Selasa, 01 Oktober 2013

Soeharto Dan Peristiwa G30S 1965

Soeharto.jpg Dalam sejarah yang disusun oleh Orde Baru, Gerakan 30 September (G30S) digerakkan oleh Partai Komunis Indonesia (PKI). Gerakan yang dipimpin oleh Kolonel Untung itu dituding berniat merebut kekuasaan pemerintahan yang sah.

Namun, tudingan itu tidak pernah terbukti. Bahkan pengadilan Mahkamah Militer Luar Biasa (Mahmilub), yang mengadili pentolan G30S dan tokoh-tokoh PKI, gagal membuktikan tuduhan tersebut. Malahan, berbagai kesaksian dan penelitian terbaru mengenai peristiwa tersebut justru membantah tudingan tersebut.

Kini, setelah Orba runtuh, perlahan-lahan kebenaran terkuak. Keabsahan Soeharto sebagai ‘pahlawan’ dalam kejadian tersebut mulai dipertanyakan. Belakangan, ada banyak analisa yang mengaitkan Soeharto dalam G30S tersebut.

Dari berbagai analisa itu, saya menyimpulkan ada tiga hal yang cukup mendasar. Pertama, Soeharto sudah mengetahui rencana G30S. Kedua, beberapa aktor kunci G30S adalah anak buah atau, setidaknya, dikenal sebagai ‘orang dekat’ Soeharto. Ketiga, G30S hanya dalih bagi Soeharto untuk menghabisi PKI dan menggulung kekuasaan Soekarno.

Yang pertama jelas menarik. Informasi bahwa Soeharto sudah mengetahui rencana G30S berasal dari Kolonel Abdul Latief, salah seorang aktor penting dalam G30S. Dalam pledoinya Kolonel Latif mengungkapkan, dua hari sebelum peristiwa Gestok, Ia dan keluarganya mengunjungi keluarga Soeharto. Saat itu, ia sempat menanyakan isu Dewan Jenderal kepada Soeharto. Soeharto mengaku sudah mendengar isu itu dari anak-buahnya dari Jogja bernama Subagyo. Soeharto menyatakan akan dilakukan penyelidikan.

Reaksi dingin Soeharto menimbulkan tanda-tanya. Sebagai Panglima Kostrad, yang bertanggung-jawab atas keselamatan pemerintahan dan Presiden, Soeharto seharusnya bereaksi aktif terkait laporan tentang rencana kudeta Dewan Jenderal itu.

Selain itu, dalam buku seorang penulis AS, Arnold Brackman, yang berjudul The Communist Collapse in Indonesia, diungkapkan wawancara dengan Soeharto di tahun 1986. Dalam wawancara itu Soeharto mengatakan, dua hari sebelum 30 September 1965, anak laki-lakinya yang berusia 3 tahun ketumpahan sup panas dan dibawah ke rumah sakit. Pada malam 30 September, banyak rekan-rekan Soeharto yang menjenguk, termasuk Kolonel Latief. Menurut Soeharto, kedatangan Latief malam itu, hanya beberapa jam menjelang kejadian, adalah untuk menanyakan kesehatan anaknya.

Namun, Latief membantah itu dalam pledoinya. Menurutnya, kunjungannya ke rumah sakit, selain untuk menjenguk anak Soeharto yang terkena musibah, juga untuk “melaporkan akan adanya gerakan pada besok pagi harinya untuk menggagalkan rencana Coup D’etat dari Dewan Jendral.” Dan, kata Kolonel Latif, inisiatif Latief melapor ke Soeharto itu direstui Kolonel Untung dan Brigjend Soepardjo.

Keterangan Kolonel Latief ini tidak berubah. Namun, penjelasan Soeharto terhadap pertemuan itu justru berubah-ubah. Pada tahun 1970, dalam wawancara dengan majalah Der Spiegel Jerman, Soeharto kembali menceritakan kisah pertemuan itu. Saat itu ia ditanyai oleh wartawan begini: “Mengapa tuan Soeharto tidak termasuk daftar jenderal-jenderal yang harus dibunuh?”

Soeharto kemudian menjawab: “Pada jam 11.00  malam Kolonel Latief, seorang dari komplotan kup itu, datang ke rumah sakit untuk membunuh saya, tetapi nampak akhirnya ia tidak melaksanakan rencananya karena tidak berani melakukannya di tempat umum.”

Jelas, keterangan Soeharto berubah-ubah. Sementara keterangan Kolonel Latief tidak berubah. Dengan sendirinya, kita bisa menyimpulkan siapa yang telah mengarang kebohongan. Selain itu, jawaban Soeharto dalam wawancara dengan wartawan Der Spiegel juga tidak masuk akal. Dalam teori manapun, tidak masuk akal seorang perancang gerakan membuat aksi menghebohkan, yakni membunuh, hanya beberapa jam sebelum aksi sebenarnya akan dimulai.

Namun, dari uraian di atas kita bisa menyimpulkan. Satu, Soeharto mengetahui perihal rencana sejumlah perwira Angkatan Darat untuk melancarkan gerakan kontra-kudeta terhadap Dewan Jenderal. Dua, kendati Soeharto mengetahui gerakan tersebut, tetapi ia tidak mengambil langkah atau tindakan untuk mencegah gerakan itu.
Yang kedua juga cukup menarik. Beberapa analisa sejarah menunjukkan bahwa Soeharto punya hubungan dekat dengan para pelaku G30S, seperti Kolonel A Latif, Kolonel Untung, dan Sjam Kamaruzzaman. Baiklah, kita akan membahasnya satu per satu.

Mengenai hubungan Kolonel Latif dan Soeharto, saya mencoba merujuk pada dua kesaksian, yakni Subandrio dan AM Hanafie. Subandrio adalah Wakil Perdana Menteri/Menteri Luar Negeri/Kepala Badan Pusat Intelijen di saat peristiwa G30S terjadi. Sedangkan AM Hanafie adalah bekas aktivis pemuda revolusioner di Menteng 31, yang pada saat kejadian ditunjuk oleh Bung Karno sebagai Dubes di Kuba.

Menurut Subandrio, Kolonel Latief adalah bekas anak buah Soeharto semasa di Kodam Diponegoro. Soeharto dan Latief sudah saling-kenal semasa masih di Jogjakarta. Kata Subandrio, Latief memegang rahasia skandal Soeharto saat serangan umum 1 Maret 1949 di Jogjakarta. Menurut cerita Latief, sementara pasukan kompinya menyabung nyawa melawan tentara Belanda, Soeharto malah sedang santai makan soto babat.

Pasca kejadian itu, Soeharto-Latief berada di kesatuan berbeda. Soeharto di Pangkostrad, sedangkan Latief menjadi komandan Brigade Infanteri I Jayasakti Kodam Jaya. Karena posisi Latief cukup stategis, yakni penanggung-jawab keamanan Jakarta, Soeharto kembali membangun hubungan dengan Latief. Soeharto mengunjungi Latief dan keluarganya saat ada acara khitanan anaknya.

Dalam pledoinya Latief juga mengaku kedekatannya dengan Soeharto. “Memang saya pribadi adalah bekas anak buah beliau (Soeharto) sewaktu menjabat sebagai Dan Kie 100 yang langsung organisatoris dan taktis pada Brigade X pada waktu jaman gerilya,” kata Latief. Di bagian lain, Latief menambahkan, “Saya sebagai anak buah sekalipun sudah terlepas dalam ikatan komando dengan Bapak Jendral Soeharto di manapun beliau berada selalu saya temui. Dengan sendirinya timbul keakraban secara kekeluargaan di luar dinas.” Bahkan, menurut pengakuan Hanafie, karena rumah Soeharto terlalu kecil, ia beberapa kali mengupayakan rumah untuk Soeharto.

Sementara versi AM Hanafie, dalam bukunya AM Hanafie Menggugat, menyatakan bahwa Latief adalah bekas anggota Pesindo (Pemuda Sosialis Indonesia). Pada saat peristiwa Madiun 1948 meletus, Latief berhasil meloloskan diri. Akhirnya, pasca kejadian, Latief menggabungkan pasukannya di bawah batalyon Overste Soeharto. Sejak itulah Latief menjadi anak buah Soeharto.

