Kamis, 18 Desember 2014

Hanya Tenggelamkan Tiga Kapal, Ini Penjelasan TNI AL



Jakarta - WARA - Panglima Koarmabar TNI AL Laksamana Muda TNI Widodo menjamin, pihaknya akan melaksanakan perintah presiden terkait penenggalaman kapal asing yang melakukan pencurian ikan di perairan Indonesia.

"Kami loyal kepada presiden. Untuk melakukan apapun harus kita kerjakan. Hanya memang pelaksanaanya kita back up dengan hukum yang benar," ujar Widodo di Kantor Presiden, Jakarta, Kamis 18 Desember 2014.

Menurut dia, kapal yang ditenggelamkan harus melalui keputusan tetap pengadilan.

"Kalau sudah in kracht sudah dirampas oleh negara kemudian setelah dirampas kan terserah negara. Dia sudah nggak punya bendera lagi setelah dirampas oleh negara. Terserah kita mau tenggelamkan diberi nelayan terserah kita. Perintahnya bapak presiden tenggelamkan kita tenggelamkan," ujarnya menambahkan.

Menurut dia, saat ini memang baru ada tiga kapal asing yang ditenggelamkan. Sebab, hanya tiga kapal tersebut yang sudah memiliki kekuatan hukum tetap. Sementara sisanya masih diproses di pengadilan.

"Yang terbaru memang itu. Ada. Nanti selalu ada. Nanti minggu depan ada lagi, minggu depannya ada lagi. Dan terus selalu ada," ujar Widodo berjanji.

Ia mengatakan, setiap hari pasti ada kapal pencuri yang tertangkap. Jumlahnya bervariasi, sehari bisa menangkap 10 kapal, dua kapal, bahkan 22 kapal.

"Jadi sangat-sangat fleksibel, tergantung situasi di lapangan, dan cuaca. Kalau cuaca buruk barangkali mereka menghindar juga."

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo menyindir masalah ini, karena dari ribuan kapal yang melakukan pencurian ikan di Indonesia hanya tiga yang ditenggelamkan oleh TNI dan Kementerian Kelautan dan Perikanan. Sindiran itu disampaikan Jokowi di depan peserta Musyawarah Rencana Pembangunan Nasional (Musrenbangnas).  (VIVAnews)

Galungan Hindu dan Shafaran Muslim Berjalan Mesra di Bukit Tabuan


HARMONIS-Warga Hindu dan Muslim di Bukit Tabuan, Kabupaten Karangasem, Bali, melakukan ritual Hari Raya Galungan dan Shafaran di tempat yang sama dan dalam waktu hampir bersamaan, Rabu (17/12). Kerukunan antarwarga berbeda agama terjaga di sana sejak abad 16, karena sejarah dan leluhur yang sama.
Karangasem – WARA - Di Desa Adat Seraya, Kecamatan Karangasem, Kabupaten Karangasem, berdiri sebuah bukit yang diberi nama Bukit Tabuan. Bebukitan yang ditumbuhi pepohonan itu masih terlihat asri, dan terasa damai suasananya. Kesatuan leluhur telah mengeratkan kerukunan antarsesama penduduknya yang berbeda keyakinan.

Daerah yang agak terpencil dari hiruk pikuk kota ini dihuni oleh sebagian umat Hindu dan Islam yang telah membaur sejak abad ke-16 Masehi. Walaupun berbeda keyakinan, mereka terlihat seperti bersaudara, dan tak pernah berselisih satu sama lain. Kondisi tersebut tercermin dari acara yang dilakukan secara bersama dan bergiliran dalam satu lokasi yang dianggap memiliki nilai kesakralan oleh seluruh warga di sana, baik yang Hindu maupun Islam.

”Kita semua sudah seperti saudara. Kita ada di sini sejak dipindahkan dari Yeh Kali oleh Anak Agung Ngurah Karangasem (Raja Karangasem). Mungkin sekitar abad 16,” ujar tokoh Desa Dinas Bukit Tabuan, Burhanuddin, Rabu (17/12) kemarin.

