Dicurigai Kubu Jokowi-JK, KPU Bangkalan Bantah Ada Kecurangan
Senin, 14 Juli 2014
Republika/ Yasin Habibi
Warga memberikan hak suaranya di TPS 01
yang bertema Piala Dunia, Desa Tentenan Timur, Kecamatan Larangan,
Pamekasan, Madura, Rabu (9/7).
Bangkalan, - Komisi
Pemilihan Umum Bangkalan, Jawa Timur, membantah pelaksanaan Pemilu
Presiden 9 Juli 2014 di daerah setempat berlangsung curang, sebagaimana
tudingan tim pemenangan pasangan capres-cawapres Joko Widodo-Jusuf
Kalla.
"Tidak benar ada kecurangan dan sampai saat ini belum ada
laporan terkait tudingan kecurangan itu ke Panwaslu Bangkalan," kata
Ketua KPU Bangkalan Fauzan Djakfar, Senin (14/7).
Bantahan ini
disampaikan KPU Bangkalan, menyusul adanya rilis yang disampaikan tim
pemenangan pasangan calon presiden Jokowi-JK yang menyebutkan telah
menemukan adanya kecurangan dalam proses pelaksanaan pemilihan di
Kabupaten Bangkalan dan Kabupaten Sampang.
Fauzan Djakfar
menjelaskan, pelaksanaan pemilu di Bangkalan sudah sesuai proses dan
tidak ada saksi yang memprotes saat pelaksanaan penghitungan di tempat
pemungutan suara (TPS) maupun rekapitulasi di tingkat desa, yakni
panitia pemungutan suara (PPS).
Penyelenggara pemilu di tingkat
desa dan kecamatan sudah bekerja keras menyukseskan pelaksanaan pilpres,
termasuk mendalami tahapan pelaksanaan pilpres sejak pemungutan suara
hingga saat ini. Oleh karenanya, Fauzan meminta agar semua pihak tidak
melontaskan pernyataan tanpa bukti yang bisa memicu terjadinya situasi
dan kondisi pemilu yang tidak kondusif.
"Jadi kepada
masing-masing tim sukses, tolong jangan intimidasi kami. Kami sedang
bekerja keras dalam pilpres kali ini, dan kami masih akan menggelar
rekapitulasi suara tingkat kabupaten. Karena rekapitulasi tingkat PPK
sudah selesai," katanya.
Juru Bicara Tim Pemenangan Jokowi-JK,
Ferry Mursyidan Baldan, dalam siaran persnya yang diterima Antara, di
Jakarta, beberapa hari lalu menyebutkan ada beberapa hal yang dilaporkan
masyarakat terkait dugaan kecurangan pilpres di dua kabupaten tersebut.
Pertama,
dilaporkan ada tempat pemungutan suara (TPS) di Sampang maupun
Bangkalan yang tidak ada sama sekali suara untuk pasangan Jokowi-JK.
Artinya, pasangan Jokowi-JK mendapat nol suara. "Ini rasa-rasanya tidak
mungkin, Karena di sana, pasti ada kader Partai Kebangkitan Bangsa (PKB)
yang memang mengusung dan mendukung pasangan Jokowi-JK," katanya kala
itu.
"Selain itu ada kaum Nahdliyin yang bersimpati pada
Jokowi-JK serta relawan dan Ansor. Jadi kalau suara untuk Jokowi-JK sama
sekali kosong atau nol, saya kira itu mustahil. Jika muncul dugaan
adanya kecurangan, wajar saja," kata Ferry.
Politikus Partai
NasDem itu dalam rilis itu juga mengimbau agar pejabat pemerintah harus
memastikan diri bersikap netral dan tidak menjadi bagian dari kekisruhan
dengan mencurangi hasil pilpres.
Pihaknya mencatat dua kabupaten
di Madura itu, yakni Bangkalan dan Sampang, selalu bermasalah dalam
setiap pemilihan umum, baik pilkada gubernur, pemilihan legislatif dan
terakhir pilpres ini. Hal itu patut dipertanyakan ada apa sehingga
potensi masalah selalu terjadi di dua wilayah tersebut.
DPT Tambahan Di Kecamatan Pasar Minggu Melonjak 100%
Senin, 14 Juli 2014 | 22:16
Ilustrasi rekapitulasi surat suara pilpres 2014 (sumber: Antara/Rudi Mulya)
Jakarta
-Jumlah pemilih tambahan yang masuk dalam daftar pemilih tetap (DPT)
tambahan di Kecamatan Pasar Minggu, Jakarta Selatan, melonjak 100 persen
lebih. DPT awal di kecamatan ini mencapai 223.163, sedangkan DPT
tambahan sebanyak 227.987. Meski demikian, sebagian besar pemilih tidak
menggunakan hak pilih pada 9 Juli lalu.
Menurut anggota Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK), M Yamin, Senin
(14/7), berdasarkan hasil rekapitulasi suara yang berasal dari 417
tempat pemungutan suara (TPS) di wilayah tersebut, pasangan
Prabowo-Hatta unggul atas Jokowi JK. Dari total pemilih 451.150, hanya
165.391 yang menggunakan hak pilih atau sekitar 36,66 persen.
Dari jumlah tersebut, pasangan Prabowo-Hatta meraih 85.216 suara (52
persen) dan Jokowi-JK 78.402 suara (48 persen). Sedangkan surat suara
yang tidak sah berjumlah 1.773 lembar.
"Hasil pleno di PPK sudah kami kirim ke KPU Kota Jakarta Selatan," katanya.
Prabowo Serahkan Hitung Riil KPU Ke Tuhan
Senin, 14 Juli 2014
Tribunnews/Dany Permana
Calon
presiden nomor urut 1, Prabowo Subianto didampingi Titiek Soeharto (dua
kiri) bersama calon wakil presidennya, Hatta Rajasa beserta istrinya,
Okke Rajasa (dua kanan) menghadiri acara penandatanganan Koalisi Merah
Putih Permanen, di Tugu Proklamasi, Jakarta Pusat, Senin (14/7/2014).
Ketua dan Sekjen Partai Politik pendukung pasangan Prabowo-Hatta yaitu
Gerindra, PKS, PPP, Golkar, PBB, PAN, dan Demokrat guna menguatkan
komitmennya menandatangani nota kesepahaman Koalisi Permanen mendukung
Prabowo-Hatta.
Jakarta, - Calon presiden Prabowo Subianto mengaku akan taat aturan dan hukum terkait hasil hitung riil resmi
Komisi Pemilihan Umum (KPU). Menurutnya, Indonesia sedang membangun demokrasi sehingga semua proses harus diikuti.
"Demokrasi
berarti ikuti tata aturan main. Kita serahkan dan ikuti KPU. Semua
pendukung yang simpati kepada kami tenang, kita percaya diri dan
serahkan kepada yang maha kuasa," kata Prabowo di Tugu Proklamasi,
Jakarta Pusat, Senin (14/7/2014).
Mantan Danjen Kopassus itu
menuturkan, ia mengajak pihaknya bersabar karena berjuang untuk rakyat.
Ia mengatakan, pihaknya bukan orang-orang ingkar janji dan tidak suka
berbohong. "Kita takut dengan Allah SWT. Kalau Prabowo tandatangan, dia
sampai mati akan ikuti, kita ingin Indonesia baik. Kita serahkan kepada
KPU," tuturnya.
Namun, Prabowo juga mengajak kader, simpatisan
serta pendukung untuk waspada. Dirinya mengatakan, meski menahan diri
dan sabar menunggu hasil KPU bukan berarti bisa dianggap lemah dan
takut.
"Demi kebenaran, keadilan, dan kejujuran, kita siap
mempertahankan nilai-nilai itu," terang Prabowo yang juga Ketua Dewan
Pertimbangan DPP Partai Gerindra. Dalam Pilpres 2014, Prabowo
berdampingan dengan Hatta Rajasa.
Nah Mulai Kelihatan Aslinya! Gara-gara Cuma
Menang Quick Count, Pendukung Jokowi Siap Menentang Keputusan KPU...