Kemudian relasi Soeharto dan Kolonel Untung. Di sini, saya merujuk pada tiga kesaksian: Subandrio dan Kolonel Latief. Menurut Subandrio dalam bukunya Kesaksianku Tentang G30S menceritakan bahwa Untung juga adalah anak buah Soeharto semasa di Divisi Diponegoro. Sekitar tahun 1950-an, keduanya pisah kesatuan. Namun, di tahun 1962, mereka disatukan lagi, yakni dalam rangka pembebasan Irian Barat. Saat itu, Soeharto bertindak sebagai Panglima Komando Mandala untuk pembebasan Irian Barat, sedangkan Untung menjadi anak-buahnya di garis depan. Saat itulah Untung dikenal sebagai tentara pemberani. Ia memimpin kelompok pasukan kecil bertempur di hutan belantara Kaimana.

Pasca itu, kata Subandrio, Soeharto dan Untung pisah lagi. Soeharto menjadi Pangkostrad. Sedangkan untuk ditarik Bung Karno menjadi salah komandan kawal pasukan Tjakrabirawa. Namun, ungkap Subandrio, tugas baru Untung itu membuat Soeharto marah. Sebab, Soeharto ingin merekrut Untung menjadi anak-buahnya di Kostrad. Kendati demikian, Soeharto tetap memelihara Untung. Ketika Untung menikah di Kebumen, Soeharto dan istrinya menyempatkan datang.

Kolonel Latif dalam pledoinya juga mengakui kedekatan Soeharto dan Untung tersebut. “Letkol Untung pun juga pernah menjadi anak buah langsung (Soeharto) sewaktu di daerah Korem Sala yang kemudian Letkol Untung terpilih sebagai salah seorang pimpinan Gerilyawan yang diterjunkan di Kaimana sewaktu Trikora,” ungkap Latief.

Lalu, ia menambahkan, “Pernah saya dengar dari pembicaraan Letkol Untung sendiri sewaktu selesai tugas Trikora ia dipindahkan ke Resimen Cakrabirawa, ia katakan dengan peristiwa itu Jendral Soeharto pernah marah-marah atas kepindahannya ke Resimen Cakra itu, karena ia akan ditarik sebagai pasukan Kostrad di bawah pimpinan beliau. Selain itu sewaktu Letkol Untung menjadi temanten di Kebumen Jendral Soeharto juga memerlukan datang untuk turut  merayakan pesta perkawinan.”

Yang menarik dari kesaksian Subandrio, bahwa pada tanggal 15 September 1965, Kolonel Untung mendatangi Soeharto. Ia menyampaikan perihal rencana kup oleh Dewan Jendral. Karena itu, ia menyampaikan kepada Soeharto, bahwa pihaknya punya rencana mendahului gerakan Dewan Jenderal dengan menangkap mereka lebih dulu.

Soeharto menyambut baik rencana Untung itu. “Bagus kalau kamu punya rencana begitu. Sikat saja, jangan ragu-ragu,” kata Soeharto, sebagaimana dituturkan oleh Subandrio. Malahan, Soeharto menjanjikan bantuan pasukan untuk mendukung gerakan Untung itu.

Dan sekarang relasi Soeharto dan Sjam Kamaruzzaman. Menurut cerita AM Hanafie, Soeharto mengenal baik Sjam sejak di Jogjakarta. Sjam dikenal sebagai anggota Pemuda Pathuk. Ini adalah kelompok pemuda revolusioner hasil didikan Djohan Sjahroezah, seorang aktivis sosialis. Kelompok pemuda inilah yang memprakarsai aksi penyerbuan markas Jepang di Jogjakarta. Kelompok ini pula yang mendorong Sri Sultan Hamengku Buwono dan seorang anggota BKR bernama Soeharto untuk berdiplomasi dengan Jepang agar menyerahkan senjata. Sejak itu, Hanafie meyakini, Soeharto sudah mengenal Sjam. Saat itu Sjam masih dikenal dengan nama: Syamsul Qamar Mubaidah.

Pasca kejadian itu, Sjam pindah ke Semarang dan bergabung dengan AMKRI-nya Ibnu Parna. Kemudian, ia menjadi informan polisi pada Komisaris Polisi Mudigdo di Pekalongan. Sjam juga pernah hadir di Konferensi Pesindo di Surakarta. Ia mewakili pemuda Laskar PAI (Partai Arab Indonesia). Ketika peristiwa Madiun meletus, Sjam menghilang. Tidak ada yang tahu dia dimana saat kejadian itu.

Dari Wikana, seorang tokoh PKI, Hanafie mendapat cerita bahwa Sjam lari ke Jakarta. Tepatnya ke Tanjung Priok. Di sana ia ditemukan oleh Hadiono Kusumo Utoyo, seorang tokoh pro-Sjahrir. Lalu, atas anjuran Hadiono, Sjam mengorganisir serikat buruh bernama SBKP (Serikat Burub Kapal dan Pelabuhan). Dari sinilah Sjam berkenalan dengan Aidit dan MH Lukman.

Namun, kata Hanafie, gara-gara razia Sukiman–razia terhadap orang-orang komunis, Sjam menghilang lagi. Menurut Hanafir, yang mendapat cerita dari Wikana, pasca kejadian itu Sjam menjadi informan SESKOAD dengan pangkat Sersan Mayor. Saat itu, Soeharto juga ditempatkan di SESKOAD pasca mendapat sanksi karena terlibat bisnis penyelundupan. Di sini, Sjam dan Soeharto kembali dipertemukan.

Di sini, kita mendapatkan adanya klik antara Soeharto-Untung-Latief-Sjam. Subandrio sendiri dalam kesaksiannya menyebut Soeharto membangun dua klik, yakni klik yang dikorbankan (Soeharto-Latief-Untung) dan trio yang dilanjutkan (Soeharto-Yoga Soegama- Ali Moertopo). Dari situ, kita bisa melihat, dua klik inilah yang dimainkan Soeharto. Klik ‘Untung-Latief-Sjam’ dipakai Soeharto untuk membuat gerakan kontra-kudeta yang dirancang gagal. Sedangkan klik ‘Soeharto-Yoga Soegama-Ali Moertopo’ dipakai untuk menumpas G30S, lalu menumpas PKI, dan kemudian menggulung kekuasaan Soekarno.

Kesaksian Sjam di Mahmilub jelas-jelas menguntungkan Soeharto. Di situ Sjam membeberkan bahwa semua tindak-tanduknya, termasuk dalam mengorganisir Dewan Revolusi, adalah atas persetujuan dan perintah DN Aidit. Hal itu dibutuhkan Soeharto untuk memperkuat dalihnya menumpas PKI sebagai otak G30S.
Dari dua hal di atas, kita menjadi terang untuk memahami kesimpulan ketiga di atas, bahwa G30S hanya dalih bagi Soeharto untuk menghabisi PKI dan menggulung kekuasaan Soekarno. Kita menjadi tahu kenapa Soeharto tidak dijadikan sasaran penculikan oleh G30S, karena hampir semua otak G30S adalah anak buah Soeharto sendiri. Selain itu, pada tanggal 1 Oktober 1965, markas Kostrad tidak dijaga oleh pasukan ‘G30S’.

Pertama, Soeharto mengetahui rencana G30S, tetapi tidak berusaha menghentikannya. Dengan mengetahui rencana itu, Soeharto menjadi aktor yang paling paham keadaan dan paling ‘siap’ untuk memainkannya. Dengan membiarkan rencana G30S berjalan, itu sama saja dengan merestui pembunuhan para Jenderal, termasuk Jenderal A Yani yang saat itu menjabat Menteri/Panglima Angkatan Darat (Menpangad). Sementara ada konsensus di AD saat itu, bahwa bila Menpangad berhalangan, maka otomatis Pangkostrad menjadi penggantinya. Hal inilah yang memudahkan Soeharto untuk mengorganisir serangan balik terhadap G30S.