Suasana persaudaraan antara umat Hindu dan Islam di Bukit Tabuan yang mengikat mereka sejak beberapa abad tercermin dari gelar ritual yang dilakukan di waktu yang hampir bersamaan di lokasi yang sama. Bertepatan dengan jatuhnya Hari Raya Galungan, sebagian umat Islam di Bukit Tabuan juga melakukan tradisi Shafaran yang dilakukan setiap tahun sekali, atau tepatnya pada akhir bulan Shafar (menurut kalender Islam), yang jatuh pada pertengahan Desember ini.


Sebelum melakukan ritual, dua warga yang memiliki keyakinan berbeda terlihat membaur menjadi satu di lokasi yang sama, karena lokasi tersebut dianggap memiliki kesakralan bagi mereka bersama. Tempat tersebut bernama Prasasti Pesantren Buar–Buaran, dan kini berubah nama menjadi Pura Bhor Lokha atau Pura Buar–Buaran.

Ratusan ciptaan Tuhan yang berbeda keyakinan terlihat duduk secara bersama di Pura Bhor Lokha, untuk melakukan ritual menurut kepercayaannya. Umat Hindu terlihat menggunakan pakaian adat khas Bali untuk persembahyangan Hari Raya Galungan, sedangkan umat Islam menggunakan pakaian yang pada umumnya biasa dikenakan kaum muslim lainnya, yakni peci, sarung, serta baju koko.


Sebelum upacara persembahyangan (Galungan) digelar oleh umat Hindu, sebagian umat Islam diberi kesempatan untuk melakukan ritual terlebih dahulu. Lantunan ayat Al-quran terdengar dari sekitar Pura Bhor Lokha, dan beberapa umat Islam juga terlihat menebarkan kembang di Prasasti tersebut.


Saat ritual umat Islam digelar, beberapa pemangku dan pemedek Hindu juga terlihat mendampingi di pinggir. Begitu juga nanti sebaliknya. Usai ritual tersebut, acara dilanjutkan oleh umat Hindu Desa Bukit Tabuan. Mereka melakukan persembahyangan secara bersama untuk memperingati Hari Raya Galungan, dan dilanjutkan nunas yeh tirta yang dilakukan oleh para pemangku. 

Ritual antara umat Hindu dan Islam di Pura Bhor Lokha ditutup dengan penyerahan sesajen antara dua tokoh. ”Ini adalah momen yang paling bahagia. Ini baru pertama kami menggelar upacara secara bersama di tempat ini (Pura Bhor Lokha),” imbuh tokoh Desa Bukit Tabuan, Hasan Basri.

Menurut Bandesa Adat Seraya, I Nyoman Matal, ikatan persaudaraan umat Hindu dan Islam di Desa Dinas Bukit Tabuan telah terjalin sejak dulu. Tali persaudaraan itu diikat oleh sebuah prasasti yang merupakan warisan dari leluhur bersama mereka.


Hasan Basri menambahkan, mereka umat Hindu dan Islam di Bukit Tabuan kadang menyampaikan rasa syukurnya di Prasasti.


”Tahun ini tradisi Shafaran bertepatan dengan Hari Raya Galungan. Jadi penyampaian rasa syukur dilakukan secara bersama dalam waktu bergiliran,” ungkap Matal.


Hasan Basri menambahkan, prasasti yang berada di Pura Bhor Lokha sudah ada sejak para leluhur di sana mengenal solat telu waktu (tiga waktu). Di tempat ini pula para leluhur di Bukit

Tabuan melakukan ibadah secara bersama. ”Leluhur dulu mengadakan ritual disini dengan membawa sesajen. Biasanya sebelum musim panen, mereka datang kesini (Prasasti) untuk bersyukur. Kerukunan ini sudah terjadi sebelum kita ada,” tambah Hasan Basri. (Tribun)

SBY : Pantang Saya Mencari Kambing Hitam


Jakarta - WARA - Meski sudah tidak lagi menjabat Presiden, sebagai seorang Negarawan, Susilo Bambang Yudhoyono tetap memantau berbagai perkembangan bangsa dan negara Indonesia.