Ayo-ayo Siap Bapak TNI-Polri
Setelah Barisan Rakyat Dukung Jokowi berencana menggalang massa untuk
menentang keputusan KPU jika memenangkan pasangan Prabowo-Hatta, kini
giliran massa Pro-Jokowi (Projok) di seluruh kota-kota besar juga akan
menentang keputusan KPU.
“Kita akan menentang keputusan KPU jika KPU memenangkan pasangan
Prabowo-Hatta,” ujar Ahmad Riyani kordinator ProJok nasional dan
pemenangan ProJok Jabar, Minggu (13/7).
Ahmad berharap KPU profesional dengan bersikap netral. Pasalnya, mengacu
kepada hasil quick count beberapa lembaga survey dan media, pasangan
Jokowi-JK telah menang dalam Pilpres 2014.
“KPU harus netral dan tidak memenangkan kubu Prabowo karena kita semua
tahu hasil quick count dan media Jokowi menang,” tegasnya.
Ia pun menambahkan ProJok saat ini telah menggalang massa di seluruh
kota besar untuk mendesak KPU agar menghormati netralitas dengan tidak
memenangkan Prabowo-Hatta, dengan mengacu kepada beberapa hasil quick
count beberapa lembaga survey dan media televisi.
“Kita mengacu kepada hasil quick count beberapa lembaga survey dan media, Jokowi telah memenangkan Pilpres 2014 ini. Jika
KPU membuat keputusan berbeda maka kami akan turun kejalan dan
memperjuangkan kemenangan Jokowi sampai titik darah penghabisan,”
tuturnya.
Sebelumnya, aktifis 98 Bonie Hargens juga mengatakan KPU akan bermasalah
dengan rakyat jika hasil hitung KPU berbeda dengan hasil quick count
lembaga yang memenangkan Jokowi.
“Karena track record lembaga lembaga yang memenangkan Jokowi ini tidak
pernah salah dalam melakukan Quick Count. Kalau tiba-tiba KPU
memenangkan Prabowo dengan fakta kami menemukan banyak kecurangan dalam
penghitungan suara pastinya akan menimbulkan kekacauan sangat serius,”
tegasnya.
Bonie menambahkan, KPU harus berkerja sebagai negarawan, tidak boleh terlibat dalam permainan.
“Jika KPU tetap memanangkan Prabowo pasti akan terjadi kekacauan yang sangat serius,” pungkasnya.
Pendukung Jokowi Aksi Tutup Mulut Di Depan KPU
Senin, 14 Juli 2014
Pendukung jokowi di KPU
Jakarta, - Usai pencoblosan pemilu presiden (Pilpres) 9 Juli lalu, kantor Komisi Pemilihan Umum (
KPU) berkali-kali didatangi simpatisan dari kedua kubu pasangan calon presiden dan wakil presiden.
Kali ini, kantor
KPU didatangi sekelompok masyarakat yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Pro
Jokowi
(Amprojo). Berbeda dengan aksi-aksi demonstrasi sebelumnya yang kerap
diwarnai kata-kata kasar, musik keras, bahkan sampai masuk ke aula
KPU , kini Amprojo melakukan aksi tutup mulut.
Bahkan pemimpin kelompok tersebut enggan membuka penutup mulutnya saat ditanyai alasan mendatangi
KPU . Komentar yang ditujukan kepada
KPU disampaikan melalui selebaran yang disebar ke berbagai pihak di area
KPU .
Dalam
selebarannya, Amprojo menyoroti hasil hitung cepat atau quick count
yang telah dilakukan berbagai lembaga survei. Menurut Amprojo, hasil
hitung cepat yang dilaksanakan berbagai lembaga survei yang memenangkan
pasangan
Joko Widodo -
Jusuf Kalla adalah dapat dipercaya dan dipertanggungjawabkan.
"Kami
merasa akan ada permainan jika lembaga penyelenggara pemilu tidak
dikawal dengan serius," tulis selebaran yang disampaikan kepada
KPU , Senin (14/7).
Massa yang datang sekitar pukul 10.30 WIB, Amprojo juga meminta Polri mengawasi kinerja
KPU . Selain itu, TNI diminta netral dalam pilpres 2014 ini.
"Kami mendesak untuk
KPU agar tidak main-main, hasil rekapitulasi sesuai QC (quick count), polisi awasi
KPU , dan TNI wajib netral,".
Ketua DKPP Imbau Hasil Rekapitulasi KPU Tidak Digugat Ke MK
Jakarta --
Ketua Dewan Kehormatan Penyelanggara Pemilu, Jimly Asshiddiqie,
mengimbau pasangan calon presiden dan wakil presiden menghormati hasil
rekapitulasi penghitungan suara yang akan ditetapkan pada 22 Juli
mendatang.
Menurut Jimly, hasil rekapitulasi tersebut tidak usah
digugat ke Mahkamah Konstitusi (MK) agar memudahkan rekonsiliasi
pascapilpres.
"Kita kan sebagai bangsa baru kali ini mengalami
bangsa kita terbelah dua gara-gara pilpresnya cuma dua calon. Kalau di
Amerika sudah dua setengah abad, sudah biasa mereka punya dua calon.
Bangsa Amerika sudah biasa terpecah dua," ujar Jimly di Jakarta, Senin
(14/7/2014).
Mengingat ini untuk kali pertama bagi Indonesia,
Jimly mengingatkan agar semua pihak harus ekstra hati-hati. Caranya,
siapa pun pemenang hasil rekapitulasi KPU, pihak yang kalah langsung
mengucapkan selamat.
"Tentu perlu juga ditimbang-timbang baik-baik
para pendukung supaya ditenangkan. Jadi saya kira ini penting bagian
dari pembelajaran banhga kita berdemokrasi ke depan," kata Jimly.
Bekas
Ketua MK itu optimis ini akan menjadi catatan terbesar dalam
perkembangan sejarah demokrasi di Indonesia dan tersulit untuk dilalui.
Jika Pilpres ini dilalui dengan mulus, Jimly mengaku demokrasi Indonesia
sudah matang.
Sebelumnya, peserta pemilihan umum presiden dan
wakil presiden adalah Prabowo Subianto-Hatta Rajasa yang diusung poros
Partai Gerindra dan pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla yang diusung poros
PDI Perjuangan.
Inilah Lima Indikator Kebrutalan Sistematis Yang Dilakukan Tim Joko-Kalla Untuk Membentuk Opini Menang

Jakarta, Tim
pemenangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa menilai, ada usaha sistematis
untuk membentuk opini pemenangan Joko Widodo-Jusuf Kalla (Jokowi-JK).
Mulai dari rekayasa berita penghitungan suara hingga pengerahan massa.
"Pertama, berdasarkan exit poll mereka menyebarkan kabar Jokowi-JK
menang telak 85 persen berbanding 15 persen dari Prabowo-Hatta di
sejumlah negara seperti Arab Saudi dan Malaysia. Tujuannya untuk
pengaruhi pemilih dalam negeri," ujar penasehat tim Prabowo-Hatta,
Letjen TNI Pur Suryo Prabowo, Ahad (13/7).
Padahal, katanya, setelah hitungan resmi dilakukan, Prabowo
Subianto-Hatta Rajasa memperoleh 51 persen di Jeddah. Sementara
Jokowi-JK mendapatkan 48 persen. Di Qatar Prabowo-Hatta memperoleh 52
persen dan Jokowi-JK 42 persen. Kemudian di Malaysia Prabowo-Hatta 85
persen Jokowi-JK 15 persen.
Kedua, menurutnya, di dalam negeri sejumlah lembaga survei yang menjadi
konsultan politik melakukan quick count. "Hasilnya dibuat seragam,
Jokowi-JK menang 3-5 persen dari Prabowo-Hatta," ujarnya.
Padahal, urainya, saat itu data yang masuk baru 75 persen. Ditambah, ada quick count lain yang mengunggulkan Prabowo-Hatta.
Ketiga, lanjutnya, kemenangan quick count tersebut dengan cepat diklaim
secara terbuka sebagai terpilihnya Jokowi-JK sebagai pemenang pemilu.
"Mereka mendeklarasikan kemenangan Jokowi-JK secara terbuka," jelasnya.