Kedua, Soeharto sebetulnya menyadari bahwa G30S hanyalah gerakan internal Angkatan Darat untuk mencegah kup Dewan Jenderal terhadap Bung Karno. Jadi, Soeharto mestinya sadar bahwa G30S bukanlah kudeta, melainkan ‘gerakan penyelamatan’ alias ‘kontra-kudeta’. Soeharto juga tahu bahwa yang menggerakkan G30S ini adalah ‘anak-buahnya’. Tetapi kemudian, Soeharto mengarang cerita bahwa G30S digerakkan oleh PKI untuk merebut kekuasaan Soekarno.

Tudingan bahwa PKI ingin merebut kekuasaan juga cukup janggal. Pertama, PKI dan Soekarno saat itu berada dalam satu blok, yakni anti-imperialisme. Eksistensi PKI juga sangat diuntungkan di bawah kekuasaan Soekarno. Kedua, bila ingin merebut kekuasaan, PKI tidak perlu menggunakan jalur kudeta. Cukup menuntut Pemilu dipercepat. Sebab, sejak pemilu Dewan Daerah pada tahun 1957, PKI sudah menang besar. Banyak yang berkesimpulan, kalau ada pemilu saat itu, PKI pasti tampil sebagai pemenang.

Ketiga, kelihatan bahwa G30S dirancang untuk gagal. Kita bisa melihat betapa amburadulnya gerakan ini melalui evaluasi Brigjend Supardjo yang berjudul “Beberapa Pendapat Yang Mempengaruhi Gagalnya G30S Dipandang Dari Sudut Militer”: adanya perwira yang mengundurkan diri, belum adanya kesiapan pasukan, rencana operasi tidak jelas, dan tidak ada upaya melawan serangan balik Soeharto-Nasution.
Yang juga aneh, gerakan ini awalnya hanya bermaksud untuk menangkap para Jenderal yang dituding anggota Dewan Jenderal dan menghadapkannya kepada Bung Karno. Namun, pada prakteknya, sejumlah Jenderal dieksekusi ditempat.
Di sini ada kejanggalan. Pimpinan lapangan operasi penculikan adalah Dul Arief. Menurut Ben Anderson, Indonesianis dari Universitas Cornell, Dul Arief ini orang yang sangat dekat dengan Ali Moertopo. Malahan, menurut pengakuan Letnan Kolonel Udara (Purnawirawan) Heru Atmodjo, Dul Arief itu anak angkat Ali Moertopo.

Jadi, dari uraian panjang di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa Soeharto punya andil dalam G30S. Dan, satu hal yang tak bisa dibantah: Soeharto-lah yang paling diuntungkan dari peristiwa G30S. Kita tahu, Soeharto menjadikan peristiwa itu sebagai dalih untuk menumpas PKI, membunuh jutaan jiwa rakyat Indonesia yang dituding kader atau simpatisan PKI, dan memfitnah Bung Karno terlibat G30S sebagai jalan untuk menggulung kekuasan Soekarno.

Timur Subangun, Kontributor Berdikari Online

10 Tokoh Yang Mempengaruhi Pemikiran Bung Karno

BK.jpg Tidak bisa dimungkiri, ketika berusaha mengembangkan pemikirannya, Bung Karno banyak menyerap pemikiran tokoh-tokoh lain.

Kendati demikian, ia selalu mengambil bagian-bagian yang dianggapnya relevan dalam perjuangan membebaskan negerinya. Tak heran, banyak yang menjuluki Bung Karno sebagai penganut eklektisisme.
Berikut ini adalah 10 tokoh yang cukup banyak mempengaruhi pemikiran Bung Karno.

1. Karl Marx
Dalam usia belasan tahun, saat mondok di rumah HOS Tjokroaminoto di Surabaya, ia sudah mengenal Karl Marx. Selain itu, di rumah itu juga ia berkenalan dengan Alimin dan Musso, yang memperkenalkan pada dirinya ajaran marxisme.

Pengaruh Marx terhadap Bung Karno sangat besar. Di tahun 1933, Bung Karno menulis artikel di Fikiran Ra’jat berjudul Memperingati 50 Tahun Wafatnya Karl Marx. Di situ ia mengapresiasi kontribusi teoritik Marx dalam perjuangan klas pekerja dan kaum terhisap. Bahkan, menurut Bung Karno, perkawinan antara marxisme dan nasionalisme di dunia timur telah melahirkan nasionalisme yang baru.

Lalu, dalam artikel Menjadi Pembantu Pemandangan: Bung Karno, oleh…Bung Karno sendiri, yang dimuat di majalah Pemandangan, tahun 1941, Bung Karno mendaulat marxisme sebagai teori yang paling kompeten dalam memecahkan soal-soal sejarah, politik, dan sosial-kemasyarakatan. Tak hanya itu, Bung Karno juga mengakui, bahwa berkat pengaruh marxisme dalam dirinya, ia menjadi seorang nasionalis yang sangat anti-fasisme.

2. Pieter Jelles Troelstra
Pieter Jelles Troelstra adalah seorang tokoh sosialis dan gerakan buruh di Belanda. Di tahun 1894, ia mendirikan Partai Pekerja Sosial Demokrat (SDAP). Troelstra dikenal sebagai salah seorang pejuang hak pilih univerasal di Belanda. Di tahun 1918, karena terinspirasi oleh revolusi Rusia, Troelstra juga melancarkan revolusi yang gagal.

Bung Karno banyak melahap pidato dan buku-buku karya Troelstra, seperti Gedenkschriften (memoir yang terdiri dari empat volume) dan De Sociaal-Democratie na de oorlog (1921). Ia juga membaca terbitan-terbitan SDAP.

Dalam pidato Indonesia Menggugat, Bung Karno banyak mengutip pemikiran Troelstra. Misalnya, Troelstra menganjurkan agar kaum buruh tidak membatasi perjuangannya di dalam parlemen, tetapi juga aksi-aksi langsung dari serikat pekerja.

Saat memberi amanat di hadapan Panca Tunggal seluruh Indonesia, di Istana Negara, September 1966, Bung Karno mengutip Troelstra, bahwa bila ingin menumbangkan kapitalisme, untuk mencapai sosialisme, kita harus mengadakan massa aksi, menggerakkan kaum buruh untuk menentang dan berjuang sehebat-hebatnya.

Dari Troelstra juga Bung Karno belajar soal imperialisme. Bagi Troelstra, imperialisme berasal dari kapital besar, yang sebagian besar dikuasai oleh bank-bank, yang mencari jalan keluar ke dunia ketiga guna mendapatkan outlet baru bagi penanaman modal dan tenaga kerja murah.

3. HOS Tjokroaminoto
Pada tahun 1916, Bung Karno berangkat untuk bersekolah di Surabaya dan tinggal di rumah HOS Tjokroaminoto. Saat itu, Tjokro sudah menjadi ketua Sarekat Islam (SI). Di rumah Tjokro-lah Bung Karno banyak menimba ilmu tentang politik. “Aku menghirup lebih banyak lagi persoalan politik di rumah pak Tjokro, dapur daripada nasionalisme,” kata Bung Karno.

Bung Karno sendiri menyebut Tjokro sebagai gurunya. “Secara sadar atau tidak sadar ia menggemblengku. Aku duduk dekat kakinya dan diberikannya kepadaku buku-bukunya,” kata Bung Karno dalam otobiografinya yang ditulis Cindy Adams, Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia.

Pada jamannya, Tjokro dikenal sebagai ahli pidato. Seringkali saat Tjokro menghadiri pertemuan atau rapat umum SI, Bung Karno-lah yang menemaninya. Tak jarang, kalau Tjokro berhalangan, maka Bung Karno yang jadi penggantinya.

4. Tan Malaka
Di bulan September 1945, Bung Karno bertemu dengan Tan Malaka di rumah DR Soeharto, dokter pribadi Bung Karno. Ini merupakan pertemuan resmi pertama diantara keduanya.

Dalam pertemuan itu, Bung Karno bertanya tentang buku Massa Aksi karya Tan Malaka. Buku Massa Aksi, yang ditulis oleh Tan Malaka di Singapura, tahun 1926, memang sangat mempengaruhi Bung Karno.

Ketika membangun PNI di tahun 1927, Bung Karno mengambil banyak pelajaran tentang massa aksi-nya Tan Malaka. Kendati demikian, Bung Karno baru mulai banyak menulis kata “massa aksi” di tahun 1929.

