Selasa, 16 Desember 2014

Rupiah Jadi Mata Uang Tak Berharga di Dunia, Ini Komentar BI



Surabaya - WARA - Rupiah menjadi mata uang dengan nilai terendah keempat dari 180 negara dunia. Level ini diperingkat berdasarkan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang masih menjadi mata uang acuan, atau patokan nilai tukar bagi mata uang lainnya.

Menanggapi hal itu, Bank Indonesia menilai itu bukan suatu hal yang patut dipermasalahkan mengingat hal itu hanya soal pencantuman angka saja.

"Kalau soal nilai, itu hanya soal denominasi aja. Lihat saja nanti kalau redenominasi (pengurangan nol) rupiah sudah dilakukan," kata‎ Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia, Solikin M Juhro‎ di Perpustakaan Bank Indonesia, Surabaya, Sabtu (13/12/2014).

Solikin menjelaskan, rencana Bank Indonesia mengenai redenominasi merupakan salah satu hal yang dalam jangka panjang mengenai penilaian masyarakat maupun dunia internasional‎ agar tidak lagi dipandang sebelah mata.

Saat ini terdapat 15 mata uang dengan nilai tukar yang paling rendah terhadap dolar AS. Dalam daftar tersebut, ternyata mata uang Indonesia, rupiah, termasuk dalam salah satu mata uang paling tidak berharga,

Menurut data itu, Indonesia menempati posisi ke-4 sebagai negara dengan nilai mata uang terendah di dunia. Sampai saat ini, 1 US$ setara dengan Rp 12.467.

Nilai tukar tersebut merupakan nilai terlemah sejak Agustus lalu, yaitu sekitar 1,3 persen, demikian menurut Bloomberg, Sabtu (13/12/2014).

Majalah The Economist menyebutkan, bahwa masalah indonesia adalah infrastruktur yang jelek, pemerintahan yang birokratis dan korupsi yang menggurita. Kondisi inilah yang membuat nilai tukar rupiah sangat rendah terhadap dolar AS.

Adapun negara dengan mata uang, sampah nomor 1 di dunia adalah Iran dengan mata uangnya rial. Mengikuti rial, ada mata uang dong dari Vietnam dan mata uang dobra dari Sao Tome yang menempati posisi ke2 dan ke-3 di atas Indonesia. (Liputan6.com)

Bir, Natal di Palestina, dan sedikit tentang Ahok



Palestina tak melulu soal Zionisme, tapi juga festival bir. Ramalah, sebuah kota di Palestina bahkan pernah dipimpin oleh perempuan non muslim. Warga Palestina juga merayakan natal. 

WARA - Saya selalu berharap untuk bisa datang ke Palestina di bulan Oktober. Tepatnya saya ingin bisa hadir dan berada di Ramalah, Palestina, saat Oktober tiba. Saya ingin datang dan menikmati Taybeh Beer Festival. Ya, festival bir yang diselenggarakan pabrik bir setempat. Ramalah, sebuah kota di Palestina yang pernah dipimpin oleh perempuan non-Muslim bernama Janet Mikhael. Seorang Nasrani yang tinggal dan memimpin di sebuah kota yang mayoritas penganutnya beragama Muslim.


Tapi sayang, karena agresi Israel beberapa bulan lalu Taybeh Beer Festival ke 10 tak digelar. Namun keluarga Khoury, pendiri Taybeh dan penyelanggara festival bir ini, tetap akan mengadakan acara tersebut di tahun-tahun mendatang. Baginya Taybeh Beer Festival adalah wajah lain Palestina. Atau dalam bahasanya,

Tapi benarkah ini Palestina? Tanah para syuhada, para pejuang dan para martir intifada? Bagaimana mungkin tanah ini menyediakan ruang untuk festival bir, yang jelas-jelas haram? Kita tahu meskipun mayoritas penduduk Palestina beragama Muslim (98 persen), sedangkan Kristen hanya 1,3 persen, Palestina bukan negara yang dihuni despot dan bigot yang menolak pemimpin hanya karena agamanya berbeda.