Keempat, ada pengerahan massa untuk memberi legitimasi sosial setelah
pernyataan klaim sepihak tersebut. "Massanya sudah disiapkan sepekan
sebelum hari pencoblosan," ungkapnya.
Kelima, lanjutnya, ada upaya mengunci opini publik kalau Jokowi-JK sudah
menang pemilu. Bahkan dikatakan hasil quick count lebih benar dari
hitung manual KPU.
"Ini seperti drama politik tentang klaim pemenang pilpres. Diatur
kisahnya secara dramatis melibatkan emosi publik. Ujungnya KPU seperti
dipaksa untuk memenangkan Jokowi-JK. Hanya kecurangan yang dapat
mengalahkan Jokowi-JK, itulah kesimpulan drama politik ini yang mereka
inginkan," bebernya.
Menurut Suryo, publik harus mengerti skenario drama politik itu agar tidak bingung dan tersesat.
"Mereka menggiring opini publik ke target mereka. Kalau tidak sesuai
target, mereka tuduh curang. Mereka tidak siap kalah maka segala cara
ditempuh untuk menang," paparnya.
KPU Menangkan Prabowo-Hatta, ProJok Akan Turunkan Massa
July 13, 2014.
Jakarta –
Setelah Barisan Rakyat Dukung Jokowi berencana menggalang massa untuk
menentang keputusan KPU jika memenangkan pasangan Prabowo-Hatta, kini
giliran massa Pro-Jokowi (Projok) di seluruh kota-kota besar juga akan
menentang keputusan KPU.
“Kita akan menentang keputusan KPU jika KPU memenangkan pasangan
Prabowo-Hatta,” ujar Ahmad Riyani kordinator ProJok nasional dan
pemenangan ProJok Jabar, Minggu (13/7).
Ahmad berharap KPU profesional dengan bersikap netral. Pasalnya, mengacu kepada hasil quick count beberapa lembaga survey dan media, pasangan Jokowi-JK telah menang dalam Pilpres 2014.
“KPU harus netral dan tidak memenangkan kubu Prabowo karena kita semua tahu hasil quick count dan media Jokowi menang,” tegasnya.
Ia pun menambahkan ProJok saat ini telah menggalang massa di seluruh
kota besar untuk mendesak KPU agar menghormati netralitas dengan tidak
memenangkan Prabowo-Hatta, dengan mengacu kepada beberapa hasil quick
count beberapa lembaga survey dan media televisi.
“Kita mengacu kepada hasil quick count beberapa lembaga
survey dan media, Jokowi telah memenangkan Pilpres 2014 ini. Jika KPU
membuat keputusan berbeda maka kami akan turun kejalan dan
memperjuangkan kemenangan Jokowi sampai titik darah penghabisan,”
tuturnya.
Sebelumnya, aktifis 98 Bonie Hargens juga mengatakan KPU akan
bermasalah dengan rakyat jika hasil hitung KPU berbeda dengan hasil
quick count lembaga yang memenangkan Jokowi.
“Karena track record lembaga lembaga yang memenangkan Jokowi ini tidak pernah salah dalam melakukan Quick Count.
Kalau tiba-tiba KPU memenangkan Prabowo dengan fakta kami menemukan
banyak kecurangan dalam penghitungan suara pastinya akan menimbulkan
kekacauan sangat serius,” tegasnya.
Bonie menambahkan, KPU harus berkerja sebagai negarawan, tidak boleh terlibat dalam permainan.
“Jika KPU tetap memanangkan Prabowo pasti akan terjadi kekacauan yang sangat serius,” pungkasnya.
UU MD3 Beri Harapan Partai Kecil Pimpin Dewan
"Dengan perubahan UU MD3, partai kecil bisa menjadi pimpinan DPR.
Senin, 14 Juli 2014
Anggota Dewan Pembina Partai Demokrat Melani Leimina
Jakarta, - Wakil
Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Melani Leimena Suharli menyatakan
Undang-Undang MPR, DPR, DPD, dan DPRD yang baru disahkan pekan lalu akan
berdampak positif untuk parlemen ke depan. Pemilihan pimpinan DPR
dengan sistem paket, menurutnya akan memberikan kesempatan partai kecil
di DPR menduduki kursi pimpinan. Hanura. Ketiganya merupakan partai pengusung Joko Widodo-Jusuf
Kalla dalam Pilpres. Tiga partai itu walk out dalam sidang pengesahan UU
MD3.
Dalam Pasal 84 UU MD3 ayat (1) disebutkan bahwa pimpinan DPR RI
terdiri atas satu orang ketua dan 4 orang wakil ketua yang dipilih dari
dan oleh anggota DPR. Sementara di ayat (2) berbunyi pimpinan DPR
sebagaimana dimaksud pada ayat 1, dipilih dari dan oleh anggota DPR
dalam satu paket yang bersifat tetap.
"Gerindra selama ini bilang dia merasa nggak dapat kursi pimpinan
karena dia partai kecil. Dengan perubahan UU MD3 partai kecil bisa
menjadi pimpinan DPR. Kalau UU ini tidak diubah, partai kecil nggak ada
harapan jadi pimpinan," ujar Melani di Gedung DPR, Jakarta, Senin 14
Juli 2014.
Anggota Dewan Pembina Partai Demokrat itu membantah perubahan UU
MD3 bisa membuat anggota dewan kebal hukum. Dalam Pasal 245 ayat (1)
Undang-Undang MD3 yang baru disahkan disebutkan bahwa pemanggilan dan
permintaan keterangan untuk penyidikan terhadap anggota DPR yang diduga
melakukan tindak pidana harus mendapat persetujuan tertulis dari
Mahkamah Kehormatan Dewan.
"Apapun yang diaturkan kalau kita menerapkan dengan sungguh-sungguh
tanpa pandang bulu semuanya bisa saja. Kita mengharapkan Mahkamah
Kehormatan Dewan bekerja semaksimal mungkin," ujar dia.
Terkait keterwakilan perempuan di DPR, Melani berpendapat lebih
baik jumlah perempuan di DPR sedikit namun berkualitas, daripada
jumlahnya banyak tapi tidak bisa menyuarakan aspirasi rakyat dan tidak
berfungsi.
"Kalau perempuannya berkualitas dan dipandang tepat di jabatan itu,
saya rasa juga nggak bisa kita membatasi. Misalnya perempuan hanya 2-3 orang di Komisi III, tapi kita ambilnya yang ahli dan berlatar belakang hukum," jelasnya.
Undang-Undang MPR, DPR, DPD, dan DPRD (UU MD3) yang disahkan Dewan
Perwakilan Rakyat, Selasa 8 Juli 2014 berbuntut panjang. Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) yang tidak terima dengan perubahan itu berencana mengajukan judicial review ke Mahkamah Konstitusi.
Anggota Komisi III Bidang Hukum DPR dari Fraksi PDIP, Eva Kusuma
Sundari, menuding revisi UU MD3 terkait pasal pemilihan pimpinan DPR
tersebut diskriminatif dan sengaja dimaksudkan untuk mengunci PDIP.
Penentuan revisi UU MD3 ini dilakukan secara voting. Sistem paket
didukung oleh koalisi gemuk yang terdiri dari 6 partai politik, yakni
Golkar, Demokrat, Gerindra, PKS, PPP, dan PAN. Keenam partai tersebut
saat ini merupakan bagian dari koalisi Merah Putih yang berada di
belakang Prabowo-Hatta.
Sementara partai-partai yang menolak perubahan pemilihan pimpinan
DPR dari sistem proporsional menjadi sistem paket adalah PDIP, PKB, dan
‘Kalah bukan opsi’, mengungkap Prabowo kepada wartawan Straits Times dalam pesawat pribadinya, 6/7. (Foto: Straits Times)
Terdapat satu hal yang jelas: Joko Widodo (Jokowi) telah memenangkan
Pemilihan Presiden Indonesia pada tanggal 9 Juli. Apabila perhitungan
formal dan proses tabulasi berjalan tanpa ada kecurangan, dia akan
dinobatkan menjadi presiden Indonesia yang baru pada 20 Oktober 2014.