Ketika Bung Karno ditangkap oleh penguasa kolonial di tahun 1929, salah satu tuduhannya adalah Bung Karno menyiapkan sebuah massa aksi untuk menumbangkan penguasa kolonial pada tahun 1930. Dan, menurut penyelidikan Belanda, massa aksi yang siapkan Bung Karno itu mengacu famplet Massa Aksi-nya Tan Malaka.

5. Karl Kautsky
Karl Kautsky adalah salah seorang ahli teori Internasionale Kedua (Sosialisme Internasional) dan tokoh terkemuka Partai Sosial-Demokrat (SPD) Jerman.

Kautsky cukup mempengaruhi Bung Karno, terutama saat menyusun pidato Indonesia Menggugat. Di Indonesia Mengguat, ketika membedah imperialisme modern, Bung Karno mengutip buku Karl Kautsky Sozialismus und Kolonialpolitik. Menurut Kautsky, berbeda dengan imperialisme tua yang cenderung merampok barang dan kekayaan alam dari negeri jajahan untuk dibawa ke negeri asal, imperialisme modern justru menggunakan pendekatan politik yang lebih halus, seperti memasukkan kapital, membangun pabrik, dan budaya.

Bung Karno juga membaca buku Kautsky yang berjudul Der Weg zur Macht, yang memberinya pemahaman tentang pentingnya teori dalam memajukan kesadaran klas pekerja. Di buku itu juga, menurut Bung Karno, ia belajar pentingnya pengalaman praksis dalam membentuk kesadaran klas pekerja, seperti memenangkan perjuangan sosial-ekonomi, mengikuti pemilihan parlemen, dan lain-lain.

6. Mahatma Gandhi
Mahatma Gandhi adalah bapak pejuang pembebasan India dari kolonialisme Inggris. Metode perjuangan Gandhi, yang mengutamakan metode non-kekerasan, menginspirasi banyak orang.
Bung Karno sendiri banyak dipengaruhi oleh Gandhi. Tak bisa dimungkiri, ajaran nasionalisme Gandhi, yang menekankan perkawinan nasionalisme dunia ketiga dan kemanusiaan, sangat mempengaruhi gagasan nasionalisme Bung Karno. Ia selalu mensitir Gandhi: My Nationalism is Humanity.
Di dalam kumpulan risalahnya, Di Bawah Bendera Revolusi, Bung Karno sangat banyak mengambil pelajaran Gandhi. Ia memuju ketepatan strategi perjuangan Gandhi, yakni satyagraha dan swadesi, dalam melawan imperialisme Inggris. Menurut Bung Karno, strategi boikot yang dijalankan Gandhi sangat efektif untuk menghantam imperialis Inggris, yang sangat membutuhkan pasar bagi produksi industrinya.

Namun, Bung Karno menegaskan, strategi Gandhi itu kurang relevan di Indonesia. Di Indonesia, yang dihadapi adalah imperialisme Belanda yang terbelakang, yang kepentingannya adalah menanamkan modal di sektor perkebunan. Dengan begitu, strategi pemboikotan tidaklah efektif untuk memukul perusahaan-perusahaan Belanda itu. Selain itu, Indonesia tidak punya industrialis yang diharapkan memproduksi kebutuhan bangsa sendiri.

7. Henriette Roland Holst
Henriette Roland Holst adalah penyair dan sekaligus anggota Partai Komunis Belanda. Awalnya, ia bergabung dengan Partai Buruh Sosial-Demokrat (SDAP). Oleh Herman Gorter, seorang penyair dan aktivis sosialis, Henriette disarankan membaca Das Capital karya Karl Marx. Ia membaca tuntas tiga volume karya Marx tersebut.

Sejak itu, ia makin condong ke marxisme. Tahun 1900, Ia bertemu dengan sosialis Jerman, Rosa Luxemburg. Keduanya bersahabat hingga akhir hayatnya. Di SDAP, ada dua faksi yang bertarung, yakni sayap kanan (reformis) dan sayap kiri. Henriette memilih sayap kiri.

Ia bersimpati dengan revolusi Rusia 1917. Ia sering berdiskusi dengan Lenin, Trotsky, dan tokoh-tokoh Bolshevik lainnya. Ia sempat mengungungi Soviet di tahun 1921. Selain menghadiri kongres perempuan di Moskow, ia sempat bertemu dengan penulis kenamaan Rusia, Maxim Gorky.
Henriette sangat dikenal pejuang pergerakan di Indonesia, baik kaum sosialis, komunis, maupun nasionalis. Pasalnya, Henriette adalah salah satu pendukung setia perjuangan kemerdekaan rakyat Indonesia. Ia juga pengeritik pedas praktek kolonialisme Belanda di Indonesia.

Tulisan-tulisannya Heriette banyak dikutip pejuang Indonesia. Termasuk Bung Karno. Dalam pidato pembelaannya, Indonesia Menggugat, Bung Karno beberapa kali mengutip Henriette, terutama buku yang berjudul Kapitaal en Arbeid in Nederland.

Di buku Sarinah, yang merupakan kumpulan kuliah Bung Karno di kursus wanita di Jogjakarta, tahun 1947, Bung Karno juga banyak mengutip pendapat Henriette.
8. Jean Jaures
Jean Jaures adalah sosialis Perancis yang berpikiran radikal. Dia juga adalah pendiri koran l’Humanité, yang kelak menjadi koran Partai Komunis Perancis. Ia beberapa kali terpilih sebagai anggota parlemen Perancis. Namun, tahun 1914, ia tewas dibunuh di sebuah warung kopi di Paris oleh seorang ekstrim kanan.

Ketika usia masih belasan tahun, di Surabaya, Bung Karno sudah mengenal Jean Jaures. Ia menyebut Jean Jaures sebagai ahli pidato terbesar dalam sejarah Perancis. Lalu, ketika mulai menulis di koran Fikiran Ra’jat dan Suluh Indonesia Muda, Bung Karno mulai banyak mengutip pidato maupun karya-karya Jaures.

Kritik Jean Jaures terhadap demokrasi parlementer Perancis sangat mempengaruhi Bung Karno. Tidak bisa dimungkiri, kritik-kritik Jaures menjadi titik tolak bagi Bung Karno untuk mengembangkan pemikirannya mengenai demokrasi alternatif, yakni sosio-demokrasi.

9. Ernest Renan/Otto Bauer
Ernest Renan adalah filsuf dan penulis kenamaan Perancis. Karya-karya sejarah dan pemikiran politiknya banyak bersentuhan dengan soal nasionalisme dan identitas nasional.
Pemikirannya tentang asal usul bangsa sangat mempengaruhi banyak pemikir nasionalis. Tidak terkecuali Bung Karno. Ketika bicara bangsa, Bung Karno banyak mengutip Renan. Termasuk ketika Bung Karno menyampaikan pidatonya di hadapan BPUPKI, 1 Juni 1945, yang kelak dicatat sebagai hari lahirnya Pancasila.

Tokoh lain yang mempengaruhi teori kebangsaan Bung Karno adalah Otto Bauer. Ia adalah aktivis sosial-demokrat di Austria. Karyanya yang berjudul Social Democracy and the Nationalities Question banyak mempengaruhi pemikiran soal bangsa.

Bagi Renan, bangsa terbentuk karena adanya kehendak untuk hidup bersama (Le desir d’etre ensemble). Sedangkan bagi Otto Bauer, bangsa terbangun karena adanya persamaan watak atau karakater karena akumulasi persatuan pengalaman dan kesamaan nasib (een karakter-gemeenschap dat geboren is uit een gemenschap vanlotgevallen).
10. Lenin
Lenin adalah tokoh terkemuka marxis Rusia dan sekaligus tokoh terkemuka dalam revolusi Rusia 1917. Menurut Aidit, Lenin cukup mengenal Indonesia. Sebelum menulis karyanya Imperialisme, Tahap Tertinggi Kapitalisme, Lenin membacai karya Multatuli yang terkenal, Max Havelaar.
Di tahun 1913, Lenin malah menulis risalah berjudul Kebangkitan Asia, yang menyinggung kebangkitan gerakan Sarekat Islam (SI) dan Indische Partij (IP) di Hindia Belanda. “Perserikatan Nasional dari penduduk asli telah dibentuk di Jawa. Ia telah memiliki keanggotaan sebesar 80.000 orang dan menggelar rapat-rapat akbar. Tidak ada yang bisa menghentikan pertumbuhan gerakan demokratik,” tulis Lenin.