Saat ini, SBY tengah mengikuti gejolak ekonomi akibat jatuhnya nilai rupiah. Termasuk sejumlah pernyataan pemerintah Joko Widodo-Jusuf Kalla yang akhir-akhir ini menyatakan gejolak ekonomi yang terjadi akibat kebijakan pemerintahan sebelumnya.

Hal ini disampaikan SBY di akun Facebooknya yang ditulis sendiri, Kamis 18 Desember 2014. Kata SBY, memang paling mudah mencari "kambing hitam" atas kesalahan sendiri, terutama terkait jatuhnya rupiah.

"Selain alasan-alasan lainnya, seorang pejabat pemerintah juga menuding bahwa semua ini akibat kebijakan pemerintahan SBY yang salah. Menyalahkah orang lain tak akan menyelesaikan persoalan. Itulah pelajaran yang saya petik selama dulu memimpin negeri ini," ujar SBY.

Atas tudingan itu, SBY meminta kepada siapapun yang bersamanya selama 10 tahun di pemerintahan, tetap bersabar. Tidak terpancing, apalagi harus ikut menuding ke sana kemari.

SBY tak akan lupa terhadap jasa para Menteri, Gubernur, Ekonom, Pebisnis dan lain-lain yang amat sering bersamanya mengatasi berbagai persoalan ekonomi.

"Termasuk kebersamaan kita, siang dan malam mengatasi gejolak minyak dunia tahun 2005 dan 2008, dan mengatasi krisis global tahun 2008 dan 2009," kata SBY.

Atas keputusan, kebijakan dan tindakan yang dilakukan Pemerintahannya saat itu, tanpa menyalahkan orang lain, Kata SBY ekonomi di Tanah Air bisa diselamatkan.

"Terimalah ucapan terima kasih saya dan tetaplah bersabar jika apa yang kita lakukan dengan sungguh-sungguh dulu, kini dengan mudah disalahkan. Jika ada yang salah dengan kebijakan pemerintahan SBY, semua itu tanggung jawab saya. Saya tak akan pernah menyalahkan yang lain," ujar SBY.

Ketua Umum Partai Demokrat itu menyerahkan kepada Tuhan dan rakyat untuk menilai apa yang sudah dilakukannya selama 10 tahun memimpin bangsa ini.

"Prinsip kepemimpinan yang saya anut, pantang menyalahkan baik pendahulu maupun pengganti saya. Tabiat menyalahkan tak baik dan tak arif. Saya juga tak suka menyalahkan pendahulu. Bung Karno, Pak Harto, Pak Habibie, Gus Dur & Ibu Megawati, semua ingin berbuat yang terbaik untuk rakyatnya," tuturnya.

Dalam situasi seperti ini, menurut SBY, pemerintah dan rakyat tidak boleh saling menyalahkan, apalagi mencari kambing hitam. "Selain tak etis, yang terpenting adalah solusi."
(VIVAnews)

Ada Isu Ahok Akan Diserbu, Ini Respon Ketiga Anaknya


Jakarta – WARA - Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama mengatakan, berbagai sikap dan kebijakan yang diambilnya berdampak terhadap keluarganya, termasuk terkait kebijakan penertiban permukiman liar di kawasan Waduk Pluit, Jakarta Utara.

Pria yang akrab disapa Ahok itu menuturkan, ketika kawasan Waduk Pluit mulai ditertibkan, muncul isu kediaman pribadinya di Pluit akan diserbu sekitar 1.000 orang. Ahok mengatakan, ketika itu, ia memutuskan untuk menyampaikan isu itu kepada ketiga buah hatinya.

"Pertama, saya bilang ke anak saya yang paling besar (Nicholas), saat itu dia masih 15 tahun. Saya bilang ke dia, 'Malam ini, mungkin kita akan diserbu'," tutur Ahok pada acara diskusi SMA Santa Laurencius, di Balai Agung, Balaikota, Kamis (18/12/2014).

Bagaimana respons Nicholas mendengar itu?

"Oke, kita fight sampai mati, titik akhir," kata Ahok menirukan Nicholas.

Ahok begitu senang dengan keberanian putra sulungnya. Ahok pun meminta Nicholas untuk mempersiapkan semua senjata yang mereka miliki, seperti airsoft gun, pisau komando, maupun beling.