Alasan yang membuat kami bisa yakin dengan hasil ini, walaupun belum
ada pengumuman resmi dari KPU adalah adanya Hitung Cepat (Quick Count)
yang dilakukan oleh lembaga-lembaga survey yang kredibel di Indonesia.
Hitung Cepat dilakukan dengan menempatkan surveyor lapangan di lokasi
TPS-TPS yang dijadikan sampel. Pada saat penghitungan suara secara resmi
di TPS selesai, surveyor lapangan menyampaikan hasil TPS tersebut ke
pusat penghitungan suara lembaga bersangkutan, yang biasanya dilakukan
melalui telepon. Apabila penentuan sampel dilakukan dengan benar dan
dalam jumlah yang banyak sesuai kaidah statistik serta pencatatan hasil
dilakukan dengan akurat, hitung cepat yang terorganisir dengan baik
dapat memprediksi hasil akhir dari penghitungan resmi dengan kemungkinan
kesalahan (Margin of Error) yang sangat kecil.
Pada hari pemungutan suara, dalam rentang waktu beberapa jam setelah
TPS ditutup, delapan lembaga survey telah merilis hasil mereka yang
menyatakan bahwa Jokowi memenangkan Pilpres dengan selisih suara yang
cukup besar.
| Lembaga Survey |
Jokowi-Kalla |
Prabowo-Hatta |
| Radio Republik Indonesia |
52,7 |
47,3 |
| Lingkaran Survey Indonesia |
53,4 |
46,4 |
| Populi Center |
51,0 |
49,0 |
| CSIS |
51,9 |
48,1 |
| Litbang Kompas |
52,3 |
47,7 |
| Indikator Politik |
52,9 |
47,1 |
| SMRC |
52,9 |
47,1 |
| Poltrackting |
53,4 |
46,6 |
Penting dicatat, sebagian besar dari lembaga-lembaga ini telah
terkenal dan dihargai atas integritas, profesionalisme dan kemampuan
teknis mereka dalam survey metodologis- reputasi ini didapatkan dengan
track record menghasilkan hasil hitung cepat yang akurat sejak 2004,
pada saat pilpres dan pilkada pertama diberlakukan. Bahkan RRI (Radio
Republik Indonesia), saluran resmi pemerintah Indonesia –pendatang baru
dalam bisnis hitung cepat- mendapatkan apresiasi atas hitung cepatnya di
Pileg 2014; hasilnya ternyata paling mendekati hasil hitungan resmi
KPU. Fakta tentang lembaga-lembaga survey yang kredibel menyatakan
temuannya bahwa Jokowi memenangkan Pilpres, dan dengan hasil yang
relatif sama, maka dapat dikatakan bahwa secara statistik tidak mungkin
Jokowi tidak muncul sebagai pemenang dalam hitungan resmi KPU yang
dilakukan tanpa kecurangan.
Berdasarkan hasil hitung cepat tersebut, Jokowi pada tanggal 9 Juli
mendeklarasikan kemenangannya dalam Pilpres (walaupun tanpa
menggebu-gebu), dia mengingatkan pendukungnya untuk secara cermat
mengawasi hitungan resmi surat suara dalam dua minggu ke depan. Tetapi,
pada saat yang sama, empat lembaga survey menghasilkan hitung cepat yang
menunjukkan kemenangan Prabowo Subianto, walaupun hanya dengan selisih
yang lebih tipis.
| Lembaga Survey |
Jokowi-Kalla |
Prabowo-Hatta |
| Puskaptis |
48,0 |
52,0 |
| Indonesia Research Centre (IRC) |
48,9 |
51,1 |
| Lembaga Survey Nasional (LSN) |
49,5 |
50,5 |
| Jaringan Suara Indonesia (JSI) |
49,9 |
50,1 |
Berdasarkan hitung cepat empat lembaga ini, yang jumlahnya lebih
kecil dibandingkan dengan yang memenangkan Jokowi, Prabowo Subianto juga
mendeklarasikan kemenangannya. Sebagai konsekuensinya, Indonesia saat
ini berada dalam kebingunan politik, ketidakpastian dan bahkan
instabilitas, dalam dua minggu menjelang pengumuman hasil resmi yang
akan disampaikan oleh KPU pada tanggal 22 Juli.
Bagaimana kebingungan ini bisa muncul? Kita harus menarik garis lurus
bahwa hal ini tidak disebabkan oleh adanya lembaga-lembaga survey yang
memiliki kredibilitas yang sama yang menghasilkan hasil hitung cepat
yang sama legitimasinya. Sebaliknya, kebingungan ini adalah bagian dari
strategi yang sengaja diambil untuk mengaburkan hasil pilpres yang
sebenarnya membuka ruang untuk mencapai kemenangan melalui cara yang
manipulatif, sebuah strategi yang telah lama dipersiapkan. Sebagaimana
diketahui umum, salah satu penasehat strategi Prabowo, Rob Allyn,
terkenal tidak hanya ahli dengan strategi
kampanye negatif tetapi juga dengan memproduksi survey yang menciptakan kesan seolah-olah
kandidat yang elektabilitasnya
rendah adalah kandidat yang kompetitif, dan menciptakan kebingungan
publik untuk melakukan manuver sehingga kandidat yang bersangkutan
mendapatkan posisi yang diinginkan. Allyn sudah terkenal melakukan
strategi ini di pemilu Meksiko dan sepertinya Indonesia merupakan lahan
yang subur untuk melakukan metode yang sama.
Langkah 1: Memperkeruh Statistik
Selama sekitar sepuluh tahun terakhir, selain lembaga-lembaga survey
professional yang kredibel, mudah diketahui ada banyak juga organisasi
yang muncul di Indonesia yang bersedia merekayasa survey sesuai
kebutuhan kliennya, bahkan juga memalsukan surveynya sekaligus. Mereka
biasanya melakukannya dalam survey pemilih, dengan asumpsi bahwa
sebagian pemilih Indonesia akan cenderung untuk mendukung calon yang
diperkirakan akan menang, sehingga melakukan manipulasi survey dapat
menaikkan elektibilitas sponsornya.
Walaupun kami tidak memiliki bukti bahwa lembaga survey yang
menghasilkan hasil hitung cepat yang memenangkan Prabowo dibayar untuk
merekayasa hasil hitung cepat yang mereka lakukan, rekam jejak mereka
memberikan banyak alasan bagi kita untuk curiga –bahkan yakin- bahwa
manipulasi telah terjadi. Sebagai contoh, salah satu dari organisasi
yang disebutkan di atas, LSN (Lembaga Survey Nasional), memiliki rekam
jejak yang menghasilkan hasil survey pemilih yang menunjukkan kemenangan
Prabowo dan partai Gerindranya dengan selisih yang sangat jauh
dibandingkan dengan lembaga survey yang kredibel dan mapan. Pada tahun
2009, LSN memprediksi perolehan suara Gerindra pada pemilu legislatif
waktu itu akan mencapai 15,6 % suara – yang ternyata hanya memperoleh
4,5%. Pada pemilu legislatif 2014, LSN mempublikasikan hitung cepat awal
yang bahkan dilakukan sebelum TPS ditutup yang menunjukkan Gerindra
akan memenangkan pemilu dengan 26,1% suara, nampaknya dengan harapan
bahwa pemilih yang belum mencoblos akan terpengaruh dan memilih
Gerindra. Kenyataanya, Gerindra memperoleh posisi ketiga dengan 11,8%.
Dua hari sebelum hari pencoblosan pemilu presiden, LSN mengeluarkan
survey pemilih yang menunjukkan Prabowo memenangkan pilpres dengan
selisih 9% suara – walaupun lembaga survey kredibel lainnya menunjukkan
Jokowi yang memimpin dengan selisih 2-4% suara.