Palestina bukan melulu tentang negara yang bergejolak akibat perang melawan Zionisme. Pada satu titik ia merupakan sebuah negara yang berdasar pada prinsip demokrasi. Pemimpin dipilih berdasarkan pemilu dan kelompok kelompok minoritas seperti, Druidz, Samaritan, atau bahkan sebagian kecil Yahudi diakomodir dan dilindungi oleh otoritas pemimpin setempat.

Maka jika berpikir bahwa Palestina adalah negara islam, agaknya paradigma itu perlu diluruskan sedikit.
Mayoritas penduduk negara ini memang Islam, tapi toh di kota ini setiap keyakinan dan perilaku penduduknya dibiarkan sebebas-bebasnya. Dalam satu wawancara dengan Fariz N. Mehdawi, 

Duta Besar Palestina untuk Indonesia, pernah mengatakan bahwa di Palestina, seseorang tak bisa ditebak agamanya hanya berdasar nama belaka. Abdullah belum tentu Muslim. Isa dan Maryam belum tentu Kristen. Orang Palestina juga tidak bisa dibedakan agamanya berdasarkan model pakaian yang dikenakan. Ia berkata bahwa di Palestina, negara ini mengambil dasar negara sekuler yang menghormati kemanusiaan.

Fariz N. Mehdawi, duta besar Palestina untuk Indonesia pernah mengatakan bahwa di Palestina, seseorang tak bisa ditebak agamanya hanya berdasar nama belaka. Abdullah belum tentu Muslim. Isa dan Maryam belum tentu Kristen.

 

Selain Janet Mikhail di Ramallah, ada pula walikota Kristen bernama Vera Baboun di Bethlehem. Jika anda datang ke Palestina saat Natal, anda akan mengira bahwa beberapa tempat di negeri ini penduduknya mayoritas Kristen, sebab semua merayakan dengan meriah. Pun, jika anda sempat membaca buku sejarah agama-agama dunia, anda toh akan paham bahwa kekristenan bukanlah agama impor. Namun, kekristenan lahir di Palestina. Yesus lahir di Bethlehem, Palestina. Orang Kristen Palestina punya nenek moyang yang bisa jadi adalah orang-orang yang pernah bertatap muka dengan Yesus. Jadi, kekristenan adalah agama asli di Palestina.

Kristen adalah agama asli Palestina, siapapun yang mengucapkan sebaliknya ia perlu belajar mengeja sejarah. Tentu jika anda dan saya bersepakat bahwa Yesus yang lahir Judea, Betlehem itu mengajarkan kristianitas di Nazaret, Jerusalem dan tentu saja di Betlehem. Tiga kota yang berada dalam teritori Palestina dan Israel. Bukan tidak mungkin penduduk Kristen Palestina yang ada saat ini adalah keturunan langsung dari umat Yesus yang pernah hidup di antara-Nya.

Maka ketika Mahmoud Abbas, mantan Presiden Palestina, menghadiri misa natal di Bethlehem itu bukan hal yang istimewa. Ini bukan perkara halal haram seperti yang kita ributkan di tanah air, ini perkara karakter juga adab. Menarik bagaimana di tanah air kita, Indonesia, kelompok-kelompok sektarian semacam Front Pembela Anu dan Hizbut Anu, kerap menjual Palestina sebagai dagangan. Menjual duka, menjual solidaritas yang kerap kali didasarkan pada simpati keagamaan. Namun lalai melihat Ramallah dan apa yang dilakukan Mahmoud Abbas di Palestina sebagai model rujukan bertoleransi.

Di Indonesia, Gubernur DKI Jakarta Basuki "Ahok" Tjahaja Purnama hendak digulingkan dari kursi gubenur karena ia Kristen, hal serupa juga dialami oleh Lurah Lenteng Agung, Susan. Sedang di Palestina dua orang perempuan Kristen malah memimpin sebuah kota sebagai walikota. 

Maka ketika beberapa dari kita berteriak lantang seruan untuk jihad ke Palestina, pertanyakan ini terlebih dahulu: “Perlukah kita jihad di sebuah kota yang dipimpin oleh orang kafir, dalam hal ini Katolik Roma?”