Respons berbeda diungkapkan oleh putri semata wayangnya, Nathania. Menurut Ahok, Nathania beserta sang ibu atau istri Basuki, Veronica Tan, lebih banyak diam. Mereka pun telah diarahkan oleh Basuki soal jalur evakuasi mana saja yang bisa dilewati jika rumah mereka benar-benar diserbu.

"Kalau kita mati beneran gimana, Pak?" kata Ahok menirukan pertanyaan Nathania kepadanya.

Kemudian, Ahok menjawab, menurut kitab suci umat Kristen, Alkitab, jika seseorang meninggal dan percaya kalau Tuhan itu ada, dia pasti akan masuk surga.

Mendengar jawaban Ahok, putra ketiganya, Daud, langsung menyeletuk, "Buat apa ke surga, Pak? Rumah kita juga sudah kayak surga, kok," kata Daud polos, seperti ditirukan Ahok.

Semua siswa-siswi SMA Santa Laurencius yang menghadiri talkshow itu langsung tertawa mendengar cerita orang nomor 1 DKI Jakarta itu.

Pada akhirnya, isu itu hanya isapan jempol belaka. Dari respons ketiga anaknya itu, Ahok mengajarkan kepada mereka untuk tidak pernah takut mati.

Menurut Ahok, nyawa manusia adalah milik Tuhan. Kapan pun itu, Tuhan bisa mengambil kembali nyawa manusia.

"Kalau diancam mati terus takut itu namanya pengecut. Tapi, kalau mati karena membela konstitusi, membela orang banyak, itu namanya mati legenda. Saya bilang ke istri saya kalau saya mati jangan dikremasi, kirim saja ke Belitung Timur, minimal tambah lagi satu situs wisata, kuburan Ahok (Basuki). He-he-he," kata Ahok terkekeh. (KOMPAS.com )

Pimpinan MPR Minta Klarifikasi Soal Isu Larangan Berjilbab


Jakarta - WARA - Wakil Ketua MPR, Hidayat Nur Wahid meminta Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Rini Soemarno, menjelaskan soal munculnya isu pelarangan Jilbab bagi karyawan BUMN. Apakah itu benar atau hanya isu yang digosok-gosok pihak yang tak bertanggungjawab lewat media sosial.

"Harus diklarifikasi dari menteri BUMN, supaya tidak menimbulkan keresahan dan menganggu konsentrasi mereka dalam bekerja. Menteri BUMN harus klarifikasi," katanya saat dihubungi, Kamis 18 Desember 2014.

Politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini meminta DPR RI segera memanggil Rini guna menjelaskan kebijakan tersebut.

"Secara prinsip kalau ada penjelasan dari menteri baik iya atau tidak. Kontroversi ini harus diselesaikan DPR. Penting segera memanggil bu menteri untuk segera dikoreksi," katanya menambahkan.

Hidayat menjelaskan, Rini seharusnya mengatur cara berpakaian yang pantas dan menunjang kinerja serta bagaimana meningkatkan profesionalisme karyawan.

"Yang mesti diatur bagaimana karyawan profesional, bisa memenuhi target kementerian,tidak membolos. Harusnya fokus di situ," katanya.

Ia mengaku sangat kecewa jika Rini terbukti benar membuat kebijakan larangan mengenakan jilbab.

"Secara prinsip kalau itu benar, saya menyesalkan dan menolak. Harusnya yang diperhatikan para menteri ialah meningkatkan kinerja para pegawai."

Menurut dia, pelarangan jilbab bertentangan dengan hak azasi manusia (HAM) terutama tekait kebebasan berekspresi yang dilindungi konstitusi.

Sebelumnya sempat beredar isu di media sosial soal larangan pegawainya menggunakan jilbab panjang. Hal tersebut diungkap oleh pemilik akun @estiningsihdwi.

Ia memposting sejumlah kriteria rekruitmen PNS di Kementerian BUMN, seperti dilarang mengenakan jilbab panjang, pria dengan berjanggut, serta celana mengatung. (VIVAnews)