Puskaptis, lembaga lain yang menunjukkan bahwa Prabowo memenangkan
pilpres pada 9 Juli sore, memiliki sejarah serupa yang layak
dipertanyakan. Pada tahun 2013, kepala Puskaptis, Husin Yazid, harus
diselamatkan dari amukan massa yang murka akibat manipulasinya dalam
hitung cepat di Pilkada Sumatra Selatan. JSI (Jaringan Suara Indonesia);
dalam pilpres kali ini, hampir tidak memiliki rekam jejak, disamping
prediksinya yang salah tentang kemenangan Gubernur Fauzi Bowo melawan
Jokowi di Pilgub Jakarta 2012. JSI juga mengklaim pada tahun yang sama
bahwa 64% dari penduduk Indonesia menganggap Prabowo paling cocok untuk
menjadi presiden Republik Indonesia. Terakhir, IRC (Indonesian Research
Center) dilaporkan dimiliki oleh Hary Tanoesoedibjo, konglomerat media
yang merapat di kubu Prabowo. Pada Juni 2014, IRC memprediksi bahwa
Prabowo akan memenangkan pilpres melawan Jokowi dengan prosentase 48%
berbanding 43% – menggunakan metodologi yang tidak dikatahui sebelumnya:
yaitu mengkombinasikan perolehan suara masing-masing kandidat capres
dalam survey sebelumnya dalam sebuah indeks dan mendistribusikannya
ulang berdasarkan kecenderungan saat ini, apakah mereka memilih Prabowo
atau Jokowi. Sangat sulit untuk memikirkan pendekatan yang lebih tidak
professional dalam survey pemilih dibandingkan dengan yang ini.
Berdasarkan apa yang terjadi sebelumnya, tidak mengherankan apabila
lembaga-lembaga ini menghasilkan hitungan yang kita saksikan pada 9
Juli. Tidak mengherankan juga bahwa semua lembaga ini mempublikasikan
temuannya di TVOne –channel TV yang dimiliki sekutu Prabowo, Aburizal
Bakrie yang telah menyiarkan secara terang-terangan dukungan kepada
Prabowo selama pilpres. Menjelang 9 Juli, TVOne menandatangani kontrak
eksklusif dengan Poltracking, lembaga survey baru dengan reputasi baik.
Pada hari pemungutan suara, sayangnya, Poltracking diberi tahu oleh
TVOne bahwa lembaga survey lain akan ikut hitung cepat yang disiarkan
oleh TVOne. Mengetahui reputasi lembaga-lembaga ini yang dipertanyakan,
Poltracking memutus kontrak dengan TVOne pada 9 Juli 2014 jam 10.00
pagi. Poltracking kemudian mengumumkan hasil hitung cepat, seperti
lembaga kredibel lainnya, bahwa Jokowi memenangkan pilpres. Lembaga
lainnya, seperti telah dijelaskan di atas, mengikuti keinginan TVOne dan
mempublikasikan hasil hitung cepat yang telah termanipulasi yang
memenangkan Prabowo.
Langkah 2: Curi hasilnya.
Untuk apa melakukan manipulasi terhadap hitung cepat? Masyarakat
sudah mencoblos, jadi melakukan manipulasi tidak akan mempengaruhi
pilihan pemilih atau elektibilitas seorang capres lagi. Dengan demikian,
tujuannya sangat jelas: untuk mengulur waktu dan menciptakan kebingunan
publik tentang hasil pilpres, dengan tujuan untuk memberikan ruang bagi
metode lain untuk memproduksi kemenangan melalui hitungan resmi.
Terdapat dua langkah yang kemungkinan bisa dilakukan Prabowo untuk
memenangkan pilpres saat ini. Yang pertama adalah menunggu pengumuman
resmi dari KPU lalu mengajukan banding sengketa pemilu ke Mahkamah
Konsitusi. Selisih peroleh suara yang memenangkan Jokowi, sepertinya,
menunjukkan bahwa jika toh akhirnya kubu Prabowo bisa menunjukkan bukti
kesalahan administrasi perhitungan di beberapa tempat – yang pasti akan
dapat dilakukannya karena pemilu di Indonesia tidak steril dari
kesalahan dalam penghitungan- hal ini tidak akan dapat membalikkan hasil
pemilu melalui keberatan formal. Berdasarkan quick count dari lembaga
yang kredibel, keunggulan Jokowi diperkirakan sekitar 6,5 juta suara;
sehingga Prabowo harus membalikkan sekitar 3,3 juta suara untuk bisa
mendapatkan posisi seimbang dengan Jokowi atau menang tipis. Tidak ada
keputusan Mahkamah Konstitusi, baik dalam kasus lokal atau nasional,
yang pernah membalikkan sedemikian banyak suara dari satu kandidat ke
kandidat lainnya. Dalam kasus yang sangat jarang, MK memutuskan untuk
memindahkan beberapa ratus atau ribu suara- tetapi tidak dalam skala
sebesar ini. Dalam kasus lain yang serupa, MK akan meminta pemilihan
ulang di beberapa tempat, tetapi umumnya akan dilakukan di beberapa TPS
atau kabupaten saja.
Hal ini menyisakan satu pilihan terakhir: manipulasi terhadap
penghitungan suara resmi dan proses tabulasi suara. Kita belajar dari
pemilu Indonesia yang lain- khususnya dari pileg yang terakhir bulan
April- bahwa jual beli suara dalam proses penghitungan terjadi di banyak
tempat. Sebagian calon legislatif atau caleg pada waktu itu berhasil
menyuap penyelenggara pemilu di berbagai level – mulai dari TPS dan
terus berjenjang ke desa, kecamatan, kabupaten/kota lalu ke tingkat
provinsi- untuk mengalihkan suara dari satu partai atau caleg ke partai
atau caleg lainnya, menggelumbungkan suara dengan menggunakan surat
suara kosong yang diperuntukkan bagi pemilih yang tidak datang ke TPS
atau melakukan manipulasi lainnya. Pada pileg bulan April, penyelewengan
terjadi sangat massif tetapi memiliki dampak yang sangat kecil terhadap
perolehan total suara masing-masing partai secara nasional karena caleg
dari semua partai terlibat dalam penyelewengan suara dalam pola yang
terpecah-pecah dan tidak terkoordinasi.
Belum pernah terjadi sebelumnya dalam pengalaman demokrasi Indonesia
seorang capres dapat mencuri kemenangan dalam pilpres. Tetapi patut
dicurigai bahwa kubu Prabowo sedang mempersiapkan langkah tersebut.
Terutama di tempat-tempat yang rawan (seperti di Pulau Madura), dimana
pendukung Prabowo mendominasi struktur politik lokal dan dimana kubu
Jokowi atau PDIP-nya hanya memiliki sedikit saksi untuk mencatat hasil
pemilu pada saat penghitungan suara di TPS (Exit Poll menunjukkan bahwa
Prabowo memiliki saksi di 88% dari seluruh TPS sementara Jokowi hanya
memiliki saksi di 83% TPS). Manipulasi juga sangat mungkin terjadi di
daerah-daerah dimana gubernur dan walikota atau bupatinya adalah
pendukung Prabowo, mereka dapat memberikan tekanan kepada aparat
pemerintah lokal untuk mengintervensi penghitungan suara.
Kemana Sekarang?
Selama kampanye pilpres, Prabowo menempatkan diri sebagai seorang
demokrat. Bahkan, dia memprotes berkali-kali atas persepsi dirinya
sebagai seorang “diktator”- termasuk dalam pesan Facebook terakhirnya
kepada para pendukungnya sebelum pilpres, dia memprotes gambaran dirinya
sebagai orang yang tidak demokratis, walaupun Prabowo tidak menjelaskan
siapa yang memberinya gambaran tersebut. Dengan adanya manipulasi
hitung cepat dan perang opini tentang siapa sebenarnya yang menang
pilpres, Prabowo memberikan alasan kuat bagi kita untuk berasumpsi bahwa
dia berpotensi menjadi seorang otokrat yang tidak memiliki penghargaan
atas keinginan rakyat dan tidak akan berhenti sampai mendapatkan
kekuasaan.