Bung Karno mengaku mengenal bacaan Lenin ketika masih muda. Bersamaan dengan ia mengenal Marx dan Engels. “Aku berhadapan dengan Marx, Engels, dan Lenin dari Rusia…,” kata Bung Karno dalam  otobiografinya yang ditulis oleh penulis Amerika, Cindy Adams.

Bung Karno menyinggung Lenin dalam pidato 1 Juni 1945, yang menandai lahirnya Pancasila. Untuk menyakinkan anggota BPUPKI, yang sebagian besar masih ragu akan kesiapan Indonesia untuk merdeka, Bung Karno mengambil pelajaran Lenin ketika membangun Uni Soviet.

Ini kutipan Bung Karno di pidato 1 Juni 1945 (Pancasila): “Adakah Lenin ketika dia mendirikan negara Sovyet Rusia Merdeka, telah mempunyai Djnepprprostoff, dan yang maha besar di sungai Djeppr? Apa ia telah mempunya radio-station, yan menyundul ke angkasa? Apa ia telah mempunyai kereta-kereta api cukup, untuk meliputi seluruh negara Rusia? Apakah tiap-tiap orang Rusia pada waktu Lenin mendirikan Sovyet Rusia Merdeka telah dapat membaca dan menulis? Tidak, tuan-tuan yang terhormat! Di seberang jembatan emas yang diadakan oleh Lenin itulah, Lenin baru mengadakan radio-station, baru mengadakan sekolahan, baru mengadakan Greche, baru mengadakan Djnepprprostoff!”

Di buku Sarinah, Bung Karno banyak mengutip pendapat Lenin mengenai peranan gerakan perempuan dalam Revolusi Rusia. “Jikalau tidak dengan mereka (perempuan), maka kemenangan tidak mungkin kita capai..,” kata Bung Karno mengutip Lenin.

Gagasan Bung Karno mengenai partai pelopor, sebagaiman diuraikan di risalah Mencapai Indonesia Merdeka, sedikit-banyaknya dipengaruhi Lenin. Menurut Bung Karno, tugas partai pelopor adalah mencerahkan massa yang belum sadar (onbewust) menjadi sadar (bewust). Bung Karno juga menekankan bahwa partai pelopor ini hanyalah eksponen termaju dari kelas tertindas. Selain itu, kata Bung Karno, partai pelopor harus mengadopsi prinsip sentralisme demokrasi. Partai pelopor juga harus memiliki disiplin baja.

Hanya saja memang, patut diketahui, Bung Karno memang kelihatan menciptakan jarak dengan komunisme. Ia lebih menyebut dirinya sebagai marxis, bukan komunis. Selain itu, Bung Karno tidak pernah mengadopsi istilah kediktatoran proletar ke dalam pemikirannya.

Di hadapan peserta rapat Front Nasional di Istora Senayan, Februari 1966, Bung Karno menyebut dirinya sebagai murid para pemimpin penggerak massa, termasuk Lenin.
……
Sebetulnya, ada beberapa tokoh lain yang sering dikutip Bung Karno dalam karya-karyanya, seperti Sun Yat Sen, Kemal Attaturk, Rudolf Hilferding (ekonom Austria), dan lain-lain. (Berdikari-online)

Minggu, 29 September 2013

Bung Karno: Revolusi Indonesia Menuju Sosialisme!


Bung Karno
Bung Karno
Revolusi kita bukan sekadar mengusir Pemerintahan Belanda dari Indonesia. Revolusi kita menuju lebih jauh lagi daripada itu. Revolusi Indonesia menuju tiga kerangka yang sudah terkenal. Revolusi Indonesia menuju kepada Sosialisme! Revolusi Indonesia menuju kepada Dunia Baru tanpa ‘exploitation de l‘homme par l‘homme’ dan ‘exploitation de nation par nation’. 
Soekarno
Warta Nusantara : Kata-kata di atas merupakan isi pidato Bung Karno pada tanggal 17 Agustus 1964. Pidato itu, yang kemudian dinamai “Tahun Vivere Pericoloso-TAVIP”, merupakan jawaban gamblang Bung Karno terhadap mereka yang mengira pergerakan Kemerdekaan Indonesia berakhir dengan terusirnya Belanda dari Indonesia.

Saat itu, sebagian elit Indonesia berpikiran, bahwa tujuan pergerakan kemerdekaan hanyalah merebut kemerdekaan, menyusun pemerintahan nasional, mengganti pegawai asing dengan pegawai bangsa sendiri, dan lain-lain. Nah, Pidato TAVIP itu adalah penegasan, bahwa Revolusi Agustus 1945 bermuara pada sosialisme.

Dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia, diskursus sosialisme sangat dominan. Hampir semua spektrum politik pergerakan nasional, yakni nasionalis, agamais, dan marxis, mengakui cita-cita sosialisme dengan berbagai variannya.

Bung Karno, yang sering ditempatkan di spektrum kaum nasionalis, sangat lantang menyatakan bahwa sosialisme merupakan tujuan akhir dari perjuangan kemerdekaan Indonesia. Itu sangat nampak dalam tulisan-tulisan dan pidato Bung Karno.

Dalam artikel berjudul “Mencapai Indonesia Merdeka”, yang ditulis tahun 1933, Bung Karno tegas mengatakan, “maksud pergerakan kita haruslah: suatu masyarakat yang adil dan makmur, yang tidak ada tindasan dan hisapan, yang tidak ada kapitalisme dan imperialisme.”

Dalam tulisannya itu, Bung Karno juga mempertegas bahwa Indonesia merdeka hanyalah “jembatan emas”. Artinya, kemerdekaan hanyalah “penghubung” antara perjuangan rakyat Indonesia dengan cita-citanya yang lebih tinggi, yakni masyarakat adil dan makmur.

Namun, penjelasan lebih rinci dari cita-cita sosialistik Bung Karno terangkum dalam buku “Sarinah”, yang merupakan kumpulan kuliah Bung Karno dalam kursus Wanita di Jogjakarta tahun 1946. Di situ Bung Karno menguraikan pengertiannya mengenai sosialisme dan syarat-syarat untuk mewujudkannya.

Yang menarik, Bung Karno mengajukan pertanyaan, bisakah masyarakat yang terbelakang (belum mengenal listrik, surat kabar, radio, rumah sakit, baca-tulis, dan lain-lain), bisa mencapai sosialisme? Menurut dia, masyarakat terbelakang semacam itu, sekalipun di dalamnya tidak ada kapitalisme, tidak ada imperialisme, tidak ada feodalisme, tidak bisa mewujudkan sosialisme.

Alasannya sederhana: masyarakat semacam itu tidak bisa mendatangkan kesejahteraan sosial. Sebab, bagi Bung Karno, esensi dari sosialisme adalah kesejahteraan sosial atau kemakmuran bagi semua orang. Dan sebagai syaratnya: harus ada kepemilikan pabrik yang kolektif; ada industrialisme yang kolektif; ada produksi yang kolektif; dan ada distribusi yang kolektif.

Bung Karno meyakini, supaya kesejahteraan kolektif bisa tercapai, harus ada kemajuan teknik dan kemajuan pengetahuan. Ini sejalan dengan proposisi marxisme, bahwa perkembangan kekuatan-kekuatan produktif, yang di dalamnya mencakup kemajuan teknik dan kecakapan manusia, yang tidak dirintangi hubungan-hubungan produksi—kalau dirintangi, akan dijebol melalui “Revolusi”—melahirkan perubahan corak produksi.

Bung Karno sendiri mengatakan, “alat-alat teknik, dan terutama sekali semangat gotong-royong yang telah masak, itulah soko-gurunya pergaulan hidup yang sosialistik.” Artinya, kemajuan kekuatan-kekuatan produktif, terutama kemajuan teknik dan kecakapan manusia, harus disertai dengan relasi produksi yang bersifat gotong-royong.

