajiannya, mengenai asal muasal sumber dana kampanye yang dimaksud tersebut.

"Data yang ada di kami itu menunjukkan bahwa lebih dari 50 persen sumber dana bagi kedua pasangan capres itu, berasal dari pihak ketiga, yang dalam hal ini merupakan sumber dana dari perseorangan. Lalu berdasarkan 97 persen sampling dari kedua pasangan, kami temui ada sekitar 5,2 persen penyumbang dana yang fiktif, karena tidak ada kejelasan identitas penyumbang dana-dana tersebut," ujar Firdaus.

"Penyumbang dana kampanye yang fikif itu di antaranya adalah 2 pihak penyumbang bagi pasangan Prabowo-Hatta, dan 3 pihak penyumbang bagi pasangan Jokowi-JK," katanya menambahkan.

Diskusi publik garapan ICW ini juga menghadirkan beberapa pihak lain, yaitu KPU, Bawaslu, Polri, Dirjen Pajak, PPATK, dan Burhanuddin Muhtadi sebagai pengamat politik.

Sampai sesi kedua diskusi, ada sejumlah narasumber yang berhalangan hadir, sehingga pemaparan dilanjutkan oleh narasumber lain yang sudah siap menyampaikan temuannya pada pilpres lalu, seperti dari PPATK dan pihak Polri. [Merdeka.com]