Menurut kami, kalaupun terjadi, upaya untuk mencuri pilpres akan
gagal. Skala kemenangan Jokowi cukup besar sehingga terlalu banyak suara
yang harus dibalik untuk memenangkan Prabowo. Tetapi kita tidak bisa
sangat yakin atas kesimpulan ini: apa yang kita ketahui tentang latar
belakang Prabowo, sejarah manipulasi penghitungan dan tabulasi suara di
pemilu atau pilkada lainnya di Indonesia, lemahnya monitoring saksi
PDIP, kuatnya jaringan politik Prabowo di daerah dan melimpahnya dana
yang dimilikinya, menunjukkan bahwa kubu Prabowo sangat berpotensi untuk
melakukan langkah terorganisir untuk mengubah hasil pilpres. Walaupun
untuk melakukannya tentu tidak mudah. Skala manipulasi yang besar akan
membutuhkan cara-cara yang akan sangat mudah dideteksi dan akan
membangkitkan perlawanan dari pendukung Jokowi. Kalau ada kecurangan
dalam skala yang signifikan, konflik politik akan sulit terhindari.
Demokrasi Indonesia belum lepas dari bahaya. Dalam beberapa posting sebelumnya (
disini,
disini dan
disini),
kami sudah berkesimpulan bahwa demokrasi Indonesia paska Suharto berada
dalam bahaya jika Prabowo terpilih menjadi presiden. Sekarang sudah
muncul indikasi bahwa setelah gagal terpilih, sedang dipersiapkan
langkah untuk merongrong institusi demokrasi sebagai bagian untuk
merengkuh kekuasaan.
5 Siasat Kubu Jokowi Rekayasa Pilpres Versi Timses Prabowo
Letjen (Purn) Suryo Prabowo. ©2014 Merdeka.com
Jakarta, - Kubu
Prabowo-Hatta menyatakan ada usaha yang sistematis untuk membentuk
opini agar pasangan Jokowi-JK menang dalam Pilpres 2014. Penasehat tim
Prabowo, Letjen TNI Purn Suryo Prabowo menuturkan usaha tersebut mulai
dari rekayasa
berita penghitungan suara hingga pengerahan massa.
"Pertama,
berdasarkan exit pool mereka sebarkan kabar pasangan Jokowi-JK menang
telak 85%-15% dari Prabowo-Hatta di sejumlah negara seperti Arab Saudi
dan Malaysia. Tujuannya untuk pengaruhi pemilih dalam negeri," ujar
Suryo dalam rilis yang diterima merdeka.com, Minggu (13/7).
Suryo
mencontohkan, setelah hitungan resmi dilakukan pasangan Prabowo-Hatta
di Jeddah peroleh 51% sementara Jokowi-JK peroleh 48%. Di Qatar,
Prabowo-Hatta 52% Jokowi-JK 42%. Malaysia Prabowo-Hatta 85% Jokowi-JK
15%.
Kedua, lanjut Suryo, di dalam negeri sejumlah lembaga survei
yang dijadikan konsultan politik lakukan quick count. "Hasilnya dibuat
seragam, pasangan Jokowi-JK menang 3-5% dari pasangan Prabowo-Hatta,"
ujarnya.
Padahal, urainya, saat itu data yang masuk baru 75%, dan
ada quick count lain yang unggulkan Prabowo-Hatta. Bahkan, lanjutnya,
mungkin karena sistemnya bocor, pada quick count mereka Prabowo-Hatta
sempat unggul 3-5% dari Jokowi-JK.
Topik pilihan: Pilpres |
Prabowo-Hatta vs Jokowi-JK |
Quick Count Pemilu 2014
Menurut
Suryo, ketiga, kemenangan quick count tersebut dengan cepat diklaim
secara terbuka sebagai terpilihnya Jokowi-JK sebagai pemenang pemilu.
"Mereka deklarasikan kemenangan Jokowi-JK secara terbuka," jelasnya.
Berikutnya
keempat, setelah pernyataan klaim sepihak kemenangan Jokowi-JK mereka
kerahkan massa untuk memberi legitimasi sosial. "Massanya sudah
disiapkan seminggu sebelum hari pencoblosan," ungkapnya.
Kelima,
lanjutnya, mereka kunci opini publik bahwa merekalah pemenang pilpres.
Hasil quick count mereka yang paling benar, jika hitungan real count KPU
berbeda, hitungan KPU yang salah.
"Ini seperti drama politik tentang klaim pemenang pilpres. Diatur
kisahnya secara dramatis melibatkan emosi publik. Ujungnya KPU seperti
dipaksa untuk memenangkan Jokowi-JK. Hanya kecurangan yang dapat
mengalahkan Jokowi-JK, itulah kesimpulan drama politik ini yang mereka
inginkan," bebernya.
Menurut Suryo, publik harus mengerti
skenario drama politik yang jahat ini agar tidak bingung dan tersesat.
"Mereka giring opini publik ke target mereka. Kalau tidak sesuai target
mereka tuduh curang. Mereka tidak siap kalah maka segala cara ditempuh
untuk menang. Berbeda dengan Prabowo-Hatta, yang akan menghormati apa
pun keputusan rakyat. Menang tidak akan mentang-mentang, dan kalau pun
kalah tidak marah," tutupnya.
Prabowo Subianto Di Mata Lee Kuan Yew
Siapa
tak kenal negarawan satu ini? Arsitek pembangunan Singapura tersebut
tampak masih sehat untuk ukuran orang seusianya. Pikirannya masih tajam,
jauh dari kesan pikun. Ucapannya lancar tak peduli usianya sudah 90
tahun.
Saya bukan
orang Singapura jadi saya hanya mengenalnya lewat buku dan cerita orang.
Ir. Ciputra, pendiri perusahaan tempat saya bekerja, pernah dalam suatu
kesempatan menceritakan kekagumannya terhadap Lee yang katanya sangat
brilian dalam membangun negeri pulau sekecil Temasek menjadi Singapura
yang super makmur. Beliau selalu menjadikan Lee sebagai contoh seorang
politisi dan birokrat yang memiliki jiwa entrepreneurship yang tinggi.
Terakhir kali sepengetahuan saya Ciputra hendak menemui Lee saat
bertandang ke Singapura untuk menerima penghargaan dari stasiun TV
Channel News Asia di Maret tahun 2013, tetapi sayang Lee sedang didera
sakit lutut. Kata Ciputra yang akan merayakan ulang tahunnya yang ke-83
24 Agustus nanti, “Jangan terlalu banyak olahraga naik sepeda statis.”
Ia menyarankan renang saja yang lebih aman untuk persendian karena minim
hentakan.
Sebagai
negarawan top yang bertetangga dengan kita, Lee sering bertemu dengan
sosok-sosok penting dalam percaturan politik Indonesia. Salah satunya
yang ia turut bahas dalam memoarnya “From Third World to First- The
Singapore Story (1965-2000)” adalah calon presiden kita sekarang yang
bernomor urut 1, Prabowo Subianto.
Dalam memoarnya
yang tebal itu, Lee mendedikasikan satu bab berjudul “Indonesia: From
Foe to Friend” dengan 3 halaman yang menyebut Prabowo. Pertama di
halaman 312, Lee menyebut Prabowo sebagai “komandan Kopassus”. Tak
banyak cerita di sini karena Lee lebih menyorot Titiek, mantan istri
Prabowo, yang menemui Lee pada tanggal 9 Januari 1998 dengan misi
mendapatkan bantuan dari Singapura dalam upaya mengumpulkan dana melalui
surat utang atau bond dalam mata uang dollar AS di Singapura. Lee
menolak karena meski ia mau melakukannya pun, langkah itu tak akan
efektif selamatkan rupiah yang jeblok. Terdesak, Titiek berdalih ada isu
dari Singapura yang melemahkan rupiah tahun 1998 dan menuduh
bankir-bankir Singapura mendorong orang Indonesia menyimpan uang di
negeri seberang.
Lee menyarankan Titiek dan Suharto berkonsultasi dengan
Paul Volcker, mantan pimpinan Bank Sentral AS (Federal Reserve) tetapi
ujungnya, nasihatnya tak digubris. Volcker diundang ke Jakarta untuk
bertemu Suharto tetapi tak diangkat sebagai penasihat.