Jika Palestina, tanah jihad yang kerap dijual dukanya saja bisa bertoleransi terhadap pemimpin kafir dan komunis mengapa kita di Indonesia tidak bisa? Lho kok Komunis? Palestina sekali lagi mengejutkan kita dengan keberadaan Hizb al-Sha'b al-Filastini. Atau Partai Rakyat Palestina yang berhaluan komunis. Ketika ulama-ulama, ustadz-ustadz dan tokoh agama kita sibuk memusuhi Komunis, sosialisme dan komunisme telah memperjuangkan kemerdekaan Palestina.

Pada 1969, anggota al-Jabhah al-Sha`biyyah li-Taḥrīr Filasṭīn, atau Front Pembebasan Tahanan Palestina Israel yang berhaluan Marxist-Leninist telah membajak pesawat untuk menuntut kemerdekaan Palestina. Maka jika di Palestina paham Komunis-Sosialis-Marxis diizinkan hal ini bukan perkara besar. Negara ini telah mengakui bahwa pejuang-pejuang komunis punya andil dalam usaha kedaulatan Palestina. Tidak hanya itu Bassam as-Salhi, pimpinan Partai Rakyat Palestina yang berhaluan komunis, sempat dipercaya Presiden Palestina untuk jadi menteri kebudayaan.

Maka ketika Palestina masih menjadi tanah jihad melawan kaum zionis, mereka yang menjual duka dan kesedihan wajib mengajarkan apa dan siapa sebenarnya Palestina itu. Ia adalah negara yang membiarkan kota-kotanya dimpimpin oleh non muslim, ia adalah negara yang menyelenggarakan festival bir, ia adalah negara yang memberi ruang pada komunisme, dan yang jelas negara yang presidennya tidak hanya mengucapkan selamat natal namun menghadiri misa natal.

Betapa berjaraknya realitas yang kita bayangkan antara Palestina sebagai tanah jihad dan Palestina sebagai negara sekuler. Maka ketika nanti ada ajakan untuk menyumbang atau bahkan berangkat jihad, pastikan benar-benar siapa dan apa yang kalian bela di Palestina. Jangan sekedar termakan propaganda agama, maka melupakan akal sehat dan hati nurani. Karena semestinya kemanusiaan tidak mengenal agama. (Rappler.com)

Menteri Anies Gandeng KPK Awasi Dana Pendidikan Rp 404 Triliun



Jakarta - WARA - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Anies Baswedan, mendatangi Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi, Senin 15 Desember 2014. Anies akan melakukan rapat koordinasi dengan KPK terkait pengelolaan dana pendidikan.

”Jadi, kami mau rapat koordinasi tentang pengelolaan dana pendidikan. Karena dana pendidikan banyak sekali,” kata Anies saat tiba di Gedung KPK.

Anies mengungkapkan, nilai anggaran untuk dana pendidikan pada tahun depan mencapai Rp404 triliun. Menurut dia, alokasi dana untuk kementerian di antaranya sebesar Rp46 triliun dan daerah Rp254 triliun.

”Kami sekarang mau rapat koordinasi bagaimana bisa mengawasi dan memastikan bahwa dana-dana itu memang untuk seluruh aktivitas pendidikan,” ujarnya.

Rapat koordinasi ini tidak hanya melibatkan KPK dan Kemdikbud. Tetapi juga beberapa kementerian lainnya seperti Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Agama hingga Badan Perencanaan Pembangunan Nasional.

Menteri Agama, Lukman Hakim Syaifuddin, juga telah tiba di KPK. Dia tiba terlebih dahulu sebelum Anies. “Mau mengadakan rapat di KPK. Masalah pendidikan,” ujar Lukman. (VIVAnews)

Penyanderaan Sydney Jadi Sorotan Dunia

Seorang sandera lari ke arah polisi di luar kafe Lindt. (Reuters)


Sydney - WARA - Insiden penyanderaan di Kafe Lindt, Sydney, Senin, 15 Desember 2014, dengan cepat menjadi berita utama berbagai media internasional. Pakar mengingatkan bahwa pelaku terorisme selalu menginginkan publikasi.