Masalahnya, kata Bung Karno, dalam konteks Indonesia yang masih terjajah, syarat-syarat menuju sosialisme itu dirintangi oleh kolonialisme (penindasan nasional) dan feodalisme. Karena itu, dalam kerangka perjuangan menuju sosialisme, revolusi Indonesia harus melalui tahapan-tahapan yang berkesinambungan (bukan tahapanisme yang terpisahkan oleh tembok China ala Stalinisme).

Bung Karno selalu berpesan, “sosialisme Indonesia sebagai hari depan Revolusi Indonesia bukanlah semata-mata ide ciptaan seseorang “in een slapeloze nacht” (dalam satu malam yang tidak tidur), juga bukan suatu barang yang diimpor dari luar negeri, atau sesuatu yang dipaksakan dari luar masyarakat Indonesia, melainkan suatu “reaktief verzet van verdrukte elementen” (perlawanan penentangan daripada anasir/kaum yang tertekan), suatu kesadaran sosial yang ditimbulkan oleh keadaan sosial Indonesia sendiri, suatu “historische Notwendigkeit”, suatu keharusan sejarah.”

Dengan demikian, dalam konteks sosialisme Indonesia, sosialisme harus merupakan hasil “penciptaan yang heroik”, yang sesuai dengan karakteristik dan kekhususan masing-masing bangsa. Bung Karno menolak sosialisme yang dicopy-paste dari luar atau sosialisme tiruan.

Lebih lanjut, Bung Karno menjelaskan, kendati sosialisme itu adalah keharusan sejarah, tetapi ia tidak seperti “datang seperti embun diwaktu malam dengan sendirinya”. Sosialisme sebagai keharusan sejarah hanya dapat direalisasi melalui kesadaran dan tindakan manusia.

Untuk merealisasi sosialisme sebagai keharusan sejarah itu, Bung Karno membentangkan jalannya: fase nasional-demokratis dan fase sosialisme. Dalam fase nasional demokratis, kita akan mendirikan Negara Indonesia yang merdeka dan demokratis. Sedangkan dalam fase sosialisme, kita akan mendirikan sosialisme.

Dalam fase nasional demokratis, sasaran pokok revolusi adalah mengakhiri penindasan nasional (kolonialisme/imperialisme) dan menghancurkan sisa-sisa feodalisme. Dalam fase ini, perjuangan kita adalah meremukkan kolonialisme di lapangan politik, ekonomi, dan sosial-budaya. Selain itu, akan dijalankan land-reform sebagai upaya menghapuskan hak-milik tuan feodal dan mendemokratiskan kehidupan rakyat di pedesaan.

Dalam fase nasional-demokratis ini, ungkap Bung Karno, kita juga menyiapkan syarat-syarat untuk dimulainya fase selanjutnya, yakni revolusi sosialis. Syarat-syarat itu, antara lain, memajukan teknik/industrialisasi, mencerdaskan kehidupan rakyat, mendorong demokratisasi seluas-luasnya, dan mendorong produksi di bawah kontrol komunitas atau masyarakat.

Dalam buku “Sarinah”, Bung Karno menyatakan bahwa konstitusi kita, yakni UUD 1945, mencerminkan transisi dari negara nasional borjuis menjadi negara sosialis. “Undang-Undang Dasar kita adalah Undang-Undang Dasar sebuah negara yang sifatnya di tengah-tengah kapitalisme dan sosialisme,” kata Bung Karno.

UUD 1945 itu, kata dia, di satu sisi kakinya masih berpijak dalam bumi burgerlijk (kapitalistik), tetapi di dalam kandungannya telah hamil dengan kandungan masyarakat sosialis. Inilah konsep negara peralihan ala Bung Karno, yakni sebuah negara yang sedang melakukan transisi ke sosialisme.
Kemudian, tahap yang kedua, yakni revolusi sosialis, yang mengarah pada perwujudan sosialisme Indonesia, yang tidak ada lagi kapitalisme dan  l’exploitation de l’homme par I’homme. 

Salah satu ciri utama dari sosialisme adalah kepemilikan sosial terhadap alat produksi. Dan ini, seperti ditekankan oleh Bung Karno, negara hanya berfungsi sebagai organisasi atau alat, tetapi pemilikan sosial yang sesungguhnya harus di tangan rakyat.

Dengan pemilikan alat produksi di tangan rakyat, kemudian perencanaan produksi oleh rakyat, dan juga tujuan produksi adalah untuk memenuhi kebutuhan rakyat, maka cita-cita masyarakat adil dan makmur bisa direalisasikan di bumi Indonesia ini.

Ada Tjakrabirawa, Soekarno Tak Bisa Blusukan



Ada Tjakrabirawa, Soekarno tak bisa blusukan

Warta Nusantara : Presiden Soekarno dikenal gemar keluar istana diam-diam. Dia kerap menyamar sebagai rakyat biasa dan blusukan ke pasar atau tempat lain untuk mengetahui langsung situasi di lapangan.

Awalnya Soekarno leluasa menjalankan aksi blusukan itu. Maklum pengawalnya cuma anggota Detasemen Kawal Pribadi (DKP) yang jumlahnya cuma belasan polisi istimewa. Tapi sejak 21 Juni 1962, dibentuk Resimen Tjakrabirawa yang beranggotakan 3.000 personel. Soekarno pun tak leluasa blusukan karena terus dikawal pasukan pengaman presiden tersebut.

"Dulu aku biasa keluar istana diam-diam seorang diri. Namun sejak ada Tjakrabirawa, hal itu tak mungkin lagi dilakukan," kata Soekarno dalam biografi yang ditulis Cindy Adams.

Namun tetap saja Soekarno membandel, dan mencoba menyelinap keluar istana. Keesokan harinya, ada nota yang dikirimkan para pengawal setia itu. Isinya penuh hormat tapi tegas.

"Bapak yang tercinta, kami bertanggung jawab atas keselamatan Bapak. Karena itu kami mohon dengan sangat agar Bapak tidak lagi diam-diam menyelinap keluar. (tanda tangan) para pengawal Bapak," ujar Soekarno membacakan nota itu dengan jenaka.

Soekarno mengaku puas dengan pengawalan Tjakrabirawa. Dia melukiskan personel DKP dan Tjakrabirawa tak pernah lepas menjaga keselamatannya.

"Kalau aku melakukan kunjungan kenegaraan, Tjakrabirawa menempatkan orangnya di seberang jendela tempatku menginap. Bahkan ketika aku sedang berada di istana, dua orang senantiasa berada di dekatku. Satu kompi menjaga di sekeliling istana, yang lain berjaga-jaga di luar kota," kata Soekarno.

Kepada merdeka.com, mantan Wakil Komandan Tjakrabirawa Kolonel Purn Maulwi Saelan menuturkan mengawal Soekarno memang penuh dengan kejutan. Hubungan Soekarno dan para pengawal memang sangat dekat karena pribadi Soekarno yang egaliter.

Saelan masih mengingat saat mengawal Soekarno ke Italia. Saat itu rombongan sedang melintas di sebuah pantai. Tiba-tiba Soekarno secara mendadak memerintahkan seluruh rombongan berhenti.

"Ternyata Bung Karno ingin makan es krim di sebuah restoran. Maka kita semua berhenti untuk makan es krim. Semua duduk bersama di satu meja. Semua ramai menyambut Bung Karno, ada yang bilang kalau Bung Karno ikut Pemilu di Italia pasti menang," kata Saelan sambil tertawa.

Ini Standar Pengamanan Soekarno Oleh Tjakrabirawa


Ini standar pengamanan Soekarno oleh Tjakrabirawa

Resimen Tjakrabirawa bertugas mengawal Presiden Soekarno. Sesuai standar pengamanan kepala negara, ada beberapa lapis pengamanan.

Di ring satu, menempel pada presiden adalah Detasemen Kawal Pribadi (DKP). Anggota DKP ini adalah polisi istimewa pimpinan AKBP Mangil Martowidjojo. Para anggota DKP ini telah mengawal Soekarno sejak proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945. Anggota DKP menjaga hingga radius 15 meter.

"Setelah itu di ring dua ada Detasemen Kawal Chusus (DKC) yang menjaga hingga radius 50 meter. Untuk pengamanan di ring luar dan istana seperti Istana Negara, Istana Cipanas, Istana Bogor dan lainnya, ada Detasemen Kawal Kehormatan (DKK)," kata mantan Wakil Komandan Tjakrabirawa Kolonel (Purn) Maulwi Saelan saat berbincang dengan merdeka.com, Jumat (27/9).