Di
halaman 316 memoarnya, Lee Kuan Yew menyinggung tentang kepribadian
Prabowo di mata Suharto yang dianggap “cerdas dan ambisius tetapi
impulsif dan gegabah.” Berikut kutipan dari halaman tersebut:
“The
most grievous error of all was his balancing act in appointing General
Wiranto as chief of the armed forces while promoting his son-in-law
Prabowo Subianto to be liutenant-general and chief of Kostrad (the
Strategic Forces). He knew that Prabowo was bright and ambitious, but
impetuous and rash.” (From Third World to First, p.316)
Seperti
kita ketahui bersama, Wiranto juga mengajukan diri sebagai calon
presiden tetapi sayangnya gagal di tengah jalan. Akhirnya dengan
mengingat sejarah permusuhannya dengan Prabowo tersebut, partainya
Hanura merapat ke kubu lawan Prabowo. Anda dapat baca di situs resmi
Wiranto.com, dukungan pada Jokowi dan Jusuf Kalla tampak sangat kental.
Langkah Wiranto terbilang cukup jitu dan membuat partainya lebih “aman”
meski pergulatan dengan pihak Prabowo-Hatta akan jauh lebih alot tetapi
setidaknya ia bersama mendukung Jokowi yang dielu-elukan para investor.
Di
sini, Lee seakan tahu bahwa Suharto membuat kesalahan besar dengan
mengangkat keduanya bersamaan di posisi-posisi puncak militer negeri
ini. Akan tetapi Suharto toh tetap melakukannya.
Apakah itu karena
desakan sang anak Titiek, atau karena status Prabowo sebagai anak
menantu, atau karena Suharto masih berharap Prabowo akan bisa berubah
menjadi pribadi yang lebih matang dan bijak? Entahlah, tetapi penggunaan
kata “grievous” mengacu pada sesuatu yang “berakibat serius dan
menimbulkan penderitaan atau rasa sakit yang hebat” (Longman Dictionary
of Contemporary English, hal 172). Penekanannya tergolong berat karena
disandingkan dengan kata “error”. Atau Suharto sedang bertindak gegabah
juga saat mengangkat Prabowo? Bisa jadi.
Dalam
alinea selanjutnya, Lee menguraikan bahwa dirinya bertemu Prabowo dalam
dua kesempatan makan siang di ibukota. Yang pertama pada tahun 1996 dan
kedua 1997, sebelum kejatuhan Suharto Mei 1998. Kali ini Lee tidak
segan mengutarakan opininya mengenai kepribadian Prabowo menurut
pengamatannya. “He was quick but inappropriate in his
outspokenness,”tulis Lee di halaman 316.
Kata “quick” menurut Longman
Dictionary of Contemporary English bisa membawa banyak makna jika kita
membicarakan perangai seseorang “cekatan” (moving or doing something
fast) atau “pandai” karena mampu belajar dan memahami dengan cepat (able
to learn and understand things fast). Yang ketiga, “quick” juga bisa
dimaknai “cepat naik darah”, misalnya “have a quick temper” yang artinya
“to get angry very easily”. Entah yang mana makna yang hendak
disampaikan Lee, tetapi Anda bisa berspekulasi secara logis dengan
mengamati tindak tanduk dan cara bicara Prabowo selama ini tampil di
depan publik.
Lee Kuan Yew menangkap sinyal aneh
dari Prabowo yang menemuinya pada tanggal 7 Februari 1998, kurang lebih
tiga bulan sebelum Mei berdarah itu. Prabowo menemui Lee dan Perdana
Menteri Singapura saat itu Goh Chok Tong secara terpisah di Singapura.
Yang disampaikan Prabowo, kata Lee, adalah sebuah pesan yang “aneh”,
isinya adalah peringatan singkat mengenai risiko yang dihadapi kaum
keturunan Tionghoa di bumi nusantara. Prabowo mengatakan bahwa warga
keturunan itu menghadapi risiko karena jika ada hal tak diinginkan
terjadi, “kerusuhan” tulis Lee, mereka akan terluka sebagai kaum
minoritas.
Tak ketinggalan jendral baret merah itu
menyebutkan pengusaha Sofyan Wanandi (ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia
2008- 2013) dalam percakapannya. Sofyan yang keturunan Tionghoa (meski
secara de facto lahir di Sawahlunto, Sumbar) itu dianggapnya
benar-benar berada dalam risiko tinggi karena statusnya sebagai
“minoritas ganda”, seorang dengan darah keturunan dan berkeyakinan
Katholik pula! Apakah juga karena Sofyan adalah sosok yang kritis dan
vokal terhadap status quo?
Sebagaimana diketahui, rekam jejak Sofyan
adalah mantan aktivis 1966 dengan pengalaman segudang di bidang ekonomi,
birokrasi dan politik (sumber: Wikipedia), yang membuatnya menjadi
seorang minoritas dengan keberanian yang luar biasa untuk menyuarakan
aspirasi diri dan kaumnya.
Masih di halaman 316,
Lee mengutip perkataan Prabowo bahwa Sofyan Wanandi berkata pada Prabowo
dan sejumlah jenderal lainnya bahwa Suharto yang saat itu masih
berkuasa harus turun tahta. Prabowo berusaha meyakinkan Lee bahwa Sofyan
benar-benar mengatakan hal itu dan menurut Prabowo pernyataan tersebut
bisa membahayakan kelompok Katholik yang berdarah Tionghoa di tanah air.
Mendengar ‘agitasi’ sang jenderal, Perdana Menteri Goh Chok Tong dan
Lee menjadi bingung. Begini Lee menggambarkan kebingungannya:
“Both
the Prime Minister and I puzzled over why he should want to tell us
this about Sofyan when it was patently unlikely that any Indonesian
would tell the president’s son-in-law that the president should be
forced to step down. We wondered if he was preparing us for something
that would happen soon to Sofyan and other Chinese Indonesian
businessmen.” (From Third World to First, p. 317)
Tentu
saja ini kurang sama sekali tidak masuk akal. Mengapa Sofyan yang
jelas-jelas bukan orang bodoh dan merupakan bagian dari minoritas
Tionghoa Katholik mengatakan ancaman kudeta itu pada seorang jenderal
yang juga berstatus menantu presiden yang terang-terang masih berkuasa?
Bukankah itu seperti upaya bunuh diri? Mengapa Sofyan yang sudah berada
dalam bahaya malah mengeluarkan pernyataan semacam itu? Tidak ada yang
bisa mengklarifikasi pernyataan Lee ini, kecuali Goh atau Prabowo mau
buka mulut juga tentang isi percakapan mereka itu, yang kemungkinan
besar tidak akan terjadi. Di sini, kita bisa berspekulasi: siapa yang
berbohong dan apa motifnya?
Di samping semua hal ganjil tadi, satu hal
yang menggelikan adalah lupanya Prabowo bahwa Goh dan Lee juga orang
Tionghoa! Lee memang bukan pemeluk Katholik. Dalam sebuah wawancara
dengan The New York Times, Lee mengakui dirinya sebagai orang agnostik
(seseorang yang yakin bahwa tidak ada yang bisa diketahui mengenai
keberadaan atau sifat Tuhan atau apapun selain fenomena material;
seseorang yang mengklaim dirinya bukan pemeluk agama tertentu tetapi
juga tidak menyatakan ketiadaan Tuhan). Namun, tetap saja ada persamaan
antara Lee dan Sofyan. Jelas, Prabowo memiliki agenda tersembunyi.
Agenda yang hanya Tuhan dan ia sendiri ketahui. Silakan Anda baca
penjelasan Lee selanjutnya dan simpulkan sendiri.
Lee
melanjutkan narasinya dengan membeberkan peristiwa tanggal 9 Mei 1998,
saat Admiral William Owens (seorang pensiunan wakil pimpinan US Joint
Chiefs of Staff ) menemui Lee di Singapura. Owens rupanya juga mengendus
keganjilan yang juga dirasakan Lee dalam diri Prabowo. Pada Lee, Owens
mengaku bertemu Prabowo di Jakarta pada tanggal 8 Mei 1998. Selama
makan siang, keduanya didampingi oleh dua ajudan muda bawahan Prabowo
(keduanya letnan kolonel, satu dokter). Owens mendengar sendiri Prabowo
mengklaim dengan penuh keyakinan bahwa sang “pria tua mungkin tidak akan
bertahan hingga 9 bulan, mungkin ia akan meninggal dunia”. Pria tua
yang ia maksudkan di sini kemungkinan besar adalah ayah mertuanya
sekaligus ayah kandung istrinya Titiek, Presiden Suharto yang masih
berkuasa saat itu.