Pakar Kontra-Terorisme Nick O‘Brien, dalam wawancaranya dengan televisi Australia, ABC, mengatakan bahwa situasi keamanan saat ini telah membuat insiden Sydney, menjadi sebuah peristiwa yang memperoleh perhatian di seluruh dunia.

Lebih lanjut, dia mengatakan bahwa setiap pelaku terorisme selalu berusaha mencari publikasi. “Saya yakin saat dia (pelaku penyanderaan) masuk ke kafe itu pagi ini, dia telah memiliki rencana,” katanya.

”Bagian dari rencana itu adalah, mendapatkan publikasi di seluruh dunia untuk apa yang akan dia lakukan, dan dia telah sukses. Jadi orang itu telah mencapai apa yang dia ingin lakukan,” tambahnya.

Menurut Nick, jika yang terjadi hanya merupakan situasi penyanderaan, maka peristiwa itu tidak akan menjadi berita dunia. Tapi adanya bendera hitam, dan karena implikasi teroris, maka itu menjadi berita utama di seluruh dunia.

Sementara itu dilaporkan ada dua lagi sandera yang berhasil keluar dari dalam kafe. Keduanya disebut wanita, terlihat mengenakan celemek, yang mengindikasikan bahwa mereka adalah pekerja kafe tempat penyanderaan terjadi.

Sebelumnya dilaporkan tiga orang telah berhasil keluar, sehingga kini total sudah lima orang sandera yang dibebaskan. Tidak diketahui masih berapa banyak sandera yang masih ditahan di dalam kafe. Namun polisi mengatakan telah melakukan kontak dengan pelaku.

Tidak dijelaskan oleh polisi, namun pembebasan sandera diyakini merupakan hasil dari negosiasi antara polisi dan pelaku. (VIVAnews)

Jaksa Agung: Hukuman Mati Bandar Narkoba Harus Dilakukan



Jakarta - WARA - Jaksa Agung HM Prasetyo mengatakan hukuman mati harus dilakukan. Sebab, jika dilakukan saja masih terjadi kejahatan besar seperti narkoba atau pembunuhan berencana, apalagi tidak.

”Ini harus dicari solusi lain yang baik. Penjelasan (pesan) pada para pengguna dan potensi yang akan terpengaruh supaya hentikan konsumsi itu (narkoba),” kata Prasetyo di kantor Wakil Presiden, Jakarta, Senin, 15 Desember 2014.

Prasetyo menegaskan bahwa mereka yang bersalah sebagai bandar dan memenuhi syarat, pidana mati harus dilakukan. Meskipun dia mengakui ada pro kontra soal hak asasi manusia atau HAM.

”Mereka ini juga langgar HAM. Hak hidup orang terenggut olehý mereka,” katanya.

Saat ini di Indonesia, lanjut mantan politisi Partai Nasdem itu, sudah 4 juta orang menjadi korban penyalahgunaan narkoba. Sedangkan tahun depan diperkirakan mencapai 5 juta jiwa.

”Tiap hari 30 meninggal dunia karena narkoba. Pengguna ada aturan, pengedar dan bandar perlu diperlakukan lain, ancamannya hukuman mati itu. Hukum positif kita masih menyatakan hukuman tertinggi itu hukuman mati,” katanya lagi.

Prasetyo menambahkan, sejauh ini institusinya sudah melakukan dan menurunkan tim ke lapangan, di mana saja yang ditahan untuk menunggu eksekusi. Menurutnya, banyak yang harus disiapkan, termasuk kesiapan mental para terpidana itu, juga kesiapan apakah putusan mereka sudah berkekuatan hukum tetap atau belum.

”Kalau clear, baru ditentukan pelaksanaan di mana dan kapan (eksekusi),” ujarnya.

Terkait adanya informasi jumlah terpidana mati yang akan di eksekusi pada tahun ini adalah 5 lima orang, Prasetyo mengatakan bisa bertambah atau berkurang.

”Kalau semua hukum sudah terpenuhi, upaya sudah diajukan, dan putusan sudah tetap, maka kita lakukan. Itu aturan yang harus diikuti,” katanya.