Untuk iring-iringan mobil kepresidenan pun tak terdiri dari banyak rombongan. Menurut Saelan, rombongan yang ringkas bisa bergerak lebih cepat.

"Biasanya ada motor sebagai vorijder, lalu jip kepresidenan, baru mobil Bung Karno. Di belakangnya ada dua jip, dari DKP dan DKC. Tak lebih dari enam mobil. Kadang jika dibutuhkan ada panser yang siap melakukan evakuasi pada presiden," kata Saelan.

Untuk di sisi jalan, pengamanan dilakukan oleh satuan teritorial setempat dari Kodam. Karena itu tak butuh terlalu banyak pasukan untuk mengawal iring-iringan rombongan Soekarno.

Jika situasi membahayakan, pengamanan tambahan pun sudah disiapkan guna mengevakuasi sang pemimpin besar revolusi. Jika di darat, Soekarno akan dimasukkan dalam panser yang siap melaju kencang. Di pelabuhan Tanjung Priok tersedia sebuah kapal cepat yang siap membawa Bung Karno ke mana saja. Demikian juga untuk evakuasi lewat udara, sebuah pesawat jetstar kepresidenan selalu siaga di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur.

"Yang sulit itu menahan rakyat yang ingin bersalaman dengan Bung Karno," kenang Saelan sambil tersenyum. (merdeka.com)

Ahok : Ini Negara Pancasila, Susan Tak Akan Dipindah Karena Agama..!!



Jakarta - Warta Nusantara : Warga Lenteng Agung, menolak kepemimpinan Lurah Susan Jasmine Zulkifli dikampung mereka. Alasannya Susan menganut keyakinan yg berbeda dengan mayoritas warga pemukiman disana. Mereka meminta Gubernur Jokowi dan Wakilnya Ahok, segera memindahkan Susan dari Lenteng Agung. Tapi Jokowi dan Ahok menolak mentah mentah desakan warga Lenteng Agung. Dan Jokowi tidak akan menuruti saran Mendagri Gamawan Fauzi, walaupun sang Lurah di demo warganya. "Pokoknya prinsip kita, tidak mau pindahkan orang karena alasan agama. Enggak ada, ini Negara Pancasila, mana ada gara2 agama" ujar Ahok.

Ahok tidak khawatir bila polemik mengancam keselamatan Susan. Justru Ahok bakal mengganjar warga yg main hakim sendiri sesuai dengan hukum yg berlaku. "Ya kalau sudah parah kita tindak dong, ini Negara hukum" tegas Ahok.

Ahok: saya tidak bela agama, tapi konstitusi. Ahok pun menyatakan tidak akan membabi buta membela orang kristen, jika memang salah. "Kalau memang salah, enggak akan saya bela. Mentang2 lihat Salib lalu saya bela, tidak bisa. Saya taat konstitusi" ujar Ahok.

Hal ini juga mencerminkan bahwa masih banyak warga masyarakat yang belum memahami akan keberadaan negaranya, hal tersebut juga disebabkan oleh salah satunya dogma yang berlaku di kalangan masyarakat. Fakta telah membuktikan, bahwa masih adanya ormas yang mengatasnamakan agama berlaku semena-mena dengan alasan bertentangan dengan paham agamanya.

Adanya pemahaman seperti ini bukan saja menjadi tanggung jawab pemerintah untuk meluruskannya, namun juga peranserta para tokoh agama lebih diutamakan dalam memberikan pemahaman tentang NKRI yang memiliki beraneka ragam suku bangsa, budaya dan agama. Hal tersebut sangat perlu dilakukan demi terbina dan terjalinnya rasa persatuan dan kesatuan bangsa yang utuh.

Yenny Wahid Siap Bantu Lurah Susan Atasi Pendemo

Direktur Eksekutif The Wahid Institute, Yenny Wahid menyatakan siap membantu Lurah Lenteng Agung Susan Jasmine Zulkifli mengatasi pendemo yang menuntutnya dicopot dari jabatan lurah. "Kalau Bu Susan takut, saya siap menemani, kapan saja Bu Susan membutuhkan," kata aktivis pluralisme ini, di Jakarta, Kamis, 26 September 2013.

Para pendemo beranggapan Lurah Susan tidak layak memimpin warga Lenteng Agung lantaran beragama Katolik, sedangkan mayoritas penduduknya muslim. Menurut Yenny, hal tersebut tidak bisa dijadikan dasar untuk mencopot jabatan seseorang karena tidak tercantum dalam konstitusi negara ini.

Dalam Islam, kata Yenny, warga non muslim diperbolehkan memimpin warga muslim dan tercantum dalam hadist maupun kitab Al-Qur'an. "Nanti saya kasih tahu warga tentang ayat-ayat yang memperbolehkan non muslim menjadi pemimpin," kata putri mantan Presiden ke empat Indonesia ini.

Untuk itu, Yenny meminta Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo yang mempunyai kewenangan atas jabatan Lurah Susan untuk tegas terhadap massa-massa intoleran seperti itu. "Harus tegas kita, jangan diberi ruang, nanti akan cari-cari lagi setelah lurah, bisa kepala dinas yang non muslim, camat. Yang penting kita berpegang pada konstitusi. Bener yang diomongkan Mas Jokowi, melihat berdasarkan kinerjanya," kata dia.

Sebelumnya, warga berkali-kali demo meminta Lurah Susan dicopot atau dipindahkan dari Lenteng Agung. Para pendemo mengancam akan terus melakukan aksinya jika Jokowi tidak menuruti kemauan mereka.

Jumat, 20 September 2013

Kabar Penting

Pelaku Penembak Polisi Gunakan Konsep Gerilya Kota

Penembak polisi kemarin menggunakan cara hit and run.

Aipda Kus Hendratna, salah satu anggota polisi yang ditembak orang tak dikenal.
Aipda Kus Hendratna, salah satu anggota polisi yang ditembak orang tak dikenal. (ANTARA/Saptono)
Jakarta Warta Nusantara - Dalam kurun waktu tiga bulan, empat anggota kepolisian tewas ditembak orang tak dikenal. Polisi sendiri hingga kini belum menangkap seorangpun pelaku.

Jika dilihat, metode yang digunakan para pelaku hampir sama. Sasarannya anggota yang menggunakan seragam serta diserang pada waktu malam dan dini hari.

Polisi menduga jika pelaku penembak empat anggota tersebut masih satu kelompok yang sama. Pengamat Intelijen, Nuruddin Lazuardi mengatakan pelaku penembak tersebut bahkan telah menerapkan konsep geriliya kota.

Konsep tersebut memang sering digunakan oleh para kelompok teroris untuk menyerang seseorang yang dianggap musuh bagi mereka. "Jika dilihat secara konsep memang ada salah satu prinsip dalam gerilya kota yang diadopsi oleh para pelaku penembakan polisi yaitu konsep 'hit and run'," ujar Nuruddin saat dihubungi VIVAnews, Kamis 19 September 2013.

Nuruddin menjelaskan, dalam konsep perang geriliya kota ada tiga unsur didalamnya, di antaranya pertama penuh Kejutan dan Tidak Terduga, kedua hit n run dan ketiga penuh tipu daya dan ilusi.

Konsep penuh kejutan dan tidak terduga memiliki arti menyerang dengan strategi dan melihat titik terlemah lawan sehingga lawan menjadi bingung dan kelelahan karena tenaga terforsir untuk mengidentifikasi mereka.

Sedangkan hit and run itu bertempur dan melarikan diri demi mempertahankan hidup agar dapat bertempur lagi di kemudian hari.

"Hit and run yang sebenarnya tidak sekedar menyerang dan kabur, tapi juga menyampaikan pesan, memproklamsikan diri dan juga aksi penggalangan simpati, dana dan sebagainya," kata Nuruddin.

Nuruddin yang juga mahasiswa tingkat akhir Program Pascasarjana Kajian Stratejik Intelijen Unversitas Indonesia ini menambahkan, konsep geriliya kota yang terakhir adalah penuh tipu daya dan ilusi, dimana pelaku melakukan penyerangan dengan mengaburkan modus dan pola sehingga lawan susah mengidentifikasi sehingga tercipta ilusi yg mengaburkan aksi-aksi mereka.

"Dari semua konsep itu ada satu syarat yang harus dipenuhi sebelum itu dijalankan. Syaratnya adalah penguasaan kota atau teritori dalam artian bahwa para gerilyawan tersebut memahami karaketeristik peta kota. Syarat lainnya adalah logistik, dalam hal ini senjata," jelas dia.

Sebelumnya, sebuah panduan pelaksanaan perang gerilya perkotaan muncul di internet via laman scribd.com. Pengantar panduan tersebut mengajak pembacanya untuk berperang melawan rezim penguasa kafir dan menggulingkannya.

Panduan setebal 112 halaman ini dipublikasikan oleh seseorang yang memakai nama Syarif Ramzan Saluev, dan telah diunduh lebih dari 1.000 kali.

Laman yang bisa dibaca secara cuma-cuma di scribd.com hanya pengantarnya, sedangkan untuk panduan teknis gerilya harus diunduh dengan membayar. Sekilas dengan membaca pengantarnya, panduan ini amat berbahaya bagi mereka yang mempunyai bibit ekstrem.

 



Polisi Harus Segera Cari Penyebar Panduan 'Gerilya Kota'


"Karena bisa menginspirasi masyarakat untuk melakukan itu."

Personel polisi memberi penghormatan terakhir kepada Alm. Aipda Koes Hendratno yang tewas di tembak pelaku teror ketika jenazah akan di bawa ke Kulon Progo, Yogayakarta
Personel polisi memberi penghormatan terakhir kepada Alm. Aipda Koes Hendratno yang tewas di tembak pelaku teror ketika jenazah akan di bawa ke Kulon Progo, Yogayakarta (ANTARA/Saptono
Jakarta - Warta Nusantara - Badan Nasional Penanggulangan Terorisme meminta pihak Kepolisian untuk segera menyelidiki panduan pelaksanaan perang gerilya kota yang muncul di laman scribd.com. Sebab, panduan setebal 112 halaman ini bisa diunduh dengan mudah oleh siapa saja.

"Polisi harus segera menyelidiki siapa yang menyebarluaskan kebencian itu," kata Deputi I Bidang Pencegahan Perlindungan dan Deradikalisasi BNPT, Mayor Jenderal Agus SB kepada VIVAnews.

Menurut Agus, gerakan propaganda itu dikhawatirkan bisa melahirkan benih-benih baru ekstrimis di tanah air. Dalam pengantarnya, laman itu bahkan mengajak pembaca berperang melawan apa yang mereka sebut sebagai "rezim penguasa kafir" dan menggulingkannya.

"Sangat mengkhawatirkan, karena bisa menginspirasi masyarakat untuk melakukan itu," katanya.

Agus mengakui, selain panduan perang gerilya kota, ada sejumlah situs yang memuat propaganda untuk melakukan gerakan terorisme. Oleh karena itu, ia mengajak semua kalangan masyarakat untuk bekerjasama dengan melaporkan segala bentuk propaganda yang mengarah ke sebuah gerakan ekstrem kepada pihak berwajib.

"Kami mengimbau masyarakat jika ada yang melihat dan menemukan hal-hal seperti itu tolong segera laporkan kepada pihak kepolisian," tuturnya.

Membaca pengantarnya, panduan ini memang ekstrem:

"Hari ini kita dijajah oleh kekuatan militer kafir. Mereka menguasai kota-kota besar dan gedung-gedung pemerintahan. Mereka mengangkat penguasa boneka atas nama sang penjajah. Umat Islam pun menjadi buruan penguasa, dan sebagian besar dari mereka ditahan," demikian paragraf pertama pengantar panduan itu.

Selanjutnya ditulis bahwa "sang penguasa kafir" telah menyebar aparat intelijen dan dinas keamanan rahasia ke segala penjuru negeri.

"Siapapun yang berani berbicara atau mengutarakan ide-ide untuk menegakkan jihad, syariat, dan anti demokrasi--meskipun ia orang tidak bersalah--maka akan segera dihabisi."

Panduan itu menyatakan perlawanan harus dilakukan dengan mengadopsi sistem gerilya dengan taktik serangan hit and run--menyerang berulang-ulang dan menghilang dengan cepat. Serangan semacam itu dimaksudkan agar otoritas kebingungan dan kehilangan moral tempur. (Baca selengkapnya: Manual Gerilya Kota Beredar Di Internet Panduan Teroris) (VivaNews)

 

Manual Gerilya Kota Beredar di Internet, Panduan Teroris?

Pelepasan jenazah Bripka Sukardi, salah satu polisi yang tewas ditembak teroris.
Pelepasan jenazah Bripka Sukardi, salah satu polisi yang tewas ditembak teroris. (VIVAnews/Anhar Rizki Affandi)

Warta Nusantara – Sebuah panduan pelaksanaan perang gerilya perkotaan muncul di internet via laman scribd.com. Pengantar panduan tersebut mengajak pembacanya untuk berperang melawan rezim penguasa kafir dan menggulingkannya. Panduan setebal 112 halaman ini dipublikasikan oleh seseorang yang memakai nama Syarif Ramzan Saluev, dan telah diunduh lebih dari 1.000 kali.

Laman yang bisa dibaca secara cuma-cuma di scribd.com hanya pengantarnya, sedangkan untuk panduan teknis gerilya harus diunduh dengan membayar. Sekilas dengan membaca pengantarnya, panduan ini amat berbahaya bagi mereka yang mempunyai bibit ekstrem.

“Hari ini kita dijajah oleh kekuatan militer kafir. Mereka menguasai kota-kota besar dan gedung-gedung pemerintahan. Mereka mengangkat penguasa boneka atas nama sang penjajah. Umat Islam pun menjadi buruan penguasa, dan sebagian besar dari mereka ditahan,” demikian paragraf pertama pengantar panduan itu.

Selanjutnya ditulis bahwa penguasa kafir menyebarkan kekuatan intelijen, informan, dan dinas keamanan rahasia di segala penjuru. “Siapapun yang berani berbicara atau mengutarakan ide-ide untuk menegakkan jihad, syariat, dan antidemokrasi –meskipun ia orang tidak bersalah– maka akan segera ‘dihabisi’,” tulis panduan itu.

Panduan itu kemudian bertanya kepada pembacanya apakah mereka akan berdiam diri dan mencari selamat saja, atau bertindak dan melakukan perlawanan balik. “Manual ini disediakan untuk Anda yang memutuskan untuk berperang. Manual ini disusun bagi rakyat biasa yang memutuskan bahwa perlawanan bersenjata adalah satu-satunya jalan untuk menjatuhkan rezim berkuasa,” tulisnya.

Pengantar panduan lantas memberitahukan kepada pembacanya bahwa jaringan perlawanan harus mengadopsi sistem perlawanan gerilya dengan taktik serangan hit and run –menyerang berulang-ulang dan menghilang dengan cepat. Panduan itu menekankan, inti semua serangan itu adalah untuk membuat otoritas penguasa kebingungan dan kehilangan moral tempur.

“Para pejuang harus mulai merencanakan strategi gerilya kota dengan membawa peralatan tempur mereka dalam belantara gedung-gedung bertingkat dan bangunan tembok,” tulis panduan itu.

Seperti diketahui, belakangan pola serangan semacam yang tertulis dalam panduan tersebut marak terjadi pada anggota Kepolisian RI. Sejumlah polisi tewas ditembak oleh kelompok teroris dengan metode hit and run. Polisi sampai saat ini terus memburu pelaku penembakan.
Kepala Bagian Penerangan Umum Mabes Polri Komisaris Besar Polisi Agus Rianto yang dikonfirmasi soal panduan gerilya kota ini mengatakan, perkembangan teknologi memungkinkan setiap orang untuk melakukan dan mengembangkan apapun lewat dunia maya.
"Produk-produk seperti itu dibuat atau disusun oleh pihak tertentu yang ingin mengganggu stabilitas dalam masyarakat. Tapi kami berharap tidak ada yang terpengaruh," kata Agus. (VivaNews)