Lee melanjutkan penuturan Owens
yang melihat aura kebahagiaan dalam ekspresi dan air muka Prabowo yang
saat itu baru saja diangkat menjadi jenderal bintang 3 dan mengepalai
Kostrad. Lee menulis:
“In a happy mood,
celebrating his promotion to three stars and head of Kostrad, he joked
about talk going around that he himself might attempt a coup. Owens said
that although Prabowo had known him for two years, he was nonetheless a
foreigner. I said Prabowo had a reckless streak in him.” (From Third
World to First, p. 317)
Kita bisa garisbawahi
kata “a coup” yang dilontarkan Lee. Apakah lelucon kudeta itu semacam
isyarat dari alam bawah sadar Prabowo yang tiba-tiba muncul keluar tak
terkendali dari mulutnya? Sekali lagi, Lee menegaskan karakter Prabowo.
Sebelumnya Lee tahu Suharto berpikir bahwa Prabowo itu sembrono: “He
knew that Prabowo was bright and ambitious, but impetuous and rash.”
(From Third World to First, p.316). Lee seolah mengamini Suharto dengan
menuliskan:”I said Prabowo had a reckless streak in him.” (p.317).
Menurut Google Dictionary, “reckless” dapat diterjemahkan sebagai “tanpa
berpikir atau peduli atau mempertimbangkan konsekuensi sebuah tindakan”
(without thinking or caring about the consequences of an action).
Kemudian
meledaklah kerusuhan dan tragedi kemanusiaan yang menimpa warga
keturunan di tanah air terutama Jakarta dan sekitarnya pada tanggal 12
Mei 1998. Enam mahasiswa Universitas Trisakti tewas tertembus peluru
pasukan anti huru hara. Semua itu memicu kekacauan yang meluas.
Penjarahan pusat-pusat perniagaan ibukota dan permukiman warga keturunan
Tionghoa ditambah lagi dengan pemerkosaan dan pembunuhan keji terhadap
para wanita keturunan Tionghoa. Lee berkomentar:
“It
was general knowledge that the rioting was engineered by Prabowo’s men.
He wanted to show up Wiranto as incompetent, so that on Suharto’s
return from Cairo, he (Prabowo) would be made chief of armed forces. By
the time he returned from Cairo on 15 May, Suharto’s position was lost.”
(From Third World to First, p. 317)
Menurut Lee,
sudah bukan rahasia lagi bahwa kerusuhan Mei 1998 direkayasa oleh
orang-orang Prabowo. Prabowo ingin menunjukkan pada Suharto bahwa
pesaingnya itu tak seunggul yang dikira, ingin membuktikan bahwa Wiranto
sebagai pucuk pimpinan TNI lengah dan tak berdaya menghadapi kekacauan
bernuansa SARA (suku, agama, ras) tersebut. Misi Prabowo rupanya, kata
Lee, adalah menjadi pimpinan Angkatan Bersenjata RI. Sayangnya, ayah
mertuanya saat itu malah jatuh dari kursi kekuasaannya yang sudah
dikuasai selama 30 tahun lebih.
Atas semua kejadian tragis yang menimpa pemimpin negeri tetangganya ini, Lee menjabarkan keprihatinannya:
“It
was an immense personal tragedy for a leader who had turned an
impoverished Indonesia of 1965 into an emerging tiger economy, educated
his people and built the infrastructure for Indonesia’s continued
development. At this crucial moment, the man who had been so good at
judging and choosing his aides had chosen the wrong men for key
positions. His mistakes proved disastrous for him and his country.” (
From Third World to First, p. 318)
Dari
penjelasan Lee ini, jika memang benar, Prabowo bisa disimpulkan telah
berkontribusi pada jatuhnya sang ayah mertua saat itu karena
kerakusannya pada kekuasaan. Dengan berdasarkan pada asumsi tersebut,
tampaknya keluarga Cendana sudah memaafkan tindakan Prabowo karena
mereka menyatakan dukungan bulat padanya di Pilpres 2014 ini. (sumber:
Inilah.com).
Cukup masuk akal jika demikian adanya, karena bila ia menjabat sebagai
presiden RI periode 2014-2019, Prabowo bisa menjadi pembuka jalan bagi
dinasti Cendana untuk kembali berkuasa.
Ketahuan Manipulasi, Hari ini Data Quick Count SMRC-LSI Diupdate!
Oleh Tras Rustamaji
Tadi malam (12/7) saya kaget bukan kepalang mengetahui bahwa data quick
count SMRC-LSI yang di tampilkan di
http://www.komunigrafik.com/pilpres2014/stabilitas.php berubah . Berikut
adalah data yang sebelumnya saya ambil untuk membuat analisa tulisan
sebelumnya di
https://www.facebook.com/notes/tras-rustamaji/catatan-quick-count-pilpres-2014/10152551028838914
(dipublis juga di Piyungan Online :
Membongkar 'Keanehan' Quick Count SMRC-LSI yang Menangkan Jokowi-JK)
 |
| Gbr 1 |
Dalam notes yang saya tulis sebelumnya saya kritisi kenapa
kurva stabilitas suara
di atas (Gbr 1) tidak menunjukkan adanya fakta bahwa prabowo sempat
leading pada saat data yang masuk 68 – 546 TPS, seperti pada kurva yang
saya capture pada tanggal 9 Juli 2014 jam 13.05 seperti di bawah ini
(Gbr 2).
 |
| Gbr 2 |
Nah, alih-alih menjelaskan kenapa ada perubahan kurva tersebut, SMRC
malah mengganti datanya menjadi seperti di bawah ini. Dan ini adalah
data ditampilkan pada pukul 00:56:39 dini hari tadi (Gbr 3).
 |
| Gbr 3 |
Kelihatan sekali bahwa data yang baru diedit tersebut dibuat untuk
menghilangkan anomali yang saya jelaskan di notes sebelumnya. Kurva di
ataspun kalau mau saya bahas, banyak sekali kejanggalannya, tapi saya
gak mau bahas itu karena itu kurva fake. Membahas kurva stabilitas fake (palsu) hanya menghabiskan energi.
Apakah kita masih percaya quick count jika lembaga sekelas Saiful Mujani
ini, suatu lembaga yang saya respect beberapa tahun terakhir karena
metodologinya, akurasinya, sekarang mau bermain-main dengan data,
seenaknya mengganti data hanya demi mendukung capres idolanya.
Kalau temen-temen masih kekeuh bahwa hasil quick count dari 2000 atau
4000 tps adalah yang paling valid, lebih valid daripada data KPU yang
dari 478.685 TPS, saya sudah nyerah deh. Mesti dengan cara apalagi saya
menjelaskannya.
Lebih gampang memanipulasi data sample quick count yang cuma 2.000 TPS
tanpa pengawasan (walaupun katanya lembaga kredibel) dibandingkan
memanipulasi data 478.685 TPS yang diawasi saksi kedua belah pihak dan
pengawas bahkan publik sekalipun bisa ikut mengawasinya. Dan itu sudah
terbukti tadi malam, smrc mengganti data quick countnya tanpa saksi,
tanpa pengawasan tanpa upacara.
____
UPDATE (admin):
Setelah ramai diperbincangkan di social media tentang "KEANEHAN" Quick
Count SMRC-LSI, tiba-tiba kurva stabilitas suara QC SMRC-LSI diganti
(Gbr 3), dan setelah ketahuan manipulasi dg kurva fake ini, hari ini
kurva fake tersebut sudah hilang. Sila cek:
http://www.komunigrafik.com/pilpres2014/stabilitas.php ... maka akan terlihat tampilan dibawah ini (Gbr 4)
 |
| Gbr 4 |
Aa Gym minta Prabowo dan Jokowi Stop Ngaku-ngaku Jadi